Apocalypse

Posted: Januari 31, 2010 in kajian seni

Sebuah kajian sederhana puisi facebook

Catatan Awal

Saya tergelitik dengan istri saya, ketika beberapa bulan yang lalu berdiskusi soal puisi Apocalypse yang sempat di posting di FB-nya. Intinya, apa to, sebenarnya yang dimaksud dengan Apocalypse itu. Apakah Apocalypse ini selalu dihubungkan dengan “neraka” , “kiamat” atau “akhir zaman”. Tentu secara pemahaman umum selalu dipahami dalam terminologi tersebut.

Tetapi, saya ingin “sedikit” berpikir berbeda. Saya ingin mengkaji Apocalypse dalam dekontruksi-nya, yang menyentuh gaya tuturnya yang “realis”, bukan sekedar “absurd” dan menyangkut yang “akhir zaman” semata, tetapi lebih kepada gaya tutur dari sebuah “kedalaman” (deep level) atas pembacaan realitas dan relecture atas sebuah kontruksi “budaya” mengenai “akhir zaman” dalam semangat puisi populer.

Agar mempermudah apresiasi, sekali lagi saya minta maaf kepada teman-teman semua, saya memilih tiga penyair facebook yang jelas saya kenal, dekat dan pahami dan mengetahui apa yang digelisahkan. Dan, tentu mudah untuk ijin “menggarapinya” tanpa harus sungkan.

Apa itu sastra Apocalypse

Apocalypse berasal dari bahasa Yunani (αποκαλυψις -transliterasi: “Apokalypsis”), secara harafiahnya berarti menyingkap kain penutup atau cadar. Intinya dapat dimengerti sebagai bentuk peristiwa penyingkapan kepada orang-orang tertentu (terpilih) yang mendapatkan hak istimewa (wahyu) tentang sesuatu yang masih tersembunyi. Pada perkembangnnya, istilah ini sering digunakan untuk merujuk kepada paham-paham soal Armageddon atau akhir dunia.

Maka sastra Apocalypse sering dihubungkan dengan karya tulisan yang bersifat atau berciri pengungkapan peristiwa-peristiwa masa depan yang dibuat berdasarkan mimpi atau peng-lihatan khusus tentang akhir dunia, atau dalam bahasa religius lebih luas kepada akhir zaman. Untuk itu sastra ini lebih bersifat layaknya visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal. Cirinya yang eskaton (melampaui-akhir dari segala sesuatu) membuat gaya tuturnya cenderung “ngeri”, seakan memberikan ikatan luar biasa yang akut.

Sastra ini banyak menjadi ciri penanda di berbagai sastra kitab suci. Dalam berbagai penulisan kitab suci, sastra ini sering menggambarkan bagaimana para nabi menyatakan keadilan Tuhan atas yang apa yang terjadi di masa depan. Hal itu tentu sering menyangkut dimensi religius moral sebagai dimaksudkan untuk menunjukkan cara Tuhan berurusan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia. Unsur misterius, jelas tampak dalam setiap penggal kata dengan kegeriannya dan berbagai simbol-simbolnya, antara lain tampak paling jelas dalam penggunaan citra fantastis, sosok makhluk hidup yang berupa “binatang” aneh atau citra supra manusia atau simbol angka-angka.

Tetapi, jangan gegabah hanya mengecap sastra Apocalypse sebagai hal-hal yang menyangkut “eskaton” saja. Ada berbagai pemikiran yang lebih menghubungkan dimensi moral sosial kritis sebagai bentuk daya dorong sastra Apocalypse ini, yaitu sebagai kritik sosial atas kekuasaan dan daya “pengeling” atau pengingat, agar orang kembali kepada jalannya yang benar. Lihat saja, misalnya Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Rangga Warsita yang berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait, yang berisi kata-kata yang bertutur soal “zaman gila” atau zaman édan. Ada yang mengatakan, bahwa Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan, lalu ia menggeneralisir situasi itu sebagai zaman gila di mana terjadi krisis. Hal itu sebagai penegasannya atas kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi oleh para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi, perlakuan dan sikap moral yang tak senonoh serta berbagai perkembangan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan. Begitu juga misalnya, Ramalan Jayabaya, yang hingga saat ini belum diketahui siapa penulisnya, karena bersifat anonim. Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis pada masa Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal secara khusus di kalangan masyarakat Jawa, yang tertera dalam surat Centhini pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44 yang dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman Kalabendu. Ramalan ini pun disinyalir juga sebagai bentuk kriitik atas ketidak adilan yang terjadi dan sinyalemen-sinyalemen kolonial yang mulai merasuki tanah jawa saat itu.

Membaca sastra Apocalypse dalam dekontruksinya, apalagi populer, memang menarik, misalnya pada puisi tiga teman kita, sandra palupi, kuniawan yunianto dan jeppe indra. Ketigannya mempunyai relecture (pembacaan kembali) ikon Apocalypse yang berbeda-beda, sandra palupi dengan “personal Apocalypse” –nya dan setia melantun pada kekuatan yang menjadi ciri dan penanda sastra Apocalypse ini, sedangkan kurniawan yunianto dengan “mistis Apocalypse”, yang seakan merajut untaian oriental dan paduan magis, sedangkan jeppe indra memadukkan dalam gaya realis kritis, seakan menjadikan sebuah “realis Apocalypse”.

“Personal Apocalypse” puisi sandra palupi

Dalam puisinya “Apocalypse” karya sandra palupi, bait awal dituliskan seperti ini:

“Binatangbinatang itu ‘kan peluk para bunga berapi, anakku
serta hujan, dan asap, dan angin, dan debu bersekutu jadi batuan beku
tak berhati nurani
dalam gempurannya, semuamua manusia mati lenyap mencari pelukan petir
lalu langit perkasa itu mematung, tersapu badai gelap tak bermata”

Sebuah “penggambaran” muram yang bersifat “eskaton” terasa mengingatkan soal “hari penghakiman”. Gambaran ciri Apocalypse menjadi kuat dalam ungkapan-ungkapan alam dan kehancurannya. Namun pada bait selanjutnya,

“…tepat tengah malam nanti
Dia bisikkan itu padaku
tentang nasib kita,anakku
tunggulah sesaat lagi…”

Terasa setting dikembalikkannya dalam dimensi yang yang lebih personal (dialog seseorang dengan anaknya) sebagai refren, karena akan diulang dengan penuturan yang berbeda, tetapi tak kehilangan akar “eskaton”, sebuah visi, atau penyingkapan misteri yang hadir. Kata “Dia bisikkan” menjadi tanda dramatis akan Apocalypse sebagai sebuah pengalaman batin personal akan ciri visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal, sebagai penguat “orang-orang pilihan” (peng-lihatan supra).

“baiknya semuamua manusia percaya berlindung dalam perahu kudus
tinggal pergi derita pilu, kemunafikan dan ketidakadilan yang melangit
lagi dan lagi siksa kerongkongan
segala isi kantong duniamu tak ada guna kini, juga pekerjaan
kian buatmu tertindas. Bawa lekas anak istri keluarga buyut,
semuamua
karna seonggok nyawa lebih berarti dari serakan harta. Segeralah anakku,
jangan tunggu hingga segala air laut kesepian itu selimuti bumi
dan melumatnya dengan birahi.”

Sebuah seruan moral seakan ditekankan sebagai pengingat. Hal ini menjadi cirinya, sebagai bentuk dispensasionalisme atau seruan moral akan penghakiman atas dosa-dosa, sebuah seruan “eskaton” tentang kebijakan Tuhan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia.

“…bergegaslah, sebelum tegah malam nanti
Dia serukan kuat padaku
tentang nasib kita, anakku
teguhkan hati karna itu pasti…”

Bait-bait jenis diatas pun diulang dalam sentuhan yang berbeda, untuk memperkuat kekuatan “ramalan” atau visi. Bait-bait selanjutnya digiring pada untaian frase-frase yang bertutur, berdialog seakan mengingatkan jenis Apocalypse gaya konvensional. Gambaranya layaknya akhir zaman sebagai mana disebut dalam kitab-kitab Perjanjian Lama (Ke-Kristenan, pada Kitab Daniel dan Wahyu) mengenai penilaian orang-orang yang tak percaya, serta kebangkitan dan pemuliaan dari orang-orang yang diberi kebenaran di hadapan Tuhan dan mengenai nasib orang-orang benar. Namun, semua itu seakan dibaca ulang dalam bingkainya yang populer, yaitu dimensi personal realis, hubungan antara seseorang dengan anaknya, serta pembacaan yang dramatis akan sikap moral, perilaku dan “pangeling”. Hal itu terlihat dalam ungkapan-ungkapan yang seakan “diperlambat” dalam plot tuturnya.

bertekurlah pada lantai berpantul dosamu
tlah Dia tebus habis keegoisan manusia bumi. Kini gilirannya
aku, kau, semuamua ‘tuk serahkan tubuh berbalur jiwa.
Demi Dia.
Demi dunia.
Sebagai ganti Dia akan datang dan bertahta
dalam sinar berkilau-kilau cahaya,
bukankah kita ’kan ikut bersukacita kelak ?

…Hening. Tengah malam tadi lewat hari pagi
Dia membisu padaku
belum terjadi , anakku
belum ada tanda lagi…

tapi orangorang tak percaya itu keburu mencibir kaku, keburu berbuah resah
lalu para penjaga keburuburu mengepung kita, anakku…dengan perlengkapan
yang seharusnya ditanggalkan
mereka tak tahu, bumi sedang bersekutu dengan bulan-matahari-bintang,
berbisikbisik tentang perilaku mereka, lalu menunggu saat tepat untuk mengerjai mereka

…mengapa bukan tengah malam tadi kita binasa
atau Dia uji iman kita, anakku
nasib kita jelas pada torehan tanganNya
harus. Kita bersabar dan menunggu…

keyakinanku sekeras batu karang, tak ‘kan mengembun oleh kuatnya debur jantung
ini nubuatNya, dalam tali suara surgawi berbentuk aku
telah tertulis rapih korban raga kita dalam setiap helai bening rambutNya
kita akan berbahagia bersama, anakku. Aku dapat lihat dan rasakan sangat.
Tidakkah kalian juga ?!

…Lihat. Kini Dia datang dalam senyumNya
taburi warnawarni ribuan cahaya
datang selamatkan kita
tertawa menari karna kita cinta…

Mari berbaring rebah dalam senyum seluas langit, hingga harapan dan damai
berangkulan nyanyikan bait-bait kebebasan yang pelangi
hingga sayap-sayap tangan terulur menggapai jubahNya yang seputih angin
jangan peduli korban darah-tangis-raga kita yang berseberangan dengan keindahanNya

…Anakku,
lihat tanda itu…”

Akhir dari puisi ini pun ditarik oleh sang penulis dalam konteks kekinian yang realis dan dalam ujud metaforis yang lazim, yaitu tentang “akhir hayat”, sebuah gagasan Apocalypse personal.

“semua akan terjadi saat Dia menjemput kita
mari semuamua kita bersamasama terpejam
kelak jumpa lagi di suaka mega langit berumput hijau kemilau

rest in peace,
beristirahatlah dalam damai.”

Inilah gaya Apocalypse konvensional sandra palupi. Gaya seperti ini tentu “tak laku” dan “tak populer” jika dibingkai dengan “apa adanya” saja, tetapi sandra palupi mencoba dan memberanikan dirinya dengan menyusun “relecture” (pembacaan kembali) dengan konteks personal, pribadi, serta bertutur kekinian dalam gayanya yang sederhana, ngepop tanpa meninggalkan koridor konvensional Apocalypse.

“mistis Apocalypse” puisi kurniawan yunianto

Gaya puisi kurniawan yunianto yang berjudul “musim Panen Ke sekian” seperti tak ber- Apocalypse , tetapi jika dilihat secara seksama, gaya Apocalypse dikemasnya dalam sebuah pandangan oriental soal “reinkarnasi”.

“kau bakal memetik rembulan
yang bukankah buah dari perbincangan
di sebuah tempat yang hingga kini
masih saja kau rindukan sejuknya
taburan bulubulu gerimis itu
saat menyambut kita datang

Kata “kau bakal…” dan “di sebuah tempat…” membawa pada permenungan mistik yang mendalam. Gaya tutur visioner akan sebuah “ramalan”, atau mungkin peristiwa layaknya “de javu”.

sekarang biarlah kehidupan dan kematian
sengit berpilinan saling meniadakan
agar nanti kebenaran menjelma sebagai benih
yang layak dan memang seharusnya kutanamkan
pada tanah basah yang menghampar
di luas kesuburanmu

Kata “sekarang biarlah kehidupan dan kematian …sengit berpilinan saling meniadakan” menjadikan puisi ini menguat di nuansannya yang Apocalypse.

meski mungkin sedikit berlebihan
saat kutunjukkan sebuah kesungguhan
tapi tak ada yang marah kepada kita bukan
seperti kau bilang tuhanpun telah berkenan

maka kubiarkan kain putih menyelimuti
bagian tubuhmu yang rimbun yang subur
yang kelak melahirkan prajurit naga
sebelum akhirnya kuantar kau ke sebuah tempat
terjanjikan saat kau berkebaya ungu
saat aku menjadi petanimu

jauh berabad lalu”

Gaya tutur yang di balut kurniawan, membawa sebuah pemaknaan akan “masa depan” , soal “akhir dari zaman”, dalam hal ini akhir dari sebuah kehidupan seseorang. Walau tak bernada “eskaton” konvensional seperti puisi gaya sandra palupi diatas, namun ada dimensi yang bernada menyoal “hidup setelah kematian”. Kata “jauh berabad lalu” seakan menilik soal reinkarnasi. Jika dilihat dari bait sebelumnya yang mengatakan “maka kubiarkan kain putih menyelimuti………hinga bait …..terjanjikan saat kau berkebaya ungu…saat aku menjadi petanimu” , menjadi penegas sebuah dimensi selepas kematian dalam ungkapan “ sebuah tempat…… “, walau sepertinya ini bisa dihubungkan dalam tutur dramatis sang penulis mengenai “perkawinan”.

Tentu gaya kurniawan ini bisa saya katakan sebagai mistis Apocalypse, dimana ada dimensi kedalaman akan penyibakkan misteri dalam sebuah “peng-lihatan” apakah itu sang penulis alami atau memang itu menjadi gaya tutur bahasa saja. Pernah pada suatu kesempatan, puisi itu dihubungkan oleh kurniawan dengan peristiwa nyata hidupnya, pertemuan dengan seseorang yang “misterius” menyatakan dan menyoal “pertemuan sebelum kehidupan ini” (reinkarnasi), atau perjumpaannya dengan seorang sahabat yang sepertinya pernah dialami sebelumnya (de javu).

“realis Apocalypse” puisi jeppe indra

Puisi jeppe indra yang berjudul “desember”, mencoba menyusun relecture Apocalypse dalam bingkainya yang “realis”, jika kita tengok bait pertamannya,

“Tunggu sebentar di sini. Tunggu,
sampai kita benar-benar melihat mereka
mengendarai waktu
dalam gulita cahaya.”

Kata-kata yang dirangkai sepertinya mengajak pembacanya selayaknya seorang “vision”, ada unsur “ramalan”, yang bersifat “antisipatif – futuristik”, bahwa akan ada kejadian peristiwa.

Semestinya, kau tahu
kita pun tak di sini
semestinya kita di sana bersama mereka
nentukan waktu.

Lihat. Lihat!

Bait diatas, layaknya ada himbauan dari “sang vision”, untuk terlibat dan mengantisipasi kejadian itu. Seruan kata “lihat.Lihat!..” menjadi titik, bagaimana “sang vision” seakan mengajak memberikan “pembuktian” atas “penglihatannya”, pada bait selanjutnya ,

Dari lorong-lorong pabrik mereka datang
dari kampus-kampus bisu mereka nentang
dari pasar-pasar becek mereka lantang
dari kampung-kampung miskin mereka nyerang.

Jadi gelombang. Jadi gelombang!

Ramalan “sang vision” terjadi, peristiwa terasa disajikan terurai begitu rupa. Sebuah gerakan “massa” yang begitu masif digambarkan. Tentu ini bukan gambaran seperti sajak Apocalypse konvensional dengan mencekam seperti “hari penghakiman” atau “eskaton”, tetapi, mungkin dengan “nada dasar” yang sama oleh penulis diletakkan dalam kerangka realisasi gerakan massa saat itu (peringatan hari anti korupsi). Atau, jika dibaca ulang, mungkin diletakan untuk menyindir (satire) pernyataan presiden saat itu yang merasa ada “ketakutan” terhadap gerakan massa yang lebih besar. Bait-bait selanjutnya, menjadi sesuatu yang berbeda

Seharusnya kita tak di sini
ngumpet di gorong-gorong kemapanan
pembeli waktu lalu lupa.
Lupa pada waktu –

Seruan moral kembali dilontarkan, terasa menjadi “pengeling”. Inilah ciri dari sastra Apocalypse yang selalu memberikan himbauan moral melalui pola-pola antisipasi akan “bahaya” masa depan. Bait kemudian, bertutur berbeda

ada yang diculik belum kembali
ada yang sakit tak terobati
ada yang korupsi tak ditangkapi
ada tikus got – lintah darat di demokrasi!

Dan kita masih di sini?

Penulis merangkai ciri Apocalypse dalam kaitan sejarah masa lalu. Memang dalam kerangka sastra Apocalypse, sering sejarah masa lalu dimasukkan dalam visi, untuk memberikan konteks sejarah yang tepat untuk prediksi (ramalan) atau penguat pesan, atau bahkan untuk menyindir kepentingan “kekuasaan” tertentu. Pertanyaan,.. “ Dan kita masih di sini?..” menjadi “pangeling” moral. Tentu, akhirnya gaya Apocalypse dalam puisi jeppe indra ini menjadi sangat berbeda dan dekontruktif, terasa ada bentuk kolaboratif sekaligus pemaknaan akan realitas sosial ke dalam bentuk-betuk sanggahan “eskaton” yang tak harus untuk “kiamat” tetapi untuk memberikan “pengeling”, seperti layaknya kritik Rangga Warsita dan Jangka Jayabaya dalam konteksnya.

purwono nugroho adhi,
Penikmat kerja budaya

Fisafati Kill Bill

Posted: Desember 5, 2009 in kajian seni

sebuah catatan lepas apresiatif film “Kill Bill”, karya Quentin Tarantino


Ambil pisaumu !
tembakan senapanmu !
ketika ada tangis dibaliknya,
ada satu lara yang tak tertahan,
dibalik kisah tragis semua itu bermula,
walaupun sirna semua,
percayalah ada yang tak sirna,
sakitmu !!!

Jika kita sadari, kehidupan dan interaksi sosial selalu dipandang begitu kompleks dan rumit. Sering kali dalam struktur sosial lahir berbagai pengalaman individu yang mengalami ketersingkiran, ketertidasan, kekecewaan dan perendahan (low-sefl esteem). Konflik atas kekuasaan ini akan melahirkan luka-luka narsistis yang begitu mendalam. Maka ketika seseorang mengalami ketertekanan yang begitu panjang, ia akan merekontruksi pengalamannya tersebut dalam upaya penyesuaian diri untuk meraih harga dirinya dengan berbagai kecenderungan pembetukan maladaptive group, yaitu organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok garis keras. Hal itu didasari adanya akumulasi kekecewaan kolektif yang sudah menjadi bagian dari hidup sosial suatu kelompok masyarakat, baik bersifat kebutuhan hidup (basic need) atau kontruksi pandangan. Kekecewaan ini biasanya akan memicu sebuah kontruksi cara berpikir kolektif, sebagai rangkaian common atau perasaan senasib yang akan melahirkan rangkaian efek domino secara terus menerus.

Kekerasan pun lahir dari pribadi dan komunitas yang mengalami narsistis personal dan terakumulasi secara sosial menjadi sebuah kerangka pikir mengenai mekanisme korban (victim). Maka kekerasan yang terjadi dikaitkan secara mendasar pengalaman sebagai korban yang harus merekontruksi upaya-upaya vendeta atau pembalas dendaman secara habis-habisan (zero sum) . Upaya ini menjadi roda yang tak henti-hentinya untuk berputar membuat ritus-ritus kekerasan tanpa akhir. Pilihan politis menjadi bersifat sangat narsistis sebagai representasi kekecewaan. Pilihan politis pun lahir dari berbagai sikap frustasi yang berkepanjangan, yang akan melahirkan agresi-agresi dan pemberontakan-pemberontakan yang tak mendasar.

Implikasi dari hal ini akan melahirkan sebuah simbol-simbol perlawanan politis yang terkait dengan pilihan untuk mengupayakan banalitas dan penghancuran habis-habisan (zero sum). Maka kepentingan politisnya hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa banalitas, perlawanan yang hanya mementingkan kontruksi narsitis sebagai korban. Pilihan politis pun berubah menjadi egoisme pengorbanan, dimana tiada lagi empati terhadap kelompok lain, selain kepentingan untuk menghancurkannya. Kontruksinya menjadi daya pembenaran-pembenaran sebagai korban, untuk melegitimasi gerakan dan pilihan politis yang dilakukan

dikembangkan dari berbagai sumber