…….di sudut rumah petak
Suatu ketika seorang anak bertanya pada ibunya, “Mbok, kenapa aku harus sekolah ya “?. Sang Ibu itu menjawab, “Ya biar pinter tho le, biar kamu bisa jadi dokter, pilot, atau presiden”. Kemudian anak itu berdiam, matanya sendu melamunkan sesuatu yang baru saja terucap dari Ibunya. Anak itu kemudian tersenyum simpul, lalu bertanya kembali pada Ibunya, “Lha simbok tidak sekolah “?, Ibunya menjawab dengan senyum pula, “Ya makanya simbok tidak dapat jadi dokter, hanya jadi ibu yang jual dagangan saja di pasar”. Anak langsung menyahut, “tapi kan simbok dapat cari uang dengan bakulan di pasar, buktinya simbok tidak sekolah”. Ibu tersenyum simpul, “Ya kalau jualan di pasar tidak perlu sekolah, tapi kalau mau seperti yang ada di TV itu, berjas, berdasi, pandai bicara, ya harus sekolah , uangnya banyak, bisa kaya….tidak seperti simbok ini”.
……sementara di sudut Joho dua orang sedang berdialog
Bang Is, menuturkan kepada ku dengan nada suara yang cukup meninggi. Pendidikan itu adalah wahana yang paling efektif untuk menunjang keberlanjutan sebuah bangsa, generasi demi generasi. Pendidikan itu sebagai alat pembentukan watak, alat pelatih ketrampilan, investasi, konsumsi dan yang jelas alat pembentuk kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, yang pasti alat mengurangi kemiskinan. Dialog pun berlanjut, dengan berapi-api Bang Is menuturkan apa yang dikajinya dari Wahono. Pendidikan dihadapkan pada sebuah perseteruan antara pendidikan yang berorientasi kompetisi ekonomi atau pendidikan yang berkeadilan sosial. Pendidikan yang berorientasi kompetisi ekonomi bakal menciptakan korban, yakni mereka yang kalah berkompetisi, tapi di lain sisi cepat menghasilkan keuntungan financial bagi yang menang. Pendidikan yang seperti ini bakal merugikan mereka yang miskin, karena tiada mampu bersaing dalam kancah produktifitas. Berbeda dengan pendidikan yang berkeadilan sosial, walaupun tidak memberikan keuntungan financial yang berarti tetapi lebih mengangkat harkat sebanyak orang. Mereka yang rentan secara ekonomi mampu ikut dalam produktifitas sistem. Pendidikan yang berkeadilan sosial mampu mendatangkan pembebasan dan mendorong pemberdayaan. Bang Is, dengan dahi berkerut dan tangan mengepal, mengkaitkan pemikiran tentang pendidikan berkeadilan sosial tersebut sampai kepada ranah kebijakan publik pemerintah. Aku terdiam, termenung memikirkan sebait kata akhir dari Bang Is, bagaimana pendidikan berkeadilan sosial tersebut menjadi kebijaksanaan publik pemerintah.
…di ujung jalan kota
Sebuah media massa memampangkan tulisan headline “Sekolah bebas biaya” (Walikota Sutarip yang mengusulkan Red), sedangkan di sudut bangku gedung balai kota beberapa orang sedang asyik mendiskusikan Raperda tentang pajak pendidikan. Lobi hotel ramai dengan orang-orang yang bercengkerama mengenai pajak pendidikan lagi. Ya …akhirnya pajak pendidikan menjadi istilah yang kurang pas dan diganti dengan iuran pendidikan.
…kembali ke Joho
Aku mulai mengerti apa yang diprihatinkan Bang Is, bahwa masalah pendidikan yang berkeadilan sosial ini bukanlah barang yang mudah seperti orang membalik telapak tangan. Masalah ini mengkaitkan dengan banyak pihak. Maka Bang Is berharap dapat mengkaitkan masalah biaya pendidikan bagi kaum miskin dengan Participatory legislative Drafting. Ya…mengkaitkan dengan keterlibatan masyarakat untuk terlibat aktif di dalam setiap kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah. Bagaimana masyarakat diajak untuk melihat tujuan dari setiap Perda yang dikeluarkan, penerimaa manfaatnya dari Perda tersebut, sumber pendanaan, mekanisme panggalangan dana perda, mekanisme seleksi dan verifikasi kelompok sasaran, mekanisme kontrol dan evaluasi, mekanisme transparasi dan pertanggung jawaban dan konsekuensi administrasi dan legalitas. Belajar dari apa yang dipikirkan persoalan iuran pendidikan itu, masyarakat hendaknya ikut terlibat aktif agar Perda yang dikeluarkan tepat sasaran pada masyarakat yang rentan dan membutuhkan. Aku semakin tergelitik betapa hal ini menarik, karena masalah pendidikan adalah masalah yang menyangkut manusia sebagai subyek. Ya, karena pendidikan merupakan hak bagi setiap insan untuk mendapatkannya. Bang Is mulai menghela nafas, seakan ingin bertutur kepedihannya akan permasalahan kota dengan berjuben kebijakan publik pemerintah yang kurang aspiratif. Cukup lama Bang Is berdiam. Aku pun terdiam juga seakan waktu dan tutur kata terhenti.
………sebentar di ruang kelas
Tiba-tiba suara seorang guru berkumandang, “Amri, apakah kamu sudah mengerjakan PR mu !”, Amri menjawab dengan perlahan, “baru sedikit bu”. “Bagaimana kok baru sedikit, kan sudah cukup lama waktunya !” Amri terdiam tak menjawab. Guru kembali bertanya, dengan nada suara yang sudah menurun, “kamu tidak punya buku ya ? “. Amri menjawab perlahan., “ iya bu”. “Kenapa kamu tidak membeli di Koperasi sekolah ?” Amri pun menjawab kembali, “maaf bu, simbok saya tidak punya uang untuk buku itu”. Guru berbalik bertanya, “kenapa tidak pinjam di perpustakaan”. Amri dengan menunduk menjawab, “buku sudah habis dipinjam, jumlahnya terbatas”. Guru itu menghela nafas, kemudian melanjutkan pertanyaannya, “kamu kan bisa mengerjakannya bersama teman mu, bukunya dipakai bersama”, Amri diam tak menjawab. Guru mendekat, dan bertanya, “kenapa kamu tidak lakukan Amri ?”. Amri tertunduk, dan mengucapkan sepatah kata dengan lirih, “maaf bu, saya harus bantu simbok di pasar, saya tidak punya waktu untuk mengerjakannya, setiap malam saya sudah lelah.”
…..waktu mulai bergulir kembali di Joho
Aku terhenyak dari diamku, suara Bang Is membangunkan dari waktu dan tutur yang terhenti. Bang Is mengomentari mengenai berbagai problem yang dihadapi di dunia pendidikan. Bang Is mengatakan bahwa problem pendidikan berkisar paling tidak diantara kenaikan biaya pendidikan untuk siswa baru dan tahun ajaran baru, dan keterbatasan anggaran pendidikan APBD kota. Masalah-masalah kependidikan begitu terkait dengan sektor lain, ya seperti masalah kemiskinan, politik, kepemerintahan, anggaran publik dan lain sebagainya. Maka kebijakan haruslah menyentuh secara tepat apa dan siapa yang dijadikan sasaran.
Waktu mulai berjalan sedetik, semenit, seakan mengiringi dialog ku dengan Bang Is. Pikiran ku melayang menapaki serambi pemikiran-pemikiran persoalan biaya pendidikan. Pendidikan yang mulai menapaki sebuah abad baru industrialisasi dan kapitalisasi. Pendidikan saat ini hanya menyisakan tangis ibu dan rengkuhan rapuh seorang bapak yang harus membiayai putranya untuk duduk di bangku sekolah. Biaya pendidikan yang amat mahal membuat sekolah bukanlah tempat setiap insan belajar, namun menjadi tempat beban seorang putra dari seorang bapak dan ibu yang tak tahu harus mencari uang dari mana untuk membiayai setiap detik putranya bertahan untuk belajar. Hanya merekalah yang mampu untuk membayar dapat membawa sang putra untuk menjadi siapa dia dari sekolah itu. Saat ini orang untuk belajar pun membutuhkan biaya yang amat tinggi. Padahal belajar adalah hak setiap orang, dan hak setiap generasi untuk berkembang. Kaum miskin semakin tersudutkan, hak mereka untuk berkembang sama, dipangkas oleh sistem. Pendidikan hanyalah tempat harapan bagi mereka yang miskin untuk berkembang, tetapi saat ini pun harapan itu mulai sirna dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi. Tiada yang tersisa bagi kaum miskin, hak belajar saja direnggut. Aku termenung memikirkan kompetisi yang tak sebanding ini.
….sepulang sekolah
Amri berjalan menyusuri pertokoan-pertokoan yang rame dengan orang berlalu lalang. PR nya yang belum selesai menyisakan tangis hati betapa untuk belajar pun Amri sulit karena beban biaya yang ikut dipikulnya. Perjalanan pulang sore itu dari sekolah menyisakan suatu renungan bagiannya. Ia saksikan orang memakai dasi, berjas dan bermobil mewah, sedangkan disampingnya gelandangan yang matanya menerawang tanpa harapan. Mereka yang berdasi karena bersekolah pikirnya, sedangkan gelandangan tanpa sekolah pastinya. Ironis bukan pikir Amri, mau jadi siapa ia jika bersekolah. Pasti berdasi dan bermobil mewah, tapi jika tak sekolah. Pikirnya lebih baik jadi preman saja. Tapi ia ingat simboknya, sekolah ya..jadi presiden. Sekolah pikirnya menjadi dokter, presiden, orang kaya…..sekolah untuk menjadi kaya. Semuannya sama jika bersekolah..ya jadi presiden. Padahal untuk sekolah ya…hanya yang kaya saja pikirnya. Maka tidak semua orang bersekolah..karena sekolah hanya untuk yang kaya saja..pikirnya.
….Joho lagi..
Bang Is kelihatan mulai lelah diskusi soal biaya pendidikan murah, lalu diteguknya air putih di sudut meja. Aku pun juga mulai lelah memikirkan itu. Kusudahi diskusi itu, Bang Is pun mengangguk setuju. Mungkin lelahnya kami, bukanlah lamanya kami berdiskusi, tetapi tak jelasnya kebijakan publik sudah berorientasi kepada persoalan pendidikan ini. Aku mengemasi barangku, dan bersiap untuk pulang.
..depan pintu rumah petak..
Amri pulang dengan menyisakan banyak pertanyaan. PR nya tidak hanya mengerjakan tugas sekolah, tetapi mau jadi apakah dia dengan bersekolah ……
purwono nugroho adhi
Medio November 2003, di sudut bangku harapan









