Cara berpikir dan cara pandang tidak bisa dilepaskan dari diri seseorang secara utuh, karena ketika seseorang dihadapkan pada sebuah realitas, orang akan bersikap-bertindak dengan mekanisme stimulus-respon dengan apa yang ia pikirkan dan ia pandang. Seseorang selalu mempunyai frame of reference atau paradigma. Setiap frame of reference atau paradigma seseorang selalu terintegrasi dengan latarbelakang, pengalaman, lingkungan serta budaya yang membingkainya.
Faktor pendidikan sebagai sebuah treatment eksternal menjadi salah satu pengaruh penting bagaimana kondisi internal mengkompulasi, mengkonfrontasi, serta mensintesakan sebuah frame of reference tersebut terjadi. Tentu saja, pendidikan itu harus selalu diintegrasikan dengan sikap dasar yang diambil seseorang. Sikap dasar ini merupakan bagian penting seseorang membingkai semua persoalan, realitas sosial yang ada dihadapannya.
Menurut kajian psikologi, sikap dasar itu mempunyai unsur sebagai berikut:
- Arah; sikap pastilah mempunyai arah, artinya sikap akan menunjukkan apakah individu menyetujui atau tidak menyetujui, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap suatu obyek sikap atau pemahaman tertentu.
- Derajat perasaan atau intensitas. Derajat perasaan atau intensitas pada setiap individu belum tentu sama. Dua individu yang sama-sama mempunyai sikap positif terhadap suatu obyek sikap, mungkin tidak sama intensitasnya, dalam arti yang satu lebih bersikap positif tetapi yang lain lebih bersikap positif dari yang pertama. Demikian juga sikap negatif mempunyai derajat kekuatan yang bertingkat-tingkat.
- Konsistensi; konsistensi sikap ditunjukkan oleh kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan oleh individu dengan responnya terhadap obyek sikap. Konsistensi sikap juga ditunjukkan oleh tidak adanya kebimbangan dalam bersikap. Seorang individu dapat saja mempunyai sikap yang tidak konsisten apabila ia menyatakan setuju tetapi sekaligus menyatakan tidak mendukung obyek sikap. Perlu dibedakan antara sikap yang tidak konsisten, dalam arti bahwa tidak ada kesesuaian respon sikap dalam diri individu dengan sikap yang netral.
Cara berpikir dan cara pandang mengidentifikasikan kedewasaan seseorang. Kedewasaan seseorang terukur dari arah, derajat perasaan serta konsistensi dalam menanggapi sesuatu yang terjadi dalam realitas sosial tersebut. Untuk itu, betapa penting memikirkan sebuah pendampingan yang memformulasikan pengembangan kemampuan cara berpikir dan cara pandang ini. Formulasinya tentu saja mengkaitkan bagaimana cara pikir dan cara pandang seseorang menilai, menginternalisasi sebuah realitas sosial disekelilingnya. Formulasinya tentu saja tidak semata-mata jatuh kepada konsep-konsep filosofis melainkan harus sampai kepada upaya kenosis dan keterlibatan. Diharapkan dari proses itu, pendampingan tidak hanya pengembangan kemampuan cara berpikir, melainkan juga penyadaran proses berpikir itu sendiri. Harapannya, seseorang memahami bagaimana ia berpikir akan sesuatu, bagaimana ia mengkontruksinya kemudian ia jadikan habit/kebiasaan yang terus-menerus sehingga akhirnya menjadi sikap. Dewasa ini yang sangat penting disadarkan adalah, pertama, bagaimana berpikir menilai realitas sosial dengan cara berpikir yang jernih, dengan analisis masalah, data dan peta metopen (metode penelitian dasar) dengan berbagai cara-cara pendekatan yang progresif dan mudah dilakukan dalam keseharian. Kedua, bagaimana berpikir menilai segala perubahan sosial yang cepat, sehingga dibutuhkan segala pemikiran yang kreatif, imaginatif serta antisipatif. Untuk itu, penyadaran lebih berpusat kepada proses berpikir, yaitu berpikir mendasar akan segala inti masalah dan berpikir mengenai spirit perubahan itu sendiri. Untuk itu, sebuah analisis sosial sebenarnya sangat terkait erat dengan proses dan cara berpikir itu sendiri. Proses berpikir hendaknya harus bersifat analitik, membingkai secara utuh berbagai cara pandang akan nilai, pemahaman serta penilaian akan realitas sosial itu. Sifat analisis sosial yang mengajak seseorang kepada kesadaran kritis, peka, mengerti dan menilai sesuatu, harus membingkai cara berpikir itu sendiri. Analisis sosial harus menjadi bagian yang terintegrasi, sehingga cara berpikir seseorang secara otomatis selalu memfungsikan analisis sosial sebagai kerangka berpikirnya. Bentuknya, tentu saja bukan konsep dan metodologi analisis sosial, melainkan bagaimana seseorang berpikir dalam kerangka dasar-dasar analisis sosial, yaitu :
a. Pertama, adalah melihat segala fenomena-realitas sosial tersebut dalam hubungan-hubungan yang bersifat logis (logical reasoning). Pada tahap pertama mencoba mem-persepsi segala apa yang ada dengan saling mengkaitkan, menghubungkan, sebab-akibat, mengkorelasikan. (positivis-heteruistik)
b. Kedua,berdasarkan apa yang logis dalam kaitan sebab-akibat tersebut, perlu melihat bahwa hubungan-hubungan tersebut bersifat sistemik. Artinya, ada kaitan antar hubungan dan ada hubungannya antar kaitan tersebut. Kaitan tersebut merupakan keutuhan, saling berhubungan, saling berkorelasi, saling mempengaruhi. (strukturalis)
c. Ketiga, berdasarkan hubungan dan pemikiran sistemik tersebut, pasti ada sesuatu yang bersifat lateral, menyentuh aspek-aspek “lain” yang berbeda, kontras, dan sensasional, menciptakan sesuatu yang “konfrontatif”. Keberbedaaan tersebut muncul dengan ciri yang “khas”, fenomenal, dan menyentuh perasaan-perasaan psikologis, dari kagum, penasaran, indah, menambah rasa ingin tahu, mencipta ruang keterlibatan dan gerakan. (fenomologis)
Simpul-simpul gagasan berpikir perubahan dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Memberi penyadaran, bahwa perubahan itu selalu terjadi, dan tidak bisa dihindari, selalu harus dihadapi.
b. Dalam menghadapi perubahan, pertama-tama harus bersedia terbuka kepada segala sesuatu perubahan yang terjadi. Keterbukaan itu membutuhkan kemauan, sekaligus kepekaan terhadap segala tanda-tanda perubahan. Agar mampu “melihat” dengan maju, maka dua sisi atau segi , yaitu melihat apa yang KONTRAS, dan melihat apa yang KONFONTRATIF perlu disadari sebagai pola berpikir. Kontras dan konfrontatif tidak selalu bersifat pemberontakan, namun bersifat pembaruan.
c. Pengalaman kontras, mengajak berpikir lain, kreatif dan imajinatif. Orang diajak tidak hanya melihat dari apa yang biasannya, melainkan dari apa yang tak biasa. Dengan “melihat” yang tak biasa, maka orang diajak untuk berpikir, bahwa ada banyak pilihan, ada banyak ragam, ada banyak jalan, dan masih banyak yang lainnya.
d. Melihat secara “berbeda”, kontras dan konfrontatif, terjadi jika orang selalu melihat fenomena dari yang 20% dari yang 100%. Artinya orang perlu melihat fenomena bukan apa yang kebanyakan, melainkan apa yang “disingkirkan”,berusaha melihat segi-segi “lain” dari apa yang tidak kebanyakan muncul.
Pola berpikir kreatif dimulai dengan berpikir strategis mengantisipasi segala perubahan. Di dalamnya ada unsur manajemen diri dari gambaran diri (self image) dan konsep diri (self concept) hingga penilaian diri (self evaluation). Ketiga hal itu diintegrasikan dengan manajemen perubahan itu sendiri, yaitu pemetaan situasi, pemetaaan potensi, serta signifikasi diri, baik signed of maupun signed for (bermakna ataupun memaknai).
purwono nugroho adhi










go positive thinking…….
kikukkikuk, hehe, baru ngintip nih, ternyata banyak bacaan di sini. salam ma pur