Catatan singkat pembelajaran kontekstual, belajar dari Film Freedom Writers
Sekilas tentang film Freedom Writers
Film Freedom Writers adalah film yang berkisah mengenai perjuangan seorang guru dalam memotivasi siswanya belajar. Film ini diadaptasi dari kisah nyata Erin Gruwell seorang guru Bahasa Inggris yang mengajar di sebuah ruang yang dikenal ruang 203. Ruang 203 ini merupakan ruang yang digunakan untuk proyek pendidikan anak-anak remaja yang terlibat dalam pergaulan geng dan kekerasan. Pada awalnya, banyak tantangan dan halangan yang menyulitkan Erin Gruwell mengajak siswanya belajar. Tetapi dari berbagai cara, kreatifitas dan situasi, akhirnya Erin Gruwell mampu mengajak siswanya belajar. Pembelajarannya bersifat inspiratif, berpijak dari pengalaman sosial dan psikologis para siswanya yang berlatar belakang multi ras, geng, dan situasi sosial yang keras dan miskin.
Puncak keberhasilan Erin Gruwell adalah ketika dirinya bersama siswanya mampu mengusahakan sikap-sikap baru dalam hidup mereka. Erin Gruwell menjadi salah satu inspirasi bagi para siswanya menempuh pembelajaran yang lebih tinggi. Akhir dari pembelajaran mereka bersama Erin Gruwell ialah kumpulan kisah-kisah hidup mereka,yang mereka kumpulkan menjadi satu buku yang diberi judul Freedom Writers.
Tahap-tahap Erin Gruwell dalam mengolah pembelajaran yang kontekstual
a. Mengenal situasi hidup siswanya
Erin Gruwell pada awalnya bingung, bagaimana pembelajaran dimulai. Ia memulai dari apa yang biasanya, tetapi hal itu membuat pembelajaran menjadi tak terkendali menjadi ajang baku hantam. Ia mencoba dengan berkenalan dan mengenal nama siswanya tetapi itu hanya menjadi permulaan yang tak berkesan. Ia juga mencoba bertitik tolak dari apa yang populer dikenal siswanya, yaitu syair-syair dari musik rap, tetapi juga belum memotivasi. Ia mencoba membuat sosiometri atas kelasnya, dengan membuat perpindahan tempat duduk agar ada proses interaksi yang berbeda, tetapi juga belum mampu memotivasi. Ketika ia mulai membaca apa yang menjadi kegalauan dan kecemasan para siswanya berdasarkan bantahan, diary yang ditulis, pada saat itulah Erin Gruwell menemukan titik tolak pembelajarannya, yaitu melalui situasi hidup siswanya.
b. Mengajak siswanya mengungkapkan segala pengalaman hidupnya
1. Studi kasus dari konflik antar teman mengenai gambar stereotipe negro.
Pada suatu kesempatan, Erin Gruwell mendapati kasus yang terjadi ketika proses pembelajarannya. Kasusnya, ada seorang dari mereka menggambar wajah yang bersifat stereotipe pada temannya yang negro. Erin Gruwell menggunakan kasus ini untuk memulai mengangkat kecemasan yang terjadi diantara mereka. Gambar itu digunakan menjadi titik tolak, bagaimana masalah dan pengalaman yang terjadi diantara para siswanya dicoba untuk diperdalam.
2. Mengkerucutkan tema pokok pada satu tema tertentu: peristiwa holocaust
Ketika Erin Gruwell mengajak siswanya memperdalam kecemasan-kecemasan hidup mereka, muncul kata holocaust. Kata itu menjadi pertanyaan salah satu siswanya. Kata itu belum diketahui oleh siswanya, maka bertitik tolak dari kata itu, Erin Gruwell mengajak siswanya memahami lebih lanjut apa arti kata holocaust yang disesuaikan dengan pengalaman para siswanya. Kata holocaust itu kemudian diletakkan dalam konteks kecemasan mereka mengenai kehidupan keras para geng yang menjadi keprihatinan hidupnya.
3. Menggunakan permainan untuk menggali pengalaman hidup.
Erin Gruwell mempergunakan permainan dengan membuat garis untuk membagi dua sisi. Melalui garis itu, Erin Gruwell bertanya pada siswanya, dari apa yang sederhana, populer, kontekstual hingga pada suatu pengalaman yang lebih dalam. Kepentingan dari permainan itu, Erin Gruwell mengajak siswanya mempersamakan konteks ruang hidup mereka masing-masing dengan ruang hidup antar mereka sendiri juga. Bagaimana mereka juga mempunyai pengalaman-pengalaman yang sama, yang dapat membuat mereka mempunyai keterkaitan antar yang lainnya.
4. Meminta siswanya untuk menuliskan segala pengalaman hidupnya ke dalam bentuk portofolio kerja yang bersifat populer, yaitu penulisan diary.
Erin Gruwell meminta siswanya untuk menuliskan segala kecemasan, pengalaman dan kegalauan mereka ke dalam bentuk diary. Apa yang ditulis menjadi titik tolak yang penting bagi Erin Gruwell untuk mengembangkan pembelajarannya. Kecemasan para siswanya tertuang begitu banyak dalam diary yang dituliskan. Pengalaman, kisah, bagaimana para siswanya hidup dalam dunia yang keras, tertuangkan begitu rupa dalam diary. Hal inilah yang membuat Erin Gruwell terus menitik beratkan seluruh prosesnya dalam kontekstualitas hidup para siswanya.
5. Pesta sederhana untuk perubahan dengan saling berbagi pengalaman hidup.
Erin Gruwell pada waktu-waktu tertentu menyelenggarakan pesta sederhana. Pesta itu dinamakan toast for change, para siswanya diminta untuk mengambil minuman yang disediakan, lalu mengambil buku yang akan dipergunakan selama satu semester, lalu mensharingkan apa yang menjadi pengalamannya untuk wujud perubahan atas hidup mereka. Pesta tersebut digunakan untuk membuka maupun mengevaluasi proses pembelajaran mereka.
c. Mengajak siswanya bereksplorasi mengenal khasanah yang lebih luas, lebih inspiratif dan mengembangkan diri mereka
1. Kunjungan ke Museum kurban Holocaust
Tema yang pernah dibahas Erin Gruwell bersama dengan siswanya pada kesempatan tertentu, yaitu mengenai holocaust semakin diperdalam dan dikembangkan. Erin Gruwell mengajak siswanya mengunjungi museum khusus kurban holocaust. Mereka diajak untuk bereksplorasi di luar ruang kelas, melihat dan berwacana pada suatu yang tidak terbatas pada sekat-seklat formalitas sekolah. Kunjungan ke museum itu bagi Erin Gruwell menjadi penting untuk para siswanya, karena mampu memberikan berbagi masukan, pengalaman, frame of reference yang kaya bagi kontekstualitas hidup mereka.
2. Bertemu, berdiskusi, saling berbagi dengan kurban Holocoust
Tema holocuast ini tidak hanya diperdalam dan dikembangkan dengan kunjungan ke museum, tetapi juga dengan ajakan Erin Gruwell mempertemukan para siswanya dengan para saksi dan kurban peristiwa holocaust tersebut. Pertemuan itu membawa siswanya menemukan banyak mutiara berharga bagi hidup mereka. Para saksi dan kurban yang bertemu dengan siswa, mengantar pada perjumpaan dengan wajah-wajah yang langsung menuturkan kisah-kisah holocaust itu.
3. Membaca buku diary Anne Frank
Erin Gruwell meminta para siswanya untuk membaca buku diary Anne Frank. Buku ini berkisah tentang pengalaman hidup Anne Frank yang dikembangkan dari tulisan-tulisan diarynya. Buku itu semakin memperkaya para siswanya memahami konteks holocaust dengan konteks hidup mereka yang keras dan penuh dengan kecemasan-kecemasan atas kekerasan.
4. Mengundang saksi Holocaust, dari saksi yang menemai Anne frank
Tema yang dibahas semakin dipertajam dengan sebuah acara layaknya seminar kecil, dimana para siswa Erin Gruwell mengundang salah seorang saksi mata yang menyelamatkan Anne Frank, salah satu seorang kurban holocaust. Saksi itu bernama Miep Gies, yang diundang secara khusus berbicara tentang kisah Anne Frank. Pertemuan itu semakin memperkaya, mempertajam pengalaman, dan memberikan makna baru bagi mereka. Pilihan mengundang Miep Gies ini berdasarkan atas buku biografi diary dari tulisan Anne Frank yang mereka baca dalam kurun waktu tertentu.
d. Membuat suatu proyek bersama untuk mengeskpresikan segala hasil pemahaman dan pemaknaan baru.
1. Menulis surat kepada salah seorang saksi (Miep Gies) yang menemani Anne Frank sewaktu masih hidup.
Erin Gruwell meminta siswanya untuk menuliskan surat kepada Miep Gies. Hal ini dibuat sebagai muara atas tugas para siswanya membaca kisah biografi Anne Frank. Refleksi, tanggapan, dan kesan diwujudkan dalam bentuk surat. Surat dibuat sebagai muara refleksi yang bersifat lebih bebas dan lebih mampu mewakili konteks hidup mereka. Surat itu, kemudian dikumpulkan oleh Erin Gruwell dan diberi pengantar untuk dikirimkan langsung kepada Miep Gies.
2. Pencarian dana untuk mengundang saksi.
Mengundang Miep Gies di kelas 203 yang diajar Erin Gruwell pasti membutuhkan dana, karena Miep Gies tinggal di tempat yang cukup jauh. Maka Erin Gruwell bersama dengan para siswanya membuat suatu proyek sederhana untuk mengumpulkan dana dengan membuat basar atau pasar murah. Usaha ini dilakukan sebagai buah dan bentuk aksi atas proses pembelajaran mereka.
3. Membuat buku yang diberi judul Freedom Writers
Muara akhir dari proses pembelajaran Erin Gruwell di kelas 203 diwujudkan dengan membuat suatu buku kumpulan diary yang telah ditulis para siswanya. Erin Gruwell bekerjasama dengan stageholders terkait meminta bantuan menyediakan seperangkat komputer yang bisa digunakan para siswanya menuliskan kembali diary untuk menjadi suatu buku. Erin Gruwell bersama para siswanya mengumpulkan tulisan-tulisan diary mereka, yang kemudian disatukan dan diberi judul Freedom Writers. Judul tersebut diambil berdasarkan pengalaman dan kontekstualitas hidup mereka.
Konsep pembelajaran Kontekstual
Konsep belajar yang membantu guru/pendamping mengkaitkan antara materi yang diajarkan dan dipelajari dengan situasi hidup siswa, baik lingkungan dimana siswa tinggal hingga konteks masyarakat yang lebih luas. Diharapkan, dengan konsep itu, siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
purwono nugroho adhi, 2008










Terima kasih resensinya. Film ini memang sangat menarik karena saya juga pengagum kisah Anna Frank dan Miep Gies.
terimakasih, artikel ini sangat membantu saya menyelesaikan skripsi saya tentang freedom writers
Luar biasa mas Refleksinya sangat kateketis.Semoga menjadi Berkat bagi Katekis Guru Agama maupun pejuang Pendidikan kaum Tertindas.Semoga.
Mas Pur. Anna Frank perna dikupas tuntas waktu Romo Heryatno memberi retret Katekis Se-Bandung di Linggarjati dan hasilnya adalah luar Biasa.Semangat terus untuk bangkit damn bergerak.GBU