Kajian Urban Art

Posted: Maret 27, 2008 in kajian seni
Tag:

Catatan singkat pengembangan Urban Art untuk

kepentingan menumbuhkan aspek religiositas melalui bahasa foto dan video art

Seni visual dan budaya urban

Budaya urban ditandai dengan konsekwensi pergeseran tata ruang yang meliputi ruang nilai, mobilitas dan makna. Nilai berubah dari yang bersifat kolektif menjadi individualis, mobilitas juga berubah dari kesenjangan antara yang melebar menjadi menyempit, dari dilematis yang menyebar menjadi terpusat, begitu juga makna menjadi berubah dari makna keluhuran akan ekologis menjadi makna kompromis akan sosial dan politis.

Konsekwensi inilah yang menjadi ciri penanda dari budaya urban yang melahirkan konsep-konsep budaya perkotaan. Budaya urban menjadi teramat kompleks, ketika didalamnya terjadi berbagai interaksi, dari interaksi akan budaya,tehnologi, demografi dan ekonomi hingga bermuara pada pembentukan kelas sosial. Akhirnya percaturan, perputaran dan dinamika budaya urban yang menjadi ikon budaya perkotaan tak lepas dari kepentingan dan eksploitasi seni visual (foto dan film). Kepentingan dan eksploitasi ini lebih-lebih disamping bermakna ganda antara ekonomi-trend namun juga daya kritis akan kegamangan dan konsekuensi sosial yang diakibatkan.

Seni visual mencoba membaca kembali budaya urban ini dengan berbagai karakter yang kadang lugas tetapi juga simbolik. Karakter seni yang memang sudah lateral, sering kali mampu membaca fenomena budaya urban ini dengan sentuhan yang berbeda. Pembacaannya tidak melulu hanya aspek sosial-antropologis, tetapi juga arsitektural, bahkan sampai kepada yang spiritual. Seni visual dalam hal pembacaan budaya urban mampu menyuguhkan antara apa yang realitas hingga entitas.

Budaya urban sangat lekat dengan ruang publik. Ruang dimana interaksi antar manusia dengan kompleksitasnya terjadi. Ruang publik menjadi fokus seni dalam membaca kembali budaya urban ini. Ruang publik menjadi representasi karakter budaya urban dan ikon-ikonnya untuk diamati, direfleksikan dan diinternalisasi kembali oleh seni.

Melalui seni visual, ruang publik akan mewakilkan wajah-wajahnya dari budaya urban yang ada untuk dihadirkan dalam ruang-ruang galeri, refleksi esai dan bentuk-bentuk pertunjukan. Ruang publik perkotaan menjadi media dan wahana yang tepat untuk dibidik oleh seni visual ini. Ruang publik kaya akan berbagai kajian, karena berbagai persoalan dan kompleksitasnya, yaitu dari kawasan, jalan, tata kota, sarana publik, pasar dan pusat perekonomian, pusat hiburan, tata kebijakan, hingga interaksi antar manusia yang kompleks dengan kegalauan, kesenjangan hingga benturan.

Memvisualisasikan potret budaya urban melalui ruang publik perkotaan[1]

Ruang publik kaya akan fenomena, maka amatlah menarik jika divisualisasikan secara seni visual dengan berbagai kajian dan pendekatannya. Tentu saja, perlu dikenali apa yang menjadi perhatian untuk ruang publik ini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Kawasan

Kawasan merupakan entitas yang tak terpisahkan dari ikon budaya urban, khususnya ruang publik. Dalam budaya urban ini persoalan-persoalan manusia yang berinteraksi dengan ruangnya terepresentasi nyata dalam wujud kawasan ini. Kawasan ini muncul ketika hidup manusia kota dihadapkan pada masalah demografi/kependudukan, tehnologi dan ekonomi dimana didalamnya ada kesatuan akan pemukiman, bangunan dan manusia yang mencari pekerjaan, interaksi sosial, dan mobilitasnya. Penanda mengenai kawasan ini adalah ikon-ikon yang meliputi bangunan dari arsiteturalnya hingga simbol-simbol sosialnya. Dari kepadatan, hingga sebaran dan berbagai asesoris sosialnya.

2. Mobilitas

Mobilitas merupakan bagian yang menjadi kontent utama dalam budaya perkotaan ini. Mobilitas muncul ketika manusia kota dihadapkan pada persoalan demografi/kependudukan, tehnologi dan ekonomi dimana didalamnya ada gerak berpindah dari pusat kota menyebar ke pinggiran kota, tehnologi transportasi yang digunakan dan berbagai kepentingan ekonomi yang meliputinya.

3. Gaya Hidup

Gaya hidup adalah wakil yang paling nyata dari pengaruh budaya urban ini. Lingkupnya sangat kaya, dari cara berpakaian, berbelanja, menggapai hiburan, hingga menjalani hidup dan pekerjaan. Dalam gaya hidup ini, berbagai interaksi atas jati diri setiap manusia kota dengan berbagai konteks ruang hidupnya menjadi sangat transparan. Gaya hidup menyiratkan hal yang paling relasional atas pandangan dan sikap hidup manusia kota dalam menanggapi zamannya.

Tiga hal diatas menjadi kunci utama pengamatan dan pusat kajian yang dilakukan untuk mengamati ruang publik sebagai representasi atas budaya urban ini. Untuk merangkai antara kawasan, mobilitas dan gaya hidup tersebut sangat diperlukan, karena potret visual akan semakin kaya. Merangkainya memerlukan jalinan yang utuh dengan pusat-pusat tematis atas berbagai persoalan yang ada, yaitu meliputi:

1. Keluarga/kekerabatan (pusat-pusat sosialitas sosial)

Keluarga adalah pusat dari perkembangan akan jati diri manusia kota. Dari keluarga inilah, aspek sosialitas terangkai, bagaimana sebuah kawasan pemukiman dibangun. Kawasan elite dan kawasan kumuh menjadi ikon dari relasi permasalahan keluarga atas mobilitas dan gaya hidup. Begitu juga, transportasi apa yang digunakan, tempat hiburan apa yang didatangi menjadi terangkai, bagaimana manusia kota hidup dalam ikatan kekerabatan dan berkomunitas. Dalam ikon ranah keluarga ini sebuah pemukiman terajut atas berbagai aktivitasnya, terepresentasi secara nyata, bagaimana manusia kota mengisi ruang-ruang waktunya setelah dari jenuhnya kehidupan kantor dan pekerjaannya.

2. Ekonomi

Ekonomi adalah jantung dari segala aktivitas perkotaan. Dari ekonomi ini ada aktivitas, mobilitas dan gaya hidup. Paparan akan ekonomi ini akan merajut sebuah jalinan atas kawasan, mobilitas dan gaya hidup dalam jalinan kesenjangan dan tarik menarik kelas penghasilan. Tampaklah dari sisi ini, gambar dan potret ruang publik perkotaan dalam mosaik antara yang kaya dan yang miskin, antara yang bersih dan kotor, antara yang nyaman dan beresiko.Begitu juga, ekonomi ini akan memperlihatkan dinamika bagaimana manusia kota meraih segala harapan, pekerjaan, dan aktualisasi diri mereka dalam kelompok-kelompok sosial. Para eksekutif, para pekerja, dan berbagai profesi merangkai dinamikannya.

3. Politik

Politik menjadi representasi bagaimana manusia kota berinteraksi dalam jengkal-jengkal kepentingannya. Politik ini nyata dalam kebijakan-kebijakan yang tampak dari kawasan, mobilitas dan gaya hidup yang mempengaruhinya, yaitu dari eksekutor hingga kurban. Politik ini menyiratkan potret atas berbagai tarik-menarik kepentingan, benturan, perlawanan, bagaimana manusia kota membangun kota mereka untuk berbagi, bekerjasama atau saling menghancurkan.

4. Kultural

Kultural menjadi muara bagaimana potret budaya urban tampak dalam ruang publik perkotaan ini. Kultural menjadi jalinan kawasan, mobilitas dan gaya hidup dengan demografi, tehnologi dan ekonomi. Hal itu tampak dari bagaimana manusia kota mengisi waktu luangnya atas hidupnya melalui gerak dan dinamika mereka menilai hidupnya. Kultural ini menyajikan gerak hidup manusia kota dalam menanggapi berbagai hal dari dimensi sosial, historis hingga spiritual. Potretnya tampak pada kawasan yang terangkai dengan pusat-pusat spiritual dan historis. Mobilitasnya, tampak dari rangkaian sikap hidup, bagaimana mereka mempergunakan berbagai fasilitas transportasi. Gaya hidup terangkai dengan benturan dan relasi antara ras, sosial, dan agama. Dalam segi kultural ini, manusia kota terangkai identitasnya atas latar belakang suku,sosial dan agama. Segi kultural ini yang juga menghidupkan ikon bagaimana identitas sebuah kota hidup, baik dari segi historisnya hingga maknanya dalam menggapai zaman.

Berbagai hal diatas menjadi dasar bagaimana bahasa visual harus dibangun. Bahasan visul ini dapat diwakilkan melalui beberapa bentuk, yaitu meliputi:

1. Bangunan

Bangunan merupakan representasi atas ruang hidup budaya urban yang ada. Bangunan ini menjadi bahasa visual yang bermakna ketika tidak hanya secara arsitektural saja tetapi juga historis dan jalinan interaksi dengan ruang-ruang kedirian manusia kota yang menghidupinya. Maka bangunan yang divisualisasikan tentu saja tidak hanya bangunan dari segi fisik tetapi juga makna yang terkandung di dalamnya. Interaksinya dapat bersifat melebar atau bahkan menyempit mengacu kepada prinsip-prinsip antroposentris dan humaniora.

2. Wajah

Wajah manusia adalah muara paling utama dalam bahasa visual ini. Tentu saja, wajah yang ditampilkan secara visual bukan hanya yang terbatas pada segi close up tetapi juga utuh menyeluruh pada perjumpaan-perjumpaan secara makna dari posisi tubuh yang berinteraksi dengan ruang disekitarnya dan peristiwa yang dirajutnya.

3. Peristiwa

Peristiwa adalah rajutan moment dan event dimana kejadian terjadi. Peristiwa dalam ruang publik perkotaan sangat kompleks dan beragam merajut segala jalinan dari segi sosial, ekonomi, politik hingga kultural. Peristiwa biasanya meramu tempat, manusia serta interaksi atas waktu yang menjalinnya menjadi sebuah peristiwa.

4. Waktu

Waktu menjadi rajutan yang biasanya menghiasi segala proses visual. Waktu ini merangkai detik, jam, hari, bulan, tahun, pagi, siang, malam, sore, musim dan lain sebagainya. Bagaimana potret perkotaan dalam suasana pagi, siang, sore dan malam, atau dalam sebuah musim tertentu, yaitu misalnya, ketika hujan gerimis. Waktu ini sangat erat terkait dengan suasana yang hendak dibangun untuk merangkai bahasa visual mempunyai bobot dan makna.

5. Jalan raya[2]

Jalan raya adalah ciri utama yang tak dapat dihilangkan dari ikon mengenai budaya urban perkotaan ini. Jalan raya menjadi inti dinamika mobilitas manusia kota dalam menggapai segala kehidupannya. Jalan raya menjadi pertemuan, benturan, mobilitas bahkan eksistensial atas hidup para manusia kota. Jalan raya menjadi elevator menuju kepada sisi perubahan antara berkembang, ada, dan tiada.

Merangkai makna visual budaya urban melalui ruang publik perkotaan

Bahasa visual atau visualisasi segala kajian tentang budaya urban ini tidak akan terasa menyentuh tanpa upaya untuk memberikan warna melalui model pendekatan dan kajian atas tema-tema kemanusiaan. Untuk itu perlu ada bentuk-bentuk gagasan yang melingkupi konsep bahasa visual yang akan dihadirkan melalui foto dan film ini.

Pertama, adalah dari segi tema-tema kemanusiaan yang menjadi kajian dari kehidupan budaya urban perkotaan dewasa ini, yaitu meliputi:

1. Anonimitas[3]

Anonimitas adalah ciri yang paling menonjol dalam budaya urban. Dimana manusia dilihat sebagai organisme yang berkembang dalam percaturan sistem kota yang dinamis yang bersifat sama, tanpa nama dan latar belalakang, dari cara berpakaian, cara berjalan, cara memilih tehnologi, cara memilih bentuk pemukiman dan lain sebagainya. Ruang -ruang kesadaran akan kedalaman atas jati diri mulai direduksi oleh eforia atas kegalauan waktu setelah selesai dari rutinitas pekerjaan dengan mall, rave party dan jalan raya. Ruang-ruang publik membuat manusia kota menjadi anonim, seperti hanya sebuah organisme yang bergerak atau berhenti.

2. Absurditas

Manusia kota mengalami absurditas[4] yang semakin parah. Manusia kota merasa dirinya sia-sia, tanpa keberartian, manusia mengalami krisis eksistensi. Hal itu seperti yang terungkap dalam gagasan Albert Camus tentang absurditas di dalam Novelnya yang berjudul “La Peste”. La peste merupakan novel yang berkisah tentang berjangkitnya penyakit sampar di kota Oran. Kota dilukiskan dengan begitu kering kerontang, tiada pepohonan. Hal ini merupakan refleksi Camus tentang kehidupan manusia tanpa adanya makna, monoton dan tanpa jiwa. Ketika itu tiba-tiba penyakit sampar berjangkit di kota itu, dan kemudian orang mulai menyadari artinya kecemasan, kebingungan, dan ketakutan yang diakibatkan kematian, penyakit, keterpisahan, kehancuran. Wabah sampar tersebut membuat manusia menyadari akan lingkungan dan kondisi hidup yang malang. Gambaran ini merupakan suatu gambaran Camus akan potret manusia yang bereaksi atas penderitaan dan kebermalangan. Wajah perkotaan sering kali menampakkan wajahnya yang absurd, ketika berbagai ragam kriminalitas, kesenjangan, kemiskinan, dan ketidakjelasan orang miskin akan hidupnya.

3. Modernitas

Disadari bahwa wajah perkotaan terasa semakin mengalami perubahan yang sangat cepat, transparan dan membingungkan. Langkah hidup manusia seakan terpacu pada segala kesibukan-kesibukan yang tak kunjung usai. Segalanya berputar tanpa henti. Tiada lagi keheningan, yang ada adalah ekstasi-ekstasi tanpa makna. manusia kota jarang sekali mengalami “kekaguman” dan “ketertegunan” ilahi, melainkan “keterpesonaan” sensasional. Keterpesonaan sensasional ini telah menjadi “ekstasi” yang kadang jatuh kepada ekstasi-hedonis yang berlebihan dan kurang sampai kepada apa yang transenden, imanen. Jaman ini ditandai oleh berbagai perkembangan yang serba baru yaitu penyebaran informasi dan sarana komunikasi manusia. Dinyatakan oleh Baudrillard[5] bahwa telah terjadi realisasi dan komersialisasi seluruh aspek dunia, apapun diubah menjadi komoditi, menjadi berita dan menjadi produk. Segala hal dikatakan, dan diekspos.

4. Harapan

Harapan adalah juga wajah perkotaan. Potret perkotaan selalu dipadati dengan jumlah penduduk yang banyak, hiruk pikuk, bising karena banyaknya harapan yang ingin diraih di perkotaan. Harapan akan hidup baru yang lebih sejahtera, lebih maju dan berpendidikan merupakan segala hal yang ingin diraih. Maka, dalam potret wajah kota selalu identik dengan berbagai ikon soal kesejahteraan, dari papan reklame, pemukiman dan aneka hiburan yang menawarkan mengenai harapan itu. Harapan tidak hanya bersifat ekonomi semata, tetapi juga sampai kepada moralitas dan spiritualitas, bahwa manusia kota berharap untuk hidup yang lebih baik.

Kedua, adalah dari segi pendekatan-pendekatan yang menjadi kajian dari kehidupan budaya urban perkotaan dewasa ini, yaitu meliputi:

1. Human interest

Yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada kehidupan manusia dalam berinteraksi, memaknai ruang-ruang hidupnya di tengah-tengah hiruk pikuk kota. Lingkupnya meliputi sudut-sudut yang bersifat biografis, baik dari segi kultural, psikologis, profesi hingga spiritualitas.

2. Social interest

Yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada segi relasional antara ruang hidup manusia dengan ruang lingkup disekitarnya, baik antar manusia, bangunan-pemukiman, budaya, politik, dan ekonomi. Lingkupnya meliputi sudut-sudut yang bersifat liputan, baik dari segi historis, arsitektural, kultural dan politik.

3. Moment interest

Yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada segi peristiwa-peristiwa dalam hidup manusia dengan ruang lingkup disekitarnya, baik bersifat antar manusia, kewilayahan, dan politik. Lingkupnya meliputi sudut-sudut yang bersifat voyeur-saksi mata/witness, candid, baik dari segi waktu, tempat, kultural dan politik.

4. Massage interest

Yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada segi pemaknaan dan intrepetasi antara ruang hidup manusia dengan ruang lingkup disekitarnya, baik antar manusia, bangunan-pemukiman, budaya, politik, dan ekonomi. Lingkupnya meliputi sudut-sudut yang bersifat obyektif dan reflektif, baik dari segi kehidupan, historis, arsitektural, kultural dan politik.

Ketiga, adalah dari pola bagaimana data dikumpulkan untuk menjadi kajian dari kehidupan budaya urban perkotaan, yaitu meliputi:

1. Merangkai Jarak (Topografis)

Data visual dikumpulkan dengan tahap dan proses yang dinamis, yaitu bersifat meluas, menyempit, linear, spiral, sentrifugal, maupun sentripetal. Tahap geraknya dapat mempergunakan jarak dari suatu wilayah obyek, yaitu jarak gerak dari pusat obyek yang telah ditentukan.

2. Merangkai Waktu (Historis)

Data visual dikumpulkan dengan tahap dan proses mempergunakan durasi waktu. Waktu dapat bersifat, detik, menit, jam, hari, suasana, bulan, tahun.

3. Merangkai Obyek

Data visual dikumpulkan dengan “menangkap” obyek secara detail, bentuknya, ragamnya, dan lain sebagainya

Merangkai pesan visual religius budaya urban melalui ruang publik perkotaan

Foto dan video art sebagai seni visual merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk penyadaran (konsientisasi). Melalui foto dan video art, ada kisah dan peristiwa yang terajut utuh bagi setiap pikiran dan setiap keprihatinan. Foto dan video art menghadirkan kembali kenangan akan peristiwa, yang tentu saja mempunyai nilai jika didiskusikan dan direfleksikan. Upaya yang bersifat teknis dan pemilihan obyek, dengan kuatnya telah dirajut oleh kesadaran seorang fotografer dan sineas untuk membidik sebuah peristiwa agar hadir di ruang-ruang setiap orang yang melihatnya .

Foto dan video art mempunyai bahasa yang luas dan kuat untuk menyentuh perasaan. Misalnya bagaimana menghadirkan sebuah pemaknaa akan kesadaran ekologis melalui foto. Hal itu seperti apa yang telah terjadi di tahun 1970-an, seorang fotografer W. Eugene Smith mampu menunjukan kepada publik mengenai upaya perjuangan lingkungan hidup melalui foto kasus pencemaran lingkungan, yang dikenal dengan Minamata. Melalui karya itu, dipaparkan betapa ruang foto, mampu menjadi medan dialog reflektif bagaimana realisasi gamblang dari rusaknya hubungan antara manusia dan kemajuan yang diinginkannya[6]. Foto mampu berdampak provokatif mengurai batas-batas kesadaran kritis.

Maka pengambilan foto yang mengangkat kembali isu-isu budaya urban, mengkaitkan kembali bagaimana reportase kehidupan perkotaan dengan carut-marut persoalan para generasi modern dewasa ini menjadi reportase yang bermakna. Reportase tersebut terjalin menjadi sebuah tutur yang mengajak audien untuk melihat realitas saat ini, betapa ruang publik perkotaan memaparkan fenomena budaya urban yang dramatis dan kontemplatif. Foto dan video art menjadi media reflektif, untuk menggugah kesadaran bersama. Untuk menegaskan isu, betapa ruang-ruang publik perkotaan itu mencerminkan kegalauan, pencarian dan eksistensi kehidupan.

Foto dan video art dapat menjadi sarana dialog. Dialog dipahami sebagai jalan, cara berada dan bertindak sehingga menjadi habi­tus. [7] Dialog dimulai dari diri yang beraksi, berkontemplasi dan berefleksi, kemu­dian bergerak keluar sehingga terjadilah perjumpaan antar subyek dan obyek. Perjumpaan itulah yang akan membentuk penegasan dan ruang apresiasi. Dialog membawa proses penegasan bersama (communal discerment). Dengan itu hasilnya dipahami sebagai milik bersama (common vision dan mission). Dialog antara audiens dengan foto terjadi ketika ruang realitas kesadaran bertemu. Foto dan video art mencoba menghadirkan realitas mengenai berbagai sudut ruang publik yang sarat dengan ruang makna kehidupan. Foto dan video art menjadi representasi ulang realitas yang bertutur akan peristiwa dibaliknya. Audiens, dengan sikap, nilai dan latar belakang yang ada, mempunyai frame of reference yang akan berkonfrontasi dengan foto dan video art itu. Maka ruang dialog tersebut akan melahirkan sebuah opini publik tentang isu dan makna yang berdampak kontemplatif, sehingga ada gerak mistikfikasi atas ruang-ruang perkotaan yang dicoba dihadirkan melalui foto dan video art ini.

purwono nugroho adhi

penikmat kerja budaya

tulisan ini dikembangkan dari berbagai sumber buku, pengamatan, artikel dan diskusi mengenai Urban Art

telah dirilis di http://purwonomedia.wordpress.com/


[1] digagas dari Bambang Sugiharto. (2000). Dimensi Religius dalam Budaya Urban; dalam Wajah Baru Etika & Agama. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 207-231

[2] dikembangkan berdasarkan apresiasi atas film Crash, yang merefleksikan berbagai benturan rasial di Amerika. Inspirasi diambil dari adegan epilog film, ketika sang tokoh cerita merefleksikan mengenai jalan raya.

[3] dikembangkan berdasarkan apresiasi atas film Brave One. Inspirasi diambil dari adegan ketika Jodie Foster mengungkapkan refleksinya atas kota dalam sebuah siaran radio mengenai sudut-sudut perkotaan.

[4] Lih. Sindhunata & A. Sudiardja ( Le Peste; suatu penampilan absurditas dan pemeberontakan Camus dalam Demensi Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius. Hal 18.

[5] Lih. Yasraf Amir Piliang. (2000). Bunuh Diri Hipermodernitas, majalah Basis No 01-02 Th Ke 49, Januari-Februari. hal 55

[6] Lih. Alex Supartono. Minamata, tentang Sebuah Foto. Kompas, Minggu, 1 Agustus 2004, hlm 17.

[7] Heryantno. W.W., SJ. (2001). Makalah Lokakarya Nasional di Syantikaran tentang SCP, pemikiran dari Thomas Groome.



Site Meter

Komentar
  1. tiusfrans mengatakan:

    Memaknai kehidupa adalah hal yang terasa sulit namun juga sangat mudah. Bagai suatu kebenaran yang sulit untuk ditemukan titik benarnya. Benar aku, belum tentu benar dia, maupun kita. Kemampuan dan ke”inovatif”an manusia sering menciptakan suatu yang baru yang tak lazim yang munkin dalam sudut pandang tertentu sangat bertentangan dengan apa yang lazim di lakukan orang (kebenaran umum?). Tapi setiap orang akan terus berusaha untuk tetap “hidup” dengan acara mereka sendiri hingga suatu saat nanti tercipta tatanan yang pasti selalu akan berubah”abstrak”

  2. purwonomedia mengatakan:

    terima kasih atas tangggapannya,
    ke”inovatian” awal dari “jalan setapak” atau “jembatan” bagi perjalanan yang luas dan tak pernah ada habisnya bagi secarik kata gagasan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s