Antara Angkringan, Klithikan dan Kos-kosan
Kuratorial Mass Room Project: snapshot kehidupan mahasiswa
1. Yogyakarta, adalah kota yang kompleks. Kekompleksannya bukan karena rajutan dan hiruk pikuk tata kota dan ruang urban, namun karena interaksi budaya, kemajemukan, pluralitas dan pusat studi. Itulah, yang akhirnya membuat Yogyakarta dinobatkan menjadi city of tolerance, kota budaya dan kota pelajar. Yogyakarta merajut nostalgia dan harapan, ketika ribuan mahasiswa menggantungkan secarik cita-citannya untuk mencari masa depan. Kedua interes tersebut membawa Yogyakarta menjadi kota persimpangan dan penantian antara kegelisahan dan dinamika menyangkut masa depan. Diantara kegelisahan dan pencarian akan masa depan ini, hadir ruang-ruang yang selalu merajut setiap saat langkah mereka. Rajutan itu terjadi di angkringan, klithikan dan kos-kosan.
2. Angkringan, menjadi tempat perjumpaan mereka yang paling nyata. Angkringan menjadi perjumpaan antara kenyataan dan harapan, ketika mereka bercerengkama dan membicarakan sesuatu yang beragam dari diskusi politik hingga life style. Tentu, mereka mampir di angkringan dengan kepentingan yang beragam, dari gaya hidup hingga pilihan ekonomis. Angkringan menjadi terminal untuk merekam jejak langkah mereka, dari kebertahanan akan kiriman bulanan, kebutuhan makan-minum, ngobrol, hingga kegelisahan serta kegembiraan akan hidup keseharian.
3. Klithikan, menjadi tempat ketika senandung ekonomis menjadi nada yang paling utama. Klithikan menjadi tempat favorit bagi mereka yang membutuhkan dana dan barang yang cepat dan murah ketika barang bekas menjadi masih berlabel harga. Klithikan menjadi pilihan, ketika detak ekonomi berdering kencang, untuk sesuap nasi dan seonggok barang praktis yang dibutuhkan.
4. Kos-kosan, menjadi perhentian yang paling akhir, ketika mereka sudah lelah dengan segala kepenatan teori-teori dan hiruk pikuknya hidup. Kos-kosan menjadi tempat yang paling ultim bagi hidup mereka, dari yang kultis hingga penyimpangan-penyimpangan yang absurd. Kata sewa menjadi ikon yang tak pernah lepas dan lapuk tertempel di setiap sudut ruang kos itu. Walaupun sementara, namun seringkali kos-kosan ini menjadi tempat yang paling menyita seluruh nostalgia dan anamnese hidup mereka, karena ada cerita, ada kisah bahkan ada skandal yang terjadi atas hidup mereka. Namun, di kos-kosan ini, bisa menjadi awal yang paling berharga dalam penentuan masa depan hidup mereka dari menjadi tukang sapu, hingga menjadi presiden.
5. Angkringan, klithikan dan kos-kosan menjadi sama sekaligus menjadi absurd, ketika dikaitkan dengan cerita dan kisahnya. Cerita soal rutinitas, kegalauan, kegelisahan serta harapan. Angkringan, klithikan dan kos-kosan menjadi ruang yang jauh dari kegemilangan, namun sering kali juga menjadi titik pijak suatu harapan. Angkringan tentu saja berbeda dengan cafe yang menyuguhkan rave party-nya.Tetapi keduannya sama menempa kegelisahan dan kegundahan akan rutinitas urban. Klithikan juga berbeda dengan hypermart , tetapi keduannya mempunyai titik pijak yang sama akan nilai ekomomis. Angkringan dan klithikan berpangkal pada ujungnya, yaitu kos-kosan. Ketika mereka semua mulai pulang dan letih untuk membaringkan sebait doa atau makian atas hidup mereka, atau obrolan yang tak kenal ujung atau mungkin menemukan kesejatiannya untuk menjadi orang yang dewasa. Kos-kosan tak mengenal kata kaya dan miskin, yang ada hanya ”bayar” untuk meyewa.
6. Semua tersadarkan, bahwa hiduppun ini hanya ”menyewa”. Semua berujung pada hal yang sama, antara angkringan, klithikan dan kos-kosan hanya ada kata ”membayar”. Membayar untuk apa, membayar untuk makan, membayar untuk senggok barang bekas dan melepas lelah. Tentu tidak hanya itu, karena antara angkringan, klithikan dan kos-kosan ada harapan. Harapan untuk hidup lebih baik, dari hari sebelumnya. (purwono nugroho adhi)










mas ipunk, ni yang ikutan avantgardist. gimana rencana kedepan? masih mo dilanjut???
fr. hendra
mas ipung, saya juga sudah mulai mengelola blog ippak, apa bisa di link ke tempat mas ipung juga.
trus kalau ada juga mas ipung bisa memberikan tulisan-tulisan tentang katekese, bisal lewat e-mail saya sj_hendra@yahoo.com
alamat blog http://www.ippakusd.wordpress.com
o ya mas, barangkali rencana kelompok avant gardis bisa dilanjutkan lagi setelah liburan bagaimana mas…banyak yang berminat,..
terima kasih.