dari puisi, film hingga filsafat

Posted: Agustus 3, 2009 in kajian seni

peoplewalkingSecara etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poesis yang berarti penciptaan. Puisi adalah penciptaan rasa dan imaji yang hadir dalam wujudnya, dalam hal ini, ada banyak hal yang dapat diungkapkan, terutama melalui kata. Puisi menghadirkan kembali keindahan, peristiwa, kegelisahan, pertanyaan, dan lain sebagainnya. Puisi menjadi medan yang paling dinamis, ketika didalamnya terjadi ruang dialog antara kehidupan dengan daya pikat seni. Puisi menjadi kerja seni yang kolaboratif sekaligus emansipatif, ketika kata tak hanya terlontar begitu saja, tetapi mewakili sebuah ”tanya” kehidupan yang dipadu dengan tipografis, diksi, figuratif dan versifikasi.

Kekayaan dan kompleksitas ruang puisi ini membawa kreatifitas untuk mencoba menyusun ulang dan mengelaborasinya dengan tehnik lintas seni lainnya, salah satunya dengan film. Ruang puisi dapat dikembangkan dan diperkaya dengan pendekatan apresiasi terhadap film, atau sebaliknya, dari film apresiasi diwujudkan dalam sebuah puisi. Tentu dalam hal ini, kerja seni puitika seakan dikembangkan dalam bentuknya yang lebih luas, karena mengandung daya-daya imajinasi kata dengan naratif turn yang disampaikan oleh film.

Pertama, yang perlu disoroti, daya figuratif atau majas, menjadi komponen penggerak kreatifitas puitika dengan film. Figuratif yang antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, antiklimaks, paradoks, pars pro toto, totem pro parte, hingga satire atau yang lainnya, menjadi medan permainan kata yang dipadu dengan simbol-simbol makna atau tema yang hendak ditafsirkan dari film. Majas, bisa saja dari perbandingan, perulangan hingga sindirian menjadi dialog interaktif yang seakan merangkum padu sebuah tema atau plot yang mau disajikan dalam sebuah film. Disinilah, letak sebuah karya seni puisi diletakkan dalam bingkai mediasi sastra yang lebih luas, yaitu apresiasi film.

Kedua, adalah segi diksi atau pemilihan kata, menjadi permainan menawan antara tema atau plot film, atau hiruk pikuk dinamika penokohan dengan kata yang dipilih. Pilihan terletak pada konsep kata-kata yang dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih pendek dan ringkas, namun mampu menghubungkan seluruh plot atau alur tematis film yang muncul, baik penokohan, himbauan moral atau nilai-nilai tertentu.

Ketiga, adalah segi versifikasi, dimana rima dan ritme dipergunakan untuk memperindah makna, namun menjadi komposisi yang tak meninggalkan diksi dan figuratifnya atas alur, plot dan pesan moral dari film.

Keempat, adalah segi yang paling puncak, yaitu segi batin puisi. Segi ini merupakan ajang pergulatan antara mata, rasa dan logika. Proses antara logika apresiatif terhadap film dengan rasa dan aktualita kehidupan. Detak-detak filsafati terasa dalam pergulatan ini, dari eksistensial hingga ontologis. Nuansa moral, nilai dan cara pandang menjadi permainan kata dan keindahan. Berfilsafat tentu tidak harus berangkat dari pijakan term tertentu, tetapi cukup melalui sebuah parabel dari apa yang ditemukan atas plot cerita atau naratif turn film. Disinilaih letak sebuah tripolaritas gagasan yang bernuansa hermeneutik, antara kata dalam figuratif puisi dengan film dan rasa yang berjiwa filsafat

selengkapnya mengenai pemaparan-pemaparan puisi atas film ini bisa dilihat pada apresiasi film dengan puisi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s