PENILAIAN KUALITATIF

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian metodologi

A. Dasar-dasar kajian

1.    Aspek Kepercayaan Beragama (eksistensial) menyangkut strukturisasi organisasi antara kemampuan aspek afeksi – konasi dan kognisi.
Aspek kepercayaan beragama di dalamnya menyiratkan berbagai kemampuan yang sungguh kompleks. Hal itu dikarenakan bahwa di dalam aspek beragama (beriman)  ini, subyek didik mengkontruksi dan mengkonsitusi segala pemahaman akan nilai agama dan berbagai proses pemahaman akan hidupnya. Maka terjadi pengintegrasian yang komprehensif antara orientasi kognitif dengan maksud-maksud mendasar yang bersifat afeksional. Hal itu tampak di dalam relevansi semiotis antara apa yang tertuang sebagai bagian ungkapan kognitif, misalnya sistematisasi cara berpikir, menulis, berpendapat dengan kecenderungan aspek afeksional yang meliputi cita rasa, keindahan, kekaguman, harapan, cita-cita, keprihatinan dan lain sebagainya. Di dalam Pendidikan Religiositas ini, subyek didik tidak sekedar mengungkapkan kemampuan kognitifnya melainkan juga mengintegrasikan apa yang dirasakan, diharapkan mengenai berbagai pemahaman akan hidup dan nilai-nilai yang ultim bagi diri subyek didik.
Maka betapa sebuah formula penilaian yang tidak sekedar mewakili kemapuan kognitifnya melainkan juga apa yang menjadi bagian dari afeksinya menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Penilaian kualitatif mencoba untuk memungkinkan menggali segala kecenderungan afeksional dan kontruksi kognitif tergali. Hal ini menjadi penting untuk upaya formatif dan diagnotif subyek didik di dalam menjalani proses belajarnya. Kita dihadapkan pada realita, bahwa kecenderungan afeksional sulit untuk dikontruksikan secara kuantitatif, melainkan perlu dikotruksikan secara kualitatif. Setidak-tidaknya tidak untuk mengukur melainkan memberikan gambaran-gambaran apa yang dirasakan, di cita-citakan oleh subyek didik.
Di dalam ruang beragama, ada dimensi kepastian rasional tetapi ada dimensi keyakinan. Dimensi kepastian rasional merepresentasikan cara berpikir dan kontrukis berpikir yang bersifat logis, analitis dan obyektif mengenai konsep teologi dan filsafatnya, tetapi di balik semua itu ada yang paling penting, yaitu dimensi keyakinan. Dimensi keyakinan menyiratkan sebuah proses berpikir subyek didik yang paling ultim, menyangkut tata nilai, cara pandang yang tak sekedar analitis dan logis melainkan menyangkut pembetukan identitas diri dan perkembangan hidupnya.  Maka sebuah penilaian kualitatif dapat memberikan gambaran sejauh mana sebuah nilai diyakini, dikontruksi sebagai bagian hidup subyek didik menjadi sesuatu yang perlu dianalisa sebagai bagian kompetensi di dalam Pendidikan Religiositas ini. Sebagai sebuah tata nilai yang diyakini dalam hidup, tak dapat semudah itu dilihat dalam bentuk kuantitatif, tetapi harus dilihat dalam sebuah pendalaman orientasi yang bersifat kualitatif dan personal.

2.    Aspek Kepercayaan Beragama (eksistensial) menyangkut kualitas perkembangan pribadi yang menghubungkan kompetensi Interpersonal, Intrapersonal dan Eksistensial.
Hidup dan cara pandang beragama, tidak dapat dipetakan dalam kompetensi-kompetensi yang terbatas pada segi kognitif semata. Tetapi perlu menjadi kajian mendalam bahwa aspek kepercayaan beragama ini menyangkut kompetensi interpersonal, yaitu kemampuan subyek didik berelasi dengan orang lain, lingkungan dan berbagai tata nilai. Begitu pun juga menyangkut kompetensi intrapersonal, yaitu bagaimana subyek didik memahami pusat nilainya yang paling ultim, yaitu apa yang transenden. Kedua kompetensi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena ketika subyek didik berelasi dengan orang lain selalu didasari pula oleh berbagai tata nilai yang bersifat transenden. Relasi itu bersifat antara diri dengan orang lain, diri dengan tata nilai, serta dengan dirinya sendiri (self assessment). Seluruh jalinan relasi tersebut dikontruksikan ke dalam lingkugan dan cara pandang yang bersifat ultim (akhir). Maka relasi tersebut memungkinkan juga pada akhirnya mengenai kompetensi eksistensial, bagaimana subyek didik memandang hidupnya, mengenai titik kritis, penderitaan, kebahagiaan, kerinduan, cinta, dan lain sebagainya yang bersifat paling mendalam dan bararti. Proses beragama menyangkut bagaimana subyek didik mengkontruksi sebuah kepercayan eksistensialnya. Kepercayaan menyeluruh yang menyangkut gambaran paling akhir di dalam hidupnya. Sebuah persepektif mendalam hidupnya yang paling fundamental. Maka proses beragama  menyangkut proses pembentukan identitas diri. Pembetukan diri yang didasari oleh tata nilai, orientasi yang mendasar pada harapan, daya upaya, pikiran dan tindakan akan yang transenden dan lingkungan hidupnya.
Berdasarkan hal diatas, jelas sekali terlihat bahwa kompetensi penilaian tidak dapat sekedar diwakili dengan hanya satu kompetensi kognitif semata. Tetapi perlu integrasi seluruh aspek pemahaman subyek didik akan tata nilai yang di internalisasinya. Aspeknya tidak sekedar menghafal, melainkan mendasar pada sejauh mana subyek didik menghidupi suatu tata nilai di dalam relasi hidupnya baik personal maupun sosial. Penilaian kualitatif mencoba melihat apa yang diamati, dirasakan, diimajinasikan, dipertimbangkan secara rasional, dinilai, dibuat komitment dan dilaksanakan subyek didik melalui metode sederhana semi-klinis melalui transkrip dan portofolio keseluruhan proses pembelajaran.

B.    Aspek-Aspek Penilaian Kualitatif

1.    Aspek kemapuan refleksi
Kepercayaan beragama (eksistensial) menyangkut pola yang bersifat bipolar dan tripolar. Artinya, bahwa subyek didik di dalam menginternalisasi dan berproses di dalam sikap beragama didasari hubungan antara dirinya dan orang lain dan pusat nilai yang dianggap paling ultim bagi subyek didik. Maka proses kepercayaan beragama (eksistensial) menyangkut tiga pokok sebagai berikut , yaitu ;
a.    Cara individu atau kelompok secara pribadi melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa individu merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan arti yang dimiliki bersama.
b.    Cara tertentu individu dalam menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam kehidupannya yang majemuk dan kompleks.
c.    Cara individu melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesama yang dapat menjadi acuan hidup individu tersebut, seperti kesehatan, kekuasaan, karier, sukses, kreativitas, penyerahan diri pada Tuhan, dan sebagainya yang semuanya bisa menjadi nilai inti dan daya gerak hidup seseorang.
Untuk itu tiga hal diatas jika dikaitkan dengan kompetensi belajar, sungguh terkait erat dengan apa yang disebut dengan kompetensi interpersonal, intrapersonal dan eksistensial.

2.    Aspek Kompetensi Interpersonal
Aspek Interpersonal, adalah aspek kemampuan subyek didik terkait dengan bagaimana cara pandang subyek didik terhadap sebuah relasi dengan orang lain, dirinya (self assessment) dan berbagai tata nilai. Bagaimana subyek didik mengkontruksi dan menilai sebuah relasi atau hubungan tersebut. Hal tersebut menyangkut segi-segi pokok sebagai berikut ;
a.    Pengambilan peran, yaitu kemampuan individu untuk mengambil perspektif sosial yang berbeda dengan perspektif pribadi. Hal ini meliputi sejauh mana seorang mampu mengidentifikasi diri dengan kelompok lain dan mengambil peran dan perspektif kelompok itu, misalnya kelompok keluarga, teman sebaya, dan sebagainya.
b.    Batas-batas kesadaran sosial yang menopang rasa identitas diri dan tanggungjawab sosial. Misalnya batasan kelompok-kelompok atau orang lain yang dipilih dalam membentuk dan memelihara identitas diri.
c.    Pusat autoritas, menyangkut soal apa dan siapa yang diakui dan diterima sebagai sebagai instansi autoritas individu. Misalnya pribadi-pribadi, gagasan, dan lembaga yang menjadi tempat andalan bagi seseorang dalam pembentukan arti dan makna.

3.    Aspek Kompetensi Intrapersonal dan Eksistensial
Aspek Intrapersonal dan Eksistensial, yaitu kemampuan subyek didik terkait dengan bagaimana subyek didik memahami mengenai berbagai hal yang ia temui dalam kehidupan. Bagaimana subyek didik memandang dunia dan lingkungan sekitarnya, realitas sosial, pengalaman-pengalaman yang menyangkut kehidupannya. Hal tersebut meyangkut segi-segi pokok sebagai berikut ;
a.    Koherensi dunia, yaitu cara berpikir menurut aspek keseluruhan, seperti gambaran komprehensif tentang  dunia, hidup dan lingkungan akhir yang memberikan koherensi dan rasa berarti yang menyeluruh. Misalnya pandangan subyek didik tentang tujuan hidup manusia.
b.    Fungsi simbol, yaitu daya afektif-kognitif dari imajinasi yang mengintegrasikan seluruh aspek pengenalan iman. Merupakan kemampuan menggunakan dan memahami simbol. Misalnya arti penderitaan  bagi subyek didik.
c.    Tacit System, yaitu kerinduan-kerinduan subyek didik menyangkut cita-cita, keprihatinan, harapan yang mendalam dan berpengaruh dalam hidupnya.

4.    Simpul  Analisa Kualitatif
Berdasarkan dari berbagai analisa teks refleksi, analisa berbagi pengalaman beragama (sharing), analisa doa, puisi dan performance sebagai ungkapan dan ekspresi lambang akan nilai dan analisa terhadap aktivitas di dalam tugas kelompok, ada upaya analisa yang mencangkup tiga proses penting di dalam setiap individu subyek didik bergulat akan nilai religi, yaitu ;
a.    Proses Pemberian Arti, yaitu proses dimana setiap manusia membutuhkan arti dan makna, dan selalu orientasi hidupnya mengacu kepada makna nilai tersebut. Proses subyek didik menginternalisasi kepercayaan beragama (eksitensial) merupakan dinamika proses seseorang untuk memberikan arti dan makna pada hidupnya, dimana subyek didik menyingkapkan arti hidupnya. Arti dan makna tersebut adalah hasil upaya kreatif di dalam proses menemukan dan menciptakan, baik yang bersifat aktif maupun pasif.
b.    Proses menjalin relasi atau hubungan. Proses kepercayaan beragama (eksistensial) selalu terkait dengan relasi yang menyangkut relasi diri dengan orang lain, kebergantungan  diri kepada orang lain. Hal itu merupakan proses rasa terikat dan dekat, rasa komitmen dan setia. Semua ini tampak di dalam setiap proses religius, dimana terjalin suatu interaksi kelompok, bahasa, upacara, dan tradisi rohani yang membentuk kepribadian religius setiap subyek didik.
c.    Proses pengertian. Proses kepercayaan beragama (eksistensial) merupakan kegiatan mengenal , yaitu sebagai suatu cara khas pengertian dan pengkonstruksian mental, dan terutama sebagai suatu bagian dari seluruh kegiatan konstitutif dari ego. Maka kepercayaan beragama (eksistensial) ini merupakan bagian dari subyek didik untuk mengenal dan mengerti apa yang menjadi bagian di dalam proses hidupnya. Proses pengertian ini meliputi berbagai konstruksi tentang diri, pemahaman, cara berpikir yang mengintegrasikan komponen utuh atas afeksi dan kognisi dalam hal pengambilan perspektif, analisis, dan pertimbangan moral

purwono nugroho adhi
dasar-dasar kajian ini disarikan dan dikembangkan dari
Agus Cremers. (1995). Tahap-Tahap Perkembangan Kepercayaan  menurut James W. Fowler. Kanisius: Yogyakarta
Fransisca Sandra Palupi. (2002). Penelitian Kualitatif Perkembangan Kepercayaan Eksistensial Remaja, di SMU BOPKRI I Yogyakarta. Skripsi, Unika Soegijapranata Fakultas Psikologi: Semarang

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s