Pengembangan Pendidikan Religiositas melalui
Pendekatan observasi dan kepekaan terhadap realitas sosial-kemasyarakatan, Belajar dari apa yang dikembangkan Estu Pramana
Pendidikan hendaknya mampu mengantar manusia sebagai pelaku budaya. Maka konsekwensi atas hal tersebut, pendidikan perlu mengajak subyek didik untuk menjadi pelaku yang pro-aktif dalam kehidupan sosial berbudaya. Muara dari pendidikan yang diusahakan adalah gerak laku batin yang membuat subyek didik peka terhadap situasi sosial masyarakat. Orientasi pendidikan yang seperti itu, merupakan harapan dan cita-cita banyak pihak, terutama mereka yang memandang pendidikan sebagai sarana perubahan sosial.
1. Observasi kehidupan yang didokumentasikan secara audio visual (video)
Di berbagai tempat, sudah banyak usaha yang mencoba menempatkan pendidikan sebagai mediasi perubahan sosial. Tentu saja, bentuknya dalam proses pencarian dan perubahan secara terus menerus, dari yang paling sederhana sampai kepada yang kompleks. Salah satu yang mengembangkan adalah Estu Pramana, seorang guru Pendidikan Religiositas di SMP Stella Duce I Yogyakarta. Apa yang dikembangkan Estu Pramana terbilang kreatif di dalam mengajak para siswanya mengenal, menyadari berbagai realitas sosial disekitarnya. Melalui Pendidikan Religiositas yang memungkinkan berbagai pendekatan dan metode yang mengajak siswa kepada berbagai permasalahan sosial-budaya, Estu Pramana mencoba mengoptimalkan peran pendidikan tersebut dengan mengajak siswa belajar dari kehidupan. Para siswa diajak untuk mengenal realitas di sekelilingnya melalui observasi yang harus dilakukan secara kelompok sebagai salah satu komponen syarat penilaian akhir Pendidikan Religiositas.
Para siswa diberi tugas untuk membuat observasi pada salah satu realitas sosial di sekelilingnya. Kemudian, para siswa diminta untuk mendokumentasikan hasil observasinya dalam bentuk video. Tentu saja, pendokumentasian video ini terbilang bukan sesuatu hal yang murah, namun untuk ukuran sekolah di pusat kota hal itu tidak mempersulit siswa. Hasil dokumentasi observasi tersebut kemudian digunakan untuk dasar refleksi dan evaluasi bersama antara para siswa dan pendamping. Dokumentasi yang didapat dengan video ini memang menjadi dokumentasi portofolio performance yang memang cukup representatif. Pertama, ada data secara visualistik yang mengungkapkan dokumen observasi. Kedua, data yang terdokumentasikan secara visualistik tersebut dapat didalami, direfleksikan kembali oleh para pelaku observasi atau oleh kelompok-kelompok lain dengan berbagai pendekatan apresiatif. Ketiga, observasi yang dilengkapi dengan pendokumentasian video ini memicu kerja kelompok secara kreatif, baik segi analisis sosial, refleksi, maupun pengembangan sense of art.
Melalui pendekatan ini, para siswa dituntut untuk mengenal realitas sosial di sekelilingnya. Mereka harus melakukan wawancara kepada seseorang saksi mata, pelaku, pekerja atau siapa pun yang menjadi subyek realitas sosial. Kemudian, secara kelompok mereka mencoba mengalami apa yang dilakukan oleh para pelaku tersebut dengan membantu apa yang sedang dikerjakan, misalnya berjualan, berkarya, bekerja, dan lain sebagainya. Proses tersebut terbilang memerlukan waktu yang cukup, biasanya mereka melakukan observasi ini bisa lebih dari 2 hari. Berdasarkan apa yang mereka lakukan yang sudah terekam melalui perangkat video, mereka mencoba mengemas hasilnya, bisa secara mandiri, maupun mempergunakan jasa profesional editing video. Hal ini biasanya memang membutuhkan biaya lebih, namun untuk ukuran sekolah perkotaan seperti SMP Stella Duce I Yogyakarta tidak mengalami kesulitan yang berarti, malah mereka merasa senang karena kreatifitasnya dikembangkan, apalagi, penggunaan dokumentasi video sudah akrab bagi mereka.
Observasi kehidupan yang didokumetasikan melalui video ini memang ada catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, tidak semua sekolah mampu menggunakan pendekatan ini. Kedua, karena prosesnya yang terbilang membutuhkan biaya lebih, maka tidak semua siswa dapat diajak untuk melakukan proses ini. Ketiga, pendekatan ini tidak cocok untuk sekolah-sekolah di pinggir atau diluar kota yang di daerah pedesaan, karena banyak siswa yang belum akrab dengan pendekatan ini, begitu juga membutuhkan perangkat tehnologi yang belum umum.
2. Mural realitas sosial sebagai ekspresi pemikiran
Mengajak siswa kepada kepekaan terhadap realitas sosial tidak hanya dilakukan Estu Pramana melalui observasi belajar dari kehidupan melalui video saja, tetapi juga dilakukannya dengan mengadakan ekspresi mural (lukisan dinding). Estu Pramana melalui mural ini mencoba mengajak para siswanya mengekspresikan berbagai keprihatinan sosial. Ekspresi keprihatinan sosial tersebut biasanya diungkap dengan kreatifitas para siswa membuat bentuk-bentuk coretan, grafis yang mengungkap berbagai realitas sosial dewasa ini. Mural menjadi sarana yang efektif bagi para siswa peka terhadap realitas sosial, disamping mengajak siswa semakin kreatif. Kegiatan ini memang didukung oleh pihak sekolah, difungsikan untuk menghias beberapa sudut tembok sekolah. Disamping menambah keindahan, tetapi ada yang lebih penting yaitu meningkatkan unsur-unsur penyadaran bagi para siswa untuk memahami realitas sosialnya.
Penyadaran akan realitas sosial ini bisa ditingkatkan dengan berbagai macam cara dan sarana. Mural menjadi salah satu sarana yang cukup efektif dan populer. Tentu saja, membutuhkan tempat, bahan-bahan, serta sarana. Untuk itu,bagaimana kreatifitas pendamping mencoba berbagai sarana dan cara agar sebuah pendidikan dan penyadaran menjadi efektif patut diusahakan. Mural menjadi usaha repersentatif portofolio performance yang menjadi dokumentasi sepanjang masa, yang selalu dapat dilihat, serta diamati.
Proses mengekspresikan mural ini memang di satu sisi membutuhkan berbagai sarana, tempat serta media, namun di satu sisi juga memerlukan orang-orang yang mempunyai kemampuan kreatifitas ilustrator. Namun, yang penting, bahwa prosesnya dilakukan secara kelompok dan membutuhkan diskusi, kerjasama serta refleksi yang bersifat intens. Proses inilah yang penting untuk usaha penyadaran serta pendidikan kepekaan terhadap realitas sosial kemasyarakatan. Mural hanya merupakan salah satu cara ketika cara berpikir itu dieskpresikan dengan hasil yang jelas dan terlihat dan berefek sosial di seputar lingkungan sekolah, karena mural merupakan wujud seni yang bersifat publik. Banyak cara ekspresi pemikiran untuk mengajak kepada kepekaan sosial ini, tidak hanya di dinding (mural), namun juga dapat di tong sampah, ruangan, kardus dan banyak obyek yang bisa digunakan saluran ekspresi pemikiran serta kesadaran.
3. Pemeran foto, poster, majalah dinding yang berdimensi mengusung tema-tema sosial
Usaha kepekaan terhadap kesadaran akan realitas sosial dilakukan Estu Pramana secara terus menerus dalam setiap proses pembelajarannya. Estu Pramana selalu ingin memuarakan bentuk-bentuk kesadaran sosial tersebut secara masif bagi para siswanya. Upaya itu, semakin tampak ketika diadakan berbagai kegiatan seperti pameran foto, majalah dinding serta poster dengan mengusung tema-tema sosial. Kegiatan ini menjadi ajang kreatifitas para siswa, mereka berproses, berdinamika, bekerjasama untuk membuat event pameran. Begitu juga, bagaimana mereka hunting untuk membuat foto-foto yang menjadi koleksi pameran, mengumpulkan, menganalisa, menyusun, mendesain berbagai poster serta tata pameran. Hal itu memicu dua kegiatan sekaligus, pertama, ada bentuk-bentuk peningkatan kemampuan sosial dan kreatifitas dalam pembelajaran. Kedua, ada bentuk-bentuk wujud portofolio hasil pembelajaran yang di satu sisi ada hasil kreatifitasnya, di sisi lain ada bentuk-bentuk sarana untuk penyadaran.
Pemeran foto, poster dan majalah dinding tersebut menjadi media yang efektif ketika ruang-ruang pembelajaran dewasa ini kurang mengajak para siswanya peka terhadap realitas sosial di sekelilingnya. Foto, poster, majalah dinding menjadi media populer sederhana, menghadirkan kembali ikon-ikon bentuk perlawanan sosial akan ketertindasan, kekerasan serta penyadaran hak-hak asasi manusia. Memang patut diketahui, bahwa bentuknya pun masih sederhana, mewakili usia mereka, yaitu usia SMP, namun dengan penyadaran sosial pada usia remaja ini memungkinkan kepekaan sosial akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan usia mereka kemudian.
4. Mengeefektifkan sarana, media-media bertema sosial untuk mendukung proses pembelajaran.
Disamping berbagai cara-cara dan berbagai pendekatan, Estu Pramana tidak segan-segan mempergunakan berbagai sarana serta media-media yang bertema sosial untuk mendukung proses pembelajarannya. Sarana-sarana serta media, baik poster, film, gambar, cergam, musik, surat kabar, karikatur selalu sarat dengan tema-tema sosial populer dewasa ini. Bentuknya selalu sarat dengan perlawanan akan ketertindasan, kristis terhadap kekuasaan serta mengajak untuk bergerak dan provokatif. Sarana serta media tersebut menjadi semakin efektif ketika disintesakan dengan pokok bahasan di dalam proses pembelajaran Pendidikan Religiositas. Pendidikan Religiositas semakin menjadi locus bagi Estu Pramana untuk menggelar obsesinya memberikan penyadaran sosial bagi siswanya.
Media serta sarana yang bertema sosial ini selalu dipergunakan dalam bentuk-bentuknya yang moderat. Artinya, disesuiakan dengan pokok bahasan, kemudian sarana itu bersifat sebagai teks atau konteks refleksi. Sehingga, ada dua hal yang terjadi, yaitu sarana dan media yang bertema sosial tersebut di satu sisi sebagai bahan, tetapi di lain sisi sebagai kampanye penyadaran yang provokatif bagi para siswa. Model pembelajaran seperti ini bagi Estu Pramana menjadi sarana efektif mengajak para siswa semakin memahami pokok bahasan tetapi di lain pihak para siswa diajak memahami realitas sosial di sekelilingnya yang sering kali terlepas oleh kehidupan para siswa, yang sebagian besar anak-anak orang mampu.
Bagi Estu Pramana, bentuk-bentuk provokasi keprihatinan sosial secara sederhana melalui media atau sarana-sarana bertema sosial untuk para siswa yang mempunyai latar belakang orang-orang mampu ini perlu digiatkan. Usia mereka yang masih remaja, juga menjadi pertimbangan bagi Estu Pramana untuk membuat bentuk-bentuk provokasi sosial secara masif sejak usia dini. Tentu saja, pertimbangannya bukan ideologis, namun untuk meningkatkan usaha pendidikan sebagai mediasi pembaruan sosial. Selama ini sarana yang paling digemari oleh Estu Pramana adalah bentuk-bentuk cergam yang menggelitik kepekaan sosial, serta film-film pendek yang bernuansa penyadaran sosial.
5. Civic Education ala Estu Pramana
Berbagai usaha, kreatifitas, serta pendekatan yang dilakukan Estu Pramana dalam pembelajaran Pendidikan Religiositas tersebut merupakan bentuk-bentuk civic education (pendidikan sipil/kewarganegaraan) secara sederhana. Civic education ini lahir dengan caranya dan “ala” Estu Pramana yang khas. Kekhasannya terletak dimana bentuk-bentuk Civic education ini dikerjakan dalam ranah pendidikan formal yang bersifat terselubung, namun efektif. Berikutnya, Civic education ini bukan dalam bentuknya yang formal seperti Pendidikan Moral Pancasila atau kewarganegaraan yang sering tidak mengena, namun berbentuk nilai-nilai kemanusiaan yang diangkat dari paham-paham dasar mengenai nilai-nilai agama dan religiositas. Kekhasanya lagi, bentuk civic education ini menjadi bagian dari penyadaran pendidikan sosial bagi usia remaja. Dari pengalaman ini, dapat dipetik suatu kajian, bahwa Pendidikan Religiositas juga berdimensi civic education. Begitu juga, civic education dapat diberikan kepada para siswa berusia remaja dengan pendekatan sesuai konteks remaja dengan bentuk-bentuk populer mempergunakan pendidikan yang ada, misalnya Pendidikan Religiositas.
Menggagas kembali mengenai konsep pendidikan sebagai mediasi pembaruan sosial, maka civic education secara sederhana dapat dibuat dan dikerjakan sebagai bentuk-bentuk penyadaran sosial. Prosesnyapun tidak harus formal, melainkan dapat melalui berbagai mata pelajaran yang berdimensi sosial, salah satunya Pendidikan Religiositas. Bentuknyapun, perlu dikerjakan dengan kreatif, seperti apa yang sudah dilakukan oleh Estu Pramana dengan pendekatan observasi, pendokumentasian dengan sarana serta media kreatifitas seni mural, video, poster, ilustrasi dan lain sebagainnya.
Berbagai hal diatas memberikan sebuah kajian sederhana, bahwa Pendidikan Religiositas jika dikembangkan secara efektif dan kreatif, seperti apa yang dilakukan oleh Estu Pramana dapat memberikan efek bentuk-bentuk hidden curiculum yang membawa para siswa kepada kesadaran kedewasaa berpikir untuk menjadi manusia pembaru di masa depan.
purwono nugroho adhi
Pebruari 2007, sebagai gagasan awal Kuratorial film dokumenter, kajian biografi, feature pendidikan










aku gabtek,tp lagi butuh model konstektual boleh minta tdk ?trims bantuaannya