sebuah catatan lepas apresiatif film “Kill Bill”, karya Quentin Tarantino

Ambil pisaumu !
tembakan senapanmu !
ketika ada tangis dibaliknya,
ada satu lara yang tak tertahan,
dibalik kisah tragis semua itu bermula,
walaupun sirna semua,
percayalah ada yang tak sirna,
sakitmu !!!
Jika kita sadari, kehidupan dan interaksi sosial selalu dipandang begitu kompleks dan rumit. Sering kali dalam struktur sosial lahir berbagai pengalaman individu yang mengalami ketersingkiran, ketertidasan, kekecewaan dan perendahan (low-sefl esteem). Konflik atas kekuasaan ini akan melahirkan luka-luka narsistis yang begitu mendalam. Maka ketika seseorang mengalami ketertekanan yang begitu panjang, ia akan merekontruksi pengalamannya tersebut dalam upaya penyesuaian diri untuk meraih harga dirinya dengan berbagai kecenderungan pembetukan maladaptive group, yaitu organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok garis keras. Hal itu didasari adanya akumulasi kekecewaan kolektif yang sudah menjadi bagian dari hidup sosial suatu kelompok masyarakat, baik bersifat kebutuhan hidup (basic need) atau kontruksi pandangan. Kekecewaan ini biasanya akan memicu sebuah kontruksi cara berpikir kolektif, sebagai rangkaian common atau perasaan senasib yang akan melahirkan rangkaian efek domino secara terus menerus.
Kekerasan pun lahir dari pribadi dan komunitas yang mengalami narsistis personal dan terakumulasi secara sosial menjadi sebuah kerangka pikir mengenai mekanisme korban (victim). Maka kekerasan yang terjadi dikaitkan secara mendasar pengalaman sebagai korban yang harus merekontruksi upaya-upaya vendeta atau pembalas dendaman secara habis-habisan (zero sum) . Upaya ini menjadi roda yang tak henti-hentinya untuk berputar membuat ritus-ritus kekerasan tanpa akhir. Pilihan politis menjadi bersifat sangat narsistis sebagai representasi kekecewaan. Pilihan politis pun lahir dari berbagai sikap frustasi yang berkepanjangan, yang akan melahirkan agresi-agresi dan pemberontakan-pemberontakan yang tak mendasar.
Implikasi dari hal ini akan melahirkan sebuah simbol-simbol perlawanan politis yang terkait dengan pilihan untuk mengupayakan banalitas dan penghancuran habis-habisan (zero sum). Maka kepentingan politisnya hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa banalitas, perlawanan yang hanya mementingkan kontruksi narsitis sebagai korban. Pilihan politis pun berubah menjadi egoisme pengorbanan, dimana tiada lagi empati terhadap kelompok lain, selain kepentingan untuk menghancurkannya. Kontruksinya menjadi daya pembenaran-pembenaran sebagai korban, untuk melegitimasi gerakan dan pilihan politis yang dilakukan
dikembangkan dari berbagai sumber









