Catatan Pementasan Air Kata-Kata

Posted: Maret 27, 2008 in kajian seni

Peristiwa Teater dan Puisi Kehidupan;

antara kata, gerak dan ruang ekspresi.

Sebuah Catatan Lepas Pementasan Teater[1]:

musikalisasi dan visualisasi Air Kata-Kata, karya GP. Sindhunata

Prolog

Teater Kopimoka Yogyakarta bekerjasama dengan Komunitas S@tu mengusung sebuah pementasan teater yang mengemas bentuk visualisasi dan musikalisasi kumpulan puisi Air Kata-Kata Karya GP. Sindhunata. Pementasan ini mengacu pada konsep “mosaik” antara seni berpuisi dengan konsep-konsep teater modern. Plot pementasan dikembangkan dalam bentuknya yang beralur linier namun sekaligus komplementer. Pementasan ditunjukkan dalam kemasannya yang progresif, sehingga bermaksud ingin “mengeja” secara baru puisi yang tidak verbalistis melainkan simbolistis. Pementasan ini juga dimaksudkan untuk aktualisasi dan eksperimentasi sebuah catatan apresiatif seni berpuisi dan berteater.

Ketika menegok kembali seni teater dan puisi yang selalu sarat dengan bahasa kehidupan, pementasan ini seakan juga ingin merajut kembali bahasa kehidupan itu.Kisah kehidupan tidak harus dituturkan secara verbal, melainkan juga lateral. Dalam hal ini teater dan puisi dapat menjadi media yang memampukan kisah semakin terasa bertutur dengan maknanya. Tuturnya pun semakin kaya dengan berbagai simbol, ungkapan, peristiwa yang terajut utuh dalam kesatuan locusnya yang sering disebut sebagai peristiwa teater. Idealisasi pementasan ini ingin menjadikan peristiwa teater menjadi pesta kolaboratif antara puisi dengan “kata” serta “gerak” dan “dinamika pemagungan” sebagai ajangnya.

Ontologi kehidupan dalam rima puisi yang teatrikal

Puisi yang diambil dalam pementasan ini berisi syair-syair yang tidak asing di kalangan masyarakat kecil, seperti ungkapan ilir-ilir, pring reketek, zaman edan, ciwalakaci dan berbagai ungkapan-ungkapan ikon budaya yang sudah ada di masyarakat. Karena sifatnya yang mbeling, dan penuh dengan ungkapan makna, maka puisi ini dipilih untuk divisualisasikan dan dimusikalisasikan secara kreatif ke dalam gagasan yang bersifat garda depan. Ada empat puisi yang dipilih, yaitu Zaman Edan, Ilir-Ilir, Ngelmu Pring dan Ciwalakaci.

Pemilihan empat puisi diatas tentu saja bukan karena sekedar kebetulan, melainkan ada sebuah gagasan yang melatarbelakanginya. Gagasannya terletak pada ontologi kehidupan, sebuah daur kehidupan manusia yang selalu berproses dari “kebendaan” menuju kepada pengosongan diri total. Prosesnya, seperti budaya ketimuran yang meramu pandangan mistik tentang fenomena dunia. Maka, tepatlah bidikannya ketika struktur puisi tersebut mengalun dalam rima tata panggung teater seperti layaknya struktur CANDI[2]. Candi merupakan sebuah representasi nyata sebuah kisah pencarian manusia akan makna hidupnya, yaitu pencariannya terhadap kisah kehidupan. Candi melambangkan representasi karya dimana manusia mencari pusat hidupnya di dunia ini, yaitu pusat nilai paling tinggi. Candi merupakan simbol dari karya manusia mencari langit. Dalam pengalaman religius, biasanya terungkap berbagai ekspresi-ekspresi manusia akan pengalaman kehadiran Tuhan dan kehadiran manusia sebagai subyek atas karyanya. Hal itu disimbolkan dalam candi, candi menjadi “pensimbolan” benda-benda karya cipta manusia yang bersifat religius. Salah satunya adalah upaya “vertikalisasi” bagunan candi sebagai lambang pencarian manusia akan Tuhan dan lambang bersatunya manusia sebagai mikro kosmos bersatu dengan Tuhan yang makro kosmos. Bangunan stupa dan bangunan candi yang menjulang, merupakan pencerminan serah total manusia untuk menuju pada Tuhan yang maha tinggi. Maka memang pengalaman manusia mengenai keindahan-estetika tersebut merupakan pengalaman yang sama dengan pengalaman religius. Pengalaman keindahan merupakan pengalaman yang bersifat “intra mundan”, yaitu pengalaman titik ambang, pengalaman yang melampaui pengalaman jasmani kepada pengalaman yang bersifat rohani.

Jika memandang struktur bangunan candi, di didalamnya ada banyak tutur tentang mosaik proses pencarian manusia akan langit. Pada candi Hindu, secara vertikal candi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Ketiga struktur vertikal tersebut melambangkan tiga tingkatan dunia, yaitu bhurloka, bhuwarloka dan swarloka. Bhurloka melambangkan kehidupan dunia manusia yang didalamnya diwarnai berbagai nafsu dan keinginan badaniah. Sedangkan bhuwarloka adalah tubuh candi, diamana dilambangkan dunia keadaan manusia telah disucikan. Akhirnya swarloka, melambangkan dunia atas, dimana manusia telah menemui tahap akhir mengenai keabadian dan kesucian tertinggi, tempat hidup para dewa. Hal itu juga dapat dilihat dengan struktur candi Budha, dengan kamadhatu, rupadhatu dan arupadathu, yang juga melambangkan tahap-tahap pencarian manusia akan langit, dari dunia kamadathu (nafsu-keinginan badaniah), rupadhatu (pencarian jati diri-kebijaksanaan) dan diakhiri dengan arupadhatu (keheningan dan pengosongan diri-totalitas pencarian manusia sampai moksa-kesempurnaan hidup). Di dalam candi termuat relief, yang merupakan representasi suatu tutur kisah tentang kebijaksanaan hidup. Di dalam relief termuat adanya cerita tentang kisah manusia berhadapan dengan hidupnya, kisah manusia mencari makna atas hidupnya yang terbatas. Arca yang menghiasi candi pun menuturkan akan upaya manusia membangun relasi dengan pusat nilai paling tinggi yaitu ; dalam Hindu tentang dewa-dewa, dalam Budha dengan penggambaran Sang Budha.

Stuktur bangunan candi menjadi inspirasi sebuah struktur peristiwa teater yang dihadirkan. Zaman Edan, Ilir-Ilir, Ngelmu Pring dan Ciwalakaci yang mewakili kutipan naskah dari Puisi mbeling Sindhunata menjadi babak yang ingin mengingatkan kepada filosofis kehidupan, dari apa yang profan menuju yang sakral, apa yang material menuju yang spiritual, bhurloka, bhuwarloka dan swarloka, kamadathu (nafsu-keinginan badaniah), rupadhatu (pencarian jati diri-kebijaksanaan) dan diakhiri dengan arupadhatu (keheningan dan pengosongan diri-totalitas pencarian manusia sampai moksa-kesempurnaan hidup).

Post-modernitas dan rajutan seni teater

Pementasan teater ini juga terisnpirasi pada gagasan style pop culture televisi sebagai ciri yang diupayakan menjaga segi dramatiknya[3]. Sehingga pertunjukan mengalir secara penuh tanpa alur kronologis, melainkan dengan alur flash yang terpisah, berdiri sendiri serta bersejajar dengan kandungan maknanya yang parsial namun tidak terdiferensiasi atau terpolarisasi tetap ada awal dan puncak. Gagasan ini akhirnya melebarkan makna pemilihan empat puisi, yaitu Zaman Edan, Ilir-Ilir, Ngelmu Pring dan Ciwalakaci kedalam gagasan post-modernitas.

Kecemasan, kerinduan, kepasrahan, kegembiraan, tangis, keceriaan menjadi ruang bagi kisah lampau dengan kekinian setiap orang. Pementasan ini akhirnya menjadi durasi representasi potret “ruang” dimana setiap orang sebenarnya mencari “tempat”, dimana mereka dapat mencari “Yang tinggi”, ataupun mungkin sebaliknya mencari “yang lain” bagi hidupnya. Hidup terfragmentasi pada ruang-ruang kegalauan.

Zaman edan, mengajak penonton pada refleksi post-modernitas yang begitu sarat dengan kegalauan[4]. Dari isu magis, korupsi, kekerasan hingga berbagai disorientasi kehidupan. Lantunan puisi zaman edan menjadi waktu yang dramatis merajut berbagai sketsa kehidupan di balik pertanyaan manusia. Jawaban pun terasa gundah, tetapi harapan muncul dengan senandung Ilir-ilir, gagasan mulai disatukan kembali kepada sebuah nilai-nilai kebersamaan. Post-modernitas semakin terasa ketika ruang-ruang itu harus dikonfrontasikan kedalam filosofis alam, mengenai ngelmu pring, dari kegundahan,kebersamaan menuju kepada cita-cita dan ajaran. Namun dipuncak itu, sebuah pertanyaaan besar mengemuka ketika semua dimuarakan kepada kekosongan sejati, ciwalakaci. Walaupun diam dan tak ada aktivitas dinamika yang masif, tetapi tetap menorehkan makna. Muara ciwalakaci menjadi sebuah interaksi ruang antara ruang keramaian, kecemasan, kegembiraan, kesedihan dengan ruang-ruang “kosong” yang harus diisi dengan serajut makna. Interaksi itu tak tampak, namun bergejolak di setiap sisi personal, dari yang muda dan tua, dari yang berseragam dan aneka, dari yang dekat dan jauh, dari yang singkat dan lama, semuanya merajut makna untuk sebuah pertemuan keheningan dan keramaian.

Hal itulah, yang menjadi alur post-modernitas [5] menjadi semakin terasa, maka, pementasan mengajak untuk memandang segala klaim tentang realitas sosial dan kehidupan sebagai konstruksi semiotis, artifisial dan ideologi[6]. Makna-makna puisi yang diangkat, mensyaratkan segala hal, dipandang bukanlah selalu yang bersifat obyektif pada suatu kebenaran, namun bersifat subyektif. Struktur yang dipaparkan seakan mengacu kepada berbagai macam realitas, dalam hal ini memungkinkan kemajemukkan pandangan. Nilai yang ditawarkan bukanlah sesuatu yang otonom dan tertutup atau absolut, tetapi merupakan sesuatu yang tentatif dan mengalami perubahan yang bersifat relasional dan dinamis. Pemahaman antar keempat puisipun tidak dikotomis atau biner, melainkan merupakan jalinan yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya dalam konstruksi yang utuh, dilihat atau dipandang sebagai keutuhan dan holistik. Gagasan yang ditawarkan mengacu kepada penghargaan terhadap segala hal dan berbagai wacana yang lebih luas, bersifat lebih terbuka akan segala kemungkinan kebenaran.

Progresifitas dalam seni pertunjukan

Sentuhan yang diacu dalam pementasan “Air Kata-Kata” adalah konsep progresifitas. Sehingga pementasan mencoba ingin mengajak penonton tidak terpaku pada konvensionalisme berkesenian. Senada dengan gagasan avantgardist pementasan ini, unsur kolaboratif, kolasi serta interkoneksifikasi menjadi “roh” nya. Sehingga “Air Kata-Kata” yang bersifat puitis ditunjukkan dalam kemasannya yang progresif, mengalir seperti pop culture televisi tetapi juga pertunjukan yang ingin mengangkat makna.

Dewasa ini, perkembangan seni menampakkan citra yang berbeda dan progresif. Progresifitas itu tampak dari munculnya generasi “hibrida” dalam karya seni. Hal itu, dilatarbelakangi oleh berkembangnya gerakan Garda Depan (Avant garde) dalam segala proses berkesenian. Cirinya yang progresif dan mereduksi segala batas-batas formal berkesenian, membawa seni menjadi melintas batas tatanan. Seni apapun bentuknya, menjadi meluas, kolaboratif, heteroistik. Bentuk perlawanan terhadap tatanan dan kolaboratif ini telah memunculkan berbagai kecenderungan seni yang kontemporer hingga sulit untuk digolong-golongkan kedalam formalisasi model.

Seni berpuisipun menampakkan kegelisahannya hingga harus bersenyawa dengan lintas seni teater dan tari[7]. Gagasan pementasan musikalisasi dan visualisasi puisi Air Kata-Kata ini menjadi salah satu inspirasi dalam jejak berkesenian, ketika koreografi tari dari Anter dan musik perkusi Kartiman dalam persenyawaannya dengan mantra-mantra puisi menjadi bidang pertunjukan. Tarian bergerak dari gabungan tarian jenaka kepada gerak-gerak indah untuk membahasakan kembali makna puisi kedalam peristiwa teater. Musik perkusi bertabuh mengiringi mantra-mantra yang seakan hendak menjadi ensemble suara agar menuturkan rima puisi secara makna[8].

Pertunjukan visualisasi dan musikalisasi puisi yang tergabung dalam kemasan teatrikal terbilang masih jarang. Maka pementasan Air Kata-kata menjadi suatu hal yang kompetitif sebagai ruang eksperimentasi. Kompetitifnya bukan terletak pada kemasannya, melainkan ketika puisi dibacakan dalam bahasa yang kolaboratif dengan multi task performance, dari bahasa irama-musikal, gerak, kata dan suasana. Dalam hal ini yang menjadi sangat penting untuk diperhatikan, adalah ide dasar, bagaimana kata dalam puisi dilagukan dalam bahasa yang berbeda, dengan maknanya yang lateral. Ruangnya pun bukan terbatas pada verbal, melainkan adanya komposisi gerak, irama dan suasana.

Epilog: Seni Pertunjukan sebagai sarana edukasi

Seni pertunjukan merupakan ruang yang mempunyai daya ikat komunikatif-apresiatif bagi penikmatnya. Ruang tersebut sangat kompleks dan kaya dengan berbagai ragam proses internalisasi. Internalisasi itu tercipta dengan sangat kuat bagi penikmatnya, ketika dirinya merasakan unsur keindahan, hiburan, nilai serta makna yang mencecap sumber-sumber komunikasi baik inderawi maupun kemampuan daya pikirnya.

Ketika orang menikmati suatu karya/kerja seni (work art) yang melebur menjadi gagasan performance, orang diajak secara bebas, untuk melihat, mendengar, merasakan, dan berpikir mengenai stimulus-stimulus yang merasuk melalui membran indera untuk diinternalisasi, dikontruksi secara baru bagi dirinya agar bermakna. Makna yang didapat pasti tidak bersifat sementara, namun mampu membuat impuls kesan yang tertanam dalam memori dengan bentuknya yang lebih kaya. Jika internalisasi makna terjadi, maka apa yang menjadi performa telah dikontruksi secara baru oleh seseorang yang berdampak perkembangan atau edukatif. Seni pertunjukan mempunyai “bahasa” yang mengungkap banyak ragam kemampuan daya manusia secara utuh. Daya itu meliputi, daya imajinasi, logika berpikir, dan kemampuan semiotik, menangkap simbol atau lambang yang tidak hanya secara verbalistis, namun bersifat lateral menjangkau ruang-ruang daya kreatifitas.

Apa yang diharapkan dari pementasan Air kata-Kata ini, salah satu adalah dampak edukatif. Dampak edukatifnya tidak hanya terbatas pada aspek apresiasinya, tetapi juga segi sentuhan himbauan pesannya. Diharapkan melalui bentuk pemetasan seperti ini, khasanah apresiasi seni bagi masyarakat luas semakin diperkaya. Pentingnya berapresiasi pada karya seni perlu ditunjukkan melalui sebuah karya seni, karena realitas masyarakat juga terungkap dan terepresentasi melalui karya seni pula. Dengan demikian melalui berkesenian dan “membaca” karya seni, ada usaha menggali makna kehidupan dan realitas sosial.

purwono nugroho adhi

penikmat kerja seni


[1] Catatan lepas ini dikembangkan berdasarkan perjalanan curah pendapat-diskusi pra-produksi dan penyusunan konsep dasar serta proposal, antara FX. Trimulyono, Ign. Karyono dan penulis.

[2] Ign. Karyono, selaku sutradara, pernah mengungkapkan ide gagasan struktur candi ini sebagai dasar pementasan. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan marketable seni grafis dan rupa yang berlangsung pada kurun waktu bulan juni-juli di yogyakarta. Gagasan ini dikembangkan penulis dengan beberapa sumber kajian.

[3] FX. Tri Mulyono, penulis naskah, pernah mengungkapkan gagasan ini untuk mengembangkan sudut konsep pementasan, sebagai eksperimentasi. Tegus Budiarto, SJ, menuliskan dalam kuratornya dalam kacamata Dream Play teater.

[4] Gagasan yang menjadi diskusi paling hangat selama pra-produksi, bagaimana mengangkat makna-makna puisi yang dipilih kedalam isu-isu kontemporer dewasa ini.

[5] Bdk. I Bambang Sugiaharto. (2002) Foucault dan Postmodernisme, dalam majalah Basis N0 01-02, Th Ke 51, Januari –Februari, hal 52.

[6] Dalam suatu kesempatan diskusi, ada gagasan, bahwa pementasan bukan untuk menggurui penonton, tetapi lebih sebagai rajutan nilai-nilai inter-subyektif yang hendaknya direfleksikan secara dewasa dan apresiatif.

[7] Pada tahun 2007 di Kedai Kebun Forum, pernah dikalobarasikan pementasan pembacaan puisi dengan musik hip hop. Maka pemikiran-pemikiran lintas berkesenian ini menjadi wacana yang terus menerus digulirkan oleh banyak pihak di kerja berkesenian, termasuk bagaimana pementasan Air kata-kata ini menjadi salah satu wacananya.

[8] Ada pemikiran untuk mengembangkan cara berpuisi melalui kolaborasi paduan suara. Mengapa menggunakan paduan suara, karena ada unsur permainan ansamble suara, agar ada segi estetis tetapi juga progersif, dimana Konsep permainan ensemble melalui suara manusia inilah yang sekarang ini menjadi kompetitif. Kompetitifnya tidak terletak pada konsep jenis paduan suara antara paduan suara pria atau wanita saja (jenis kelamin), atau tataran suara, sopran, alto, tenor dan bass melainkan bagaimana memainkan suara. Sebuah ensemble suara yang dibayangkan sebelumnya selalu terpaku pada formalisasinya, namun sekarang ini, ensemble berubah menjadi senyawa irama. Hal itu terlihat nyata dalam tatanan atau wacana konsep etno, sehingga ensemble suara yang diwacanakan ingin dikembalikan kembali kepada prinsip primitifnya. Hal itu mendasar pada konsep suara, pada senandung orang Indian, africa, semitisme, samanisme, jawanisme (hinduisme) dll.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s