<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>purwonomedia</title>
	<atom:link href="http://purwonomedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://purwonomedia.wordpress.com</link>
	<description>sebutir gagasan akan makna</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Feb 2011 01:10:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='purwonomedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>purwonomedia</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://purwonomedia.wordpress.com/osd.xml" title="purwonomedia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://purwonomedia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apocalypse</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com/2010/01/31/apocalypse/</link>
		<comments>http://purwonomedia.wordpress.com/2010/01/31/apocalypse/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 02:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>purwonomedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwonomedia.wordpress.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kajian sederhana puisi facebook Catatan Awal Saya tergelitik dengan istri saya, ketika beberapa bulan yang lalu berdiskusi soal puisi Apocalypse yang sempat di posting di FB-nya. Intinya, apa to, sebenarnya yang dimaksud dengan Apocalypse itu. Apakah Apocalypse ini selalu dihubungkan dengan “neraka” , “kiamat” atau “akhir zaman”. Tentu secara pemahaman umum selalu dipahami dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=323&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebuah kajian sederhana puisi facebook</em></p>
<p><strong>Catatan Awal</strong></p>
<p>Saya tergelitik dengan istri saya, ketika beberapa bulan yang lalu berdiskusi soal puisi Apocalypse yang sempat di posting di FB-nya. Intinya, apa to, sebenarnya yang dimaksud dengan Apocalypse itu. Apakah Apocalypse ini selalu dihubungkan dengan “neraka” , “kiamat” atau “akhir zaman”. Tentu secara pemahaman umum selalu dipahami dalam terminologi tersebut.</p>
<p>Tetapi, saya ingin “sedikit” berpikir berbeda. Saya ingin mengkaji Apocalypse dalam dekontruksi-nya, yang menyentuh gaya tuturnya yang “realis”, bukan sekedar “absurd” dan menyangkut yang “akhir zaman” semata, tetapi lebih kepada gaya tutur dari sebuah “kedalaman” (deep level) atas pembacaan realitas dan relecture atas sebuah kontruksi “budaya” mengenai “akhir zaman” dalam semangat puisi populer.</p>
<p>Agar mempermudah apresiasi, sekali lagi saya minta maaf kepada teman-teman semua, saya memilih tiga penyair facebook yang jelas saya kenal, dekat dan pahami dan mengetahui apa yang digelisahkan. Dan, tentu mudah untuk ijin “menggarapinya” tanpa harus sungkan.</p>
<p><strong>Apa itu sastra Apocalypse<br />
</strong><br />
<a href="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2010/01/19859_1286616198825_1032763878_30947864_1853178_n.jpg"><img src="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2010/01/19859_1286616198825_1032763878_30947864_1853178_n.jpg?w=274&#038;h=300" alt="" title="19859_1286616198825_1032763878_30947864_1853178_n" width="274" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-324" /></a>Apocalypse berasal dari bahasa Yunani (αποκαλυψις -transliterasi: &#8220;Apokalypsis&#8221;), secara harafiahnya berarti menyingkap kain penutup atau cadar. Intinya dapat dimengerti sebagai bentuk peristiwa penyingkapan kepada orang-orang tertentu (terpilih) yang mendapatkan hak istimewa (wahyu) tentang sesuatu yang masih tersembunyi. Pada perkembangnnya, istilah ini sering digunakan untuk merujuk kepada paham-paham soal Armageddon atau akhir dunia. </p>
<p>Maka sastra Apocalypse sering dihubungkan dengan karya tulisan yang bersifat atau berciri pengungkapan peristiwa-peristiwa masa depan yang dibuat berdasarkan mimpi atau peng-lihatan khusus tentang akhir dunia, atau dalam bahasa religius lebih luas kepada akhir zaman. Untuk itu sastra ini lebih bersifat layaknya visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal. Cirinya yang eskaton (melampaui-akhir dari segala sesuatu) membuat gaya tuturnya cenderung “ngeri”, seakan memberikan ikatan luar biasa yang akut. </p>
<p>Sastra ini banyak menjadi ciri penanda di berbagai sastra kitab suci. Dalam berbagai penulisan kitab suci, sastra ini sering menggambarkan bagaimana para nabi menyatakan keadilan Tuhan atas yang apa yang terjadi di masa depan. Hal itu tentu sering menyangkut dimensi religius moral sebagai dimaksudkan untuk menunjukkan cara Tuhan berurusan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia. Unsur misterius, jelas tampak dalam setiap penggal kata dengan kegeriannya dan berbagai simbol-simbolnya, antara lain tampak paling jelas dalam penggunaan citra fantastis, sosok makhluk hidup yang berupa &#8220;binatang&#8221; aneh atau citra supra manusia atau simbol angka-angka.</p>
<p>Tetapi, jangan gegabah hanya mengecap sastra Apocalypse sebagai hal-hal yang menyangkut “eskaton” saja. Ada berbagai pemikiran yang lebih menghubungkan dimensi moral sosial kritis sebagai bentuk daya dorong sastra Apocalypse ini, yaitu sebagai kritik sosial atas kekuasaan dan daya “pengeling” atau pengingat, agar orang kembali kepada jalannya yang benar. Lihat saja, misalnya Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Rangga Warsita yang berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait, yang berisi kata-kata yang bertutur soal &#8220;zaman gila&#8221; atau zaman édan. Ada yang mengatakan, bahwa Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan, lalu ia menggeneralisir situasi itu sebagai zaman gila di mana terjadi krisis. Hal itu sebagai penegasannya atas kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi oleh para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi, perlakuan dan sikap moral yang tak senonoh serta berbagai perkembangan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan. Begitu juga misalnya, Ramalan Jayabaya, yang hingga saat ini belum diketahui siapa penulisnya, karena bersifat anonim. Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis pada masa Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal secara khusus di kalangan masyarakat Jawa, yang tertera dalam surat Centhini pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44 yang dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman Kalabendu. Ramalan ini pun disinyalir juga sebagai bentuk kriitik atas ketidak adilan yang terjadi dan sinyalemen-sinyalemen kolonial yang mulai merasuki tanah jawa saat itu.</p>
<p>Membaca sastra Apocalypse dalam dekontruksinya, apalagi populer, memang menarik, misalnya pada puisi tiga teman kita, sandra palupi, kuniawan yunianto dan jeppe indra. Ketigannya mempunyai relecture (pembacaan kembali) ikon Apocalypse yang berbeda-beda, sandra palupi dengan “personal Apocalypse” –nya dan setia melantun pada kekuatan yang menjadi ciri dan penanda sastra Apocalypse ini, sedangkan kurniawan yunianto dengan “mistis Apocalypse”, yang seakan merajut untaian oriental dan paduan magis, sedangkan jeppe indra memadukkan dalam gaya realis kritis, seakan menjadikan sebuah “realis Apocalypse”.</p>
<p><strong>“Personal Apocalypse” puisi sandra palupi</strong></p>
<p>Dalam puisinya “Apocalypse” karya sandra palupi, bait awal dituliskan seperti ini:</p>
<p>“Binatangbinatang itu ‘kan peluk para bunga berapi, anakku<br />
serta hujan, dan asap, dan angin, dan debu bersekutu jadi batuan beku<br />
tak berhati nurani<br />
dalam gempurannya, semuamua manusia mati lenyap mencari pelukan petir<br />
lalu langit perkasa itu mematung, tersapu badai gelap tak bermata”</p>
<p>Sebuah “penggambaran” muram yang bersifat “eskaton” terasa mengingatkan soal “hari penghakiman”. Gambaran ciri Apocalypse menjadi kuat dalam ungkapan-ungkapan alam dan kehancurannya. Namun pada bait selanjutnya,</p>
<p>“…tepat tengah malam nanti<br />
Dia bisikkan itu padaku<br />
tentang nasib kita,anakku<br />
tunggulah sesaat lagi…”</p>
<p>Terasa setting dikembalikkannya dalam dimensi yang yang lebih personal (dialog seseorang dengan anaknya) sebagai refren, karena akan diulang dengan penuturan yang berbeda, tetapi tak kehilangan akar “eskaton”, sebuah visi, atau penyingkapan misteri yang hadir. Kata “Dia bisikkan” menjadi tanda dramatis akan Apocalypse sebagai sebuah pengalaman batin personal akan ciri visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal, sebagai penguat “orang-orang pilihan” (peng-lihatan supra).</p>
<p>“baiknya semuamua manusia percaya berlindung dalam perahu kudus<br />
tinggal pergi derita pilu, kemunafikan dan ketidakadilan yang melangit<br />
lagi dan lagi siksa kerongkongan<br />
segala isi kantong duniamu tak ada guna kini, juga pekerjaan<br />
kian buatmu tertindas. Bawa lekas anak istri keluarga buyut,<br />
semuamua<br />
karna seonggok nyawa lebih berarti dari serakan harta. Segeralah anakku,<br />
jangan tunggu hingga segala air laut kesepian itu selimuti bumi<br />
dan melumatnya dengan birahi.”</p>
<p>Sebuah seruan moral seakan ditekankan sebagai pengingat. Hal ini menjadi cirinya, sebagai bentuk dispensasionalisme atau seruan moral akan penghakiman atas dosa-dosa, sebuah seruan “eskaton” tentang kebijakan Tuhan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia.</p>
<p>“…bergegaslah, sebelum tegah malam nanti<br />
Dia serukan kuat padaku<br />
tentang nasib kita, anakku<br />
teguhkan hati karna itu pasti…”</p>
<p>Bait-bait jenis diatas pun diulang dalam sentuhan yang berbeda, untuk memperkuat kekuatan “ramalan” atau visi. Bait-bait selanjutnya digiring pada untaian frase-frase yang bertutur, berdialog seakan mengingatkan jenis Apocalypse gaya konvensional. Gambaranya layaknya akhir zaman sebagai mana disebut dalam kitab-kitab Perjanjian Lama (Ke-Kristenan, pada Kitab Daniel dan Wahyu) mengenai penilaian orang-orang yang tak percaya, serta kebangkitan dan pemuliaan dari orang-orang yang diberi kebenaran di hadapan Tuhan dan mengenai nasib orang-orang benar. Namun, semua itu seakan dibaca ulang dalam bingkainya yang populer, yaitu dimensi personal realis, hubungan antara seseorang dengan anaknya, serta pembacaan yang dramatis akan sikap moral, perilaku dan “pangeling”. Hal itu terlihat dalam ungkapan-ungkapan yang seakan “diperlambat” dalam plot tuturnya.</p>
<p>bertekurlah pada lantai berpantul dosamu<br />
tlah Dia tebus habis keegoisan manusia bumi. Kini gilirannya<br />
aku, kau, semuamua ‘tuk serahkan tubuh berbalur jiwa.<br />
Demi Dia.<br />
Demi dunia.<br />
Sebagai ganti Dia akan datang dan bertahta<br />
dalam sinar berkilau-kilau cahaya,<br />
bukankah kita ’kan ikut bersukacita kelak ?</p>
<p>…Hening. Tengah malam tadi lewat hari pagi<br />
Dia membisu padaku<br />
belum terjadi , anakku<br />
belum ada tanda lagi…</p>
<p>tapi orangorang tak percaya itu keburu mencibir kaku, keburu berbuah resah<br />
lalu para penjaga keburuburu mengepung kita, anakku…dengan perlengkapan<br />
yang seharusnya ditanggalkan<br />
mereka tak tahu, bumi sedang bersekutu dengan bulan-matahari-bintang,<br />
berbisikbisik tentang perilaku mereka, lalu menunggu saat tepat untuk mengerjai mereka</p>
<p>…mengapa bukan tengah malam tadi kita binasa<br />
atau Dia uji iman kita, anakku<br />
nasib kita jelas pada torehan tanganNya<br />
harus. Kita bersabar dan menunggu…</p>
<p>keyakinanku sekeras batu karang, tak ‘kan mengembun oleh kuatnya debur jantung<br />
ini nubuatNya, dalam tali suara surgawi berbentuk aku<br />
telah tertulis rapih korban raga kita dalam setiap helai bening rambutNya<br />
kita akan berbahagia bersama, anakku. Aku dapat lihat dan rasakan sangat.<br />
Tidakkah kalian juga ?!</p>
<p>…Lihat. Kini Dia datang dalam senyumNya<br />
taburi warnawarni ribuan cahaya<br />
datang selamatkan kita<br />
tertawa menari karna kita cinta…</p>
<p>Mari berbaring rebah dalam senyum seluas langit, hingga harapan dan damai<br />
berangkulan nyanyikan bait-bait kebebasan yang pelangi<br />
hingga sayap-sayap tangan terulur menggapai jubahNya yang seputih angin<br />
jangan peduli korban darah-tangis-raga kita yang berseberangan dengan keindahanNya</p>
<p>…Anakku,<br />
lihat tanda itu…”</p>
<p>Akhir dari puisi ini pun ditarik oleh sang penulis dalam konteks kekinian yang realis dan dalam ujud metaforis yang lazim, yaitu tentang “akhir hayat”, sebuah gagasan Apocalypse personal.</p>
<p>“semua akan terjadi saat Dia menjemput kita<br />
mari semuamua kita bersamasama terpejam<br />
kelak jumpa lagi di suaka mega langit berumput hijau kemilau</p>
<p>rest in peace,<br />
beristirahatlah dalam damai.”</p>
<p>Inilah gaya Apocalypse konvensional sandra palupi. Gaya seperti ini tentu “tak laku” dan “tak populer” jika dibingkai dengan “apa adanya” saja, tetapi sandra palupi mencoba dan memberanikan dirinya dengan menyusun “relecture” (pembacaan kembali) dengan konteks personal, pribadi, serta bertutur kekinian dalam gayanya yang sederhana, ngepop tanpa meninggalkan koridor konvensional Apocalypse.</p>
<p><strong>“mistis Apocalypse” puisi kurniawan yunianto</strong></p>
<p>Gaya puisi kurniawan yunianto yang berjudul “musim Panen Ke sekian” seperti tak ber- Apocalypse , tetapi jika dilihat secara seksama, gaya Apocalypse dikemasnya dalam sebuah pandangan oriental soal “reinkarnasi”. </p>
<p>“kau bakal memetik rembulan<br />
yang bukankah buah dari perbincangan<br />
di sebuah tempat yang hingga kini<br />
masih saja kau rindukan sejuknya<br />
taburan bulubulu gerimis itu<br />
saat menyambut kita datang</p>
<p>Kata “kau bakal…” dan “di sebuah tempat…” membawa pada permenungan mistik yang mendalam. Gaya tutur visioner akan sebuah “ramalan”, atau mungkin peristiwa layaknya “de javu”. </p>
<p>sekarang biarlah kehidupan dan kematian<br />
sengit berpilinan saling meniadakan<br />
agar nanti kebenaran menjelma sebagai benih<br />
yang layak dan memang seharusnya kutanamkan<br />
pada tanah basah yang menghampar<br />
di luas kesuburanmu</p>
<p>Kata “sekarang biarlah kehidupan dan kematian …sengit berpilinan saling meniadakan” menjadikan puisi ini menguat di nuansannya yang Apocalypse. </p>
<p>meski mungkin sedikit berlebihan<br />
saat kutunjukkan sebuah kesungguhan<br />
tapi tak ada yang marah kepada kita bukan<br />
seperti kau bilang tuhanpun telah berkenan</p>
<p>maka kubiarkan kain putih menyelimuti<br />
bagian tubuhmu yang rimbun yang subur<br />
yang kelak melahirkan prajurit naga<br />
sebelum akhirnya kuantar kau ke sebuah tempat<br />
terjanjikan saat kau berkebaya ungu<br />
saat aku menjadi petanimu</p>
<p>jauh berabad lalu”</p>
<p>Gaya tutur yang di balut kurniawan, membawa sebuah pemaknaan akan “masa depan” , soal “akhir dari zaman”, dalam hal ini akhir dari sebuah kehidupan seseorang. Walau tak bernada “eskaton” konvensional seperti puisi gaya sandra palupi diatas, namun ada dimensi yang bernada menyoal “hidup setelah kematian”. Kata “jauh berabad lalu” seakan menilik soal reinkarnasi. Jika dilihat dari bait sebelumnya yang mengatakan “maka kubiarkan kain putih menyelimuti………hinga bait …..terjanjikan saat kau berkebaya ungu…saat aku menjadi petanimu” , menjadi penegas sebuah dimensi selepas kematian dalam ungkapan “ sebuah tempat…… “, walau sepertinya ini bisa dihubungkan dalam tutur dramatis sang penulis mengenai “perkawinan”. </p>
<p>Tentu gaya kurniawan ini bisa saya katakan sebagai mistis Apocalypse, dimana ada dimensi kedalaman akan penyibakkan misteri dalam sebuah “peng-lihatan” apakah itu sang penulis alami atau memang itu menjadi gaya tutur bahasa saja. Pernah pada suatu kesempatan, puisi itu dihubungkan oleh kurniawan dengan peristiwa nyata hidupnya, pertemuan dengan seseorang yang “misterius” menyatakan dan menyoal “pertemuan sebelum kehidupan ini” (reinkarnasi), atau perjumpaannya dengan seorang sahabat yang sepertinya pernah dialami sebelumnya (de javu).</p>
<p><strong>“realis Apocalypse” puisi jeppe indra</strong></p>
<p>Puisi jeppe indra yang berjudul “desember”, mencoba menyusun relecture Apocalypse dalam bingkainya yang “realis”, jika kita tengok bait pertamannya,</p>
<p>“Tunggu sebentar di sini. Tunggu,<br />
sampai kita benar-benar melihat mereka<br />
mengendarai waktu<br />
dalam gulita cahaya.”</p>
<p>Kata-kata yang dirangkai sepertinya mengajak pembacanya selayaknya seorang “vision”, ada unsur “ramalan”, yang bersifat “antisipatif – futuristik”, bahwa akan ada kejadian peristiwa. </p>
<p>Semestinya, kau tahu<br />
kita pun tak di sini<br />
semestinya kita di sana bersama mereka<br />
nentukan waktu.</p>
<p>Lihat. Lihat!</p>
<p>Bait diatas, layaknya ada himbauan dari “sang vision”, untuk terlibat dan mengantisipasi kejadian itu. Seruan kata “lihat.Lihat!..” menjadi titik, bagaimana “sang vision” seakan mengajak memberikan “pembuktian” atas “penglihatannya”, pada bait selanjutnya ,</p>
<p>Dari lorong-lorong pabrik mereka datang<br />
dari kampus-kampus bisu mereka nentang<br />
dari pasar-pasar becek mereka lantang<br />
dari kampung-kampung miskin mereka nyerang.</p>
<p>Jadi gelombang. Jadi gelombang!</p>
<p>Ramalan “sang vision” terjadi, peristiwa terasa disajikan terurai begitu rupa. Sebuah gerakan “massa” yang begitu masif digambarkan. Tentu ini bukan gambaran seperti sajak Apocalypse konvensional dengan mencekam seperti “hari penghakiman” atau “eskaton”, tetapi, mungkin dengan “nada dasar” yang sama oleh penulis diletakkan dalam kerangka realisasi gerakan massa saat itu (peringatan hari anti korupsi). Atau, jika dibaca ulang, mungkin diletakan untuk menyindir (satire) pernyataan presiden saat itu yang merasa ada “ketakutan” terhadap gerakan massa yang lebih besar. Bait-bait selanjutnya, menjadi sesuatu yang berbeda</p>
<p>Seharusnya kita tak di sini<br />
ngumpet di gorong-gorong kemapanan<br />
pembeli waktu lalu lupa.<br />
Lupa pada waktu –</p>
<p>Seruan moral kembali dilontarkan, terasa menjadi “pengeling”. Inilah ciri dari sastra Apocalypse yang selalu memberikan himbauan moral melalui pola-pola antisipasi akan “bahaya” masa depan. Bait kemudian, bertutur berbeda</p>
<p>ada yang diculik belum kembali<br />
ada yang sakit tak terobati<br />
ada yang korupsi tak ditangkapi<br />
ada tikus got &#8211; lintah darat di demokrasi!</p>
<p>Dan kita masih di sini?</p>
<p>Penulis merangkai ciri Apocalypse dalam kaitan sejarah masa lalu. Memang dalam kerangka sastra Apocalypse, sering sejarah masa lalu dimasukkan dalam visi, untuk memberikan konteks sejarah yang tepat untuk prediksi (ramalan) atau penguat pesan, atau bahkan untuk menyindir kepentingan “kekuasaan” tertentu. Pertanyaan,.. “ Dan kita masih di sini?..” menjadi “pangeling” moral. Tentu, akhirnya gaya Apocalypse dalam puisi jeppe indra ini menjadi sangat berbeda dan dekontruktif, terasa ada bentuk kolaboratif sekaligus pemaknaan akan realitas sosial ke dalam bentuk-betuk sanggahan “eskaton” yang tak harus untuk “kiamat” tetapi untuk memberikan “pengeling”, seperti layaknya kritik Rangga Warsita dan Jangka Jayabaya dalam konteksnya.</p>
<p>purwono nugroho adhi,<br />
Penikmat kerja budaya</p>
<br />Filed under: <a href='http://purwonomedia.wordpress.com/category/kajian-seni/'>kajian seni</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/purwonomedia.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/purwonomedia.wordpress.com/323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=323&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwonomedia.wordpress.com/2010/01/31/apocalypse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7129ce3646420c78a746328a191525a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">purwonomedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2010/01/19859_1286616198825_1032763878_30947864_1853178_n.jpg?w=274" medium="image">
			<media:title type="html">19859_1286616198825_1032763878_30947864_1853178_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fisafati Kill Bill</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/12/05/fisafati-kill-bill/</link>
		<comments>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/12/05/fisafati-kill-bill/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 04:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>purwonomedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwonomedia.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[sebuah catatan lepas apresiatif film &#8220;Kill Bill&#8221;, karya Quentin Tarantino Ambil pisaumu ! tembakan senapanmu ! ketika ada tangis dibaliknya, ada satu lara yang tak tertahan, dibalik kisah tragis semua itu bermula, walaupun sirna semua, percayalah ada yang tak sirna, sakitmu !!! Jika kita sadari, kehidupan dan interaksi sosial selalu dipandang begitu kompleks dan rumit. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=315&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebuah catatan lepas apresiatif film &#8220;Kill Bill&#8221;, karya Quentin Tarantino </p>
<p><a href="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/12/52ef0_kill-bill-vol-1-poster-01.jpg"><img src="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/12/52ef0_kill-bill-vol-1-poster-01.jpg?w=218&#038;h=300" alt="" title="kill bill" width="218" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-316" /></a><br />
Ambil pisaumu !<br />
tembakan senapanmu !<br />
ketika ada tangis dibaliknya,<br />
ada satu lara yang tak tertahan,<br />
dibalik kisah tragis semua itu bermula,<br />
walaupun sirna semua,<br />
percayalah ada yang tak sirna,<br />
sakitmu !!! </p>
<p>Jika kita sadari, kehidupan dan interaksi sosial selalu dipandang begitu kompleks dan rumit. Sering kali dalam struktur sosial lahir berbagai pengalaman individu yang mengalami ketersingkiran, ketertidasan, kekecewaan dan perendahan (low-sefl esteem). Konflik atas kekuasaan ini akan melahirkan luka-luka narsistis yang begitu mendalam. Maka ketika seseorang mengalami ketertekanan yang begitu panjang, ia akan merekontruksi pengalamannya tersebut dalam upaya penyesuaian diri untuk meraih harga dirinya dengan berbagai kecenderungan pembetukan maladaptive group, yaitu organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok garis keras. Hal itu didasari adanya akumulasi kekecewaan kolektif yang sudah menjadi bagian dari hidup sosial suatu kelompok masyarakat, baik bersifat kebutuhan hidup (basic need) atau kontruksi pandangan. Kekecewaan ini biasanya akan memicu sebuah kontruksi cara berpikir kolektif, sebagai rangkaian common atau perasaan senasib yang akan melahirkan rangkaian efek domino secara terus menerus. </p>
<p>Kekerasan pun lahir dari pribadi dan komunitas yang mengalami narsistis personal dan terakumulasi secara sosial menjadi sebuah kerangka pikir mengenai mekanisme korban (victim). Maka kekerasan yang terjadi dikaitkan secara mendasar pengalaman sebagai korban yang harus merekontruksi upaya-upaya vendeta atau pembalas dendaman secara habis-habisan (zero sum) . Upaya ini menjadi roda yang tak henti-hentinya untuk berputar membuat ritus-ritus kekerasan tanpa akhir. Pilihan politis menjadi bersifat sangat narsistis sebagai representasi kekecewaan. Pilihan politis pun lahir dari berbagai sikap frustasi yang berkepanjangan, yang akan melahirkan agresi-agresi dan pemberontakan-pemberontakan yang tak mendasar. </p>
<p>Implikasi dari hal ini akan melahirkan sebuah simbol-simbol perlawanan politis yang terkait dengan pilihan untuk mengupayakan banalitas dan penghancuran habis-habisan (zero sum). Maka kepentingan politisnya hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa banalitas, perlawanan yang hanya mementingkan kontruksi narsitis sebagai korban. Pilihan politis pun berubah menjadi egoisme pengorbanan, dimana tiada lagi empati terhadap kelompok lain, selain kepentingan untuk menghancurkannya. Kontruksinya menjadi daya pembenaran-pembenaran sebagai korban, untuk melegitimasi gerakan dan pilihan politis yang dilakukan </p>
<p>dikembangkan dari berbagai sumber</p>
<br />Posted in kajian seni  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/purwonomedia.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/purwonomedia.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=315&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/12/05/fisafati-kill-bill/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7129ce3646420c78a746328a191525a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">purwonomedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/12/52ef0_kill-bill-vol-1-poster-01.jpg?w=218" medium="image">
			<media:title type="html">kill bill</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dari puisi, film hingga filsafat</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/08/03/dari-puisi-film-hingga-filsafat/</link>
		<comments>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/08/03/dari-puisi-film-hingga-filsafat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 07:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>purwonomedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwonomedia.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Secara etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poesis yang berarti penciptaan. Puisi adalah penciptaan rasa dan imaji yang hadir dalam wujudnya, dalam hal ini, ada banyak hal yang dapat diungkapkan, terutama melalui kata. Puisi menghadirkan kembali keindahan, peristiwa, kegelisahan, pertanyaan, dan lain sebagainnya. Puisi menjadi medan yang paling dinamis, ketika didalamnya terjadi ruang dialog [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=301&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/08/peoplewalking.jpg?w=300&#038;h=300" alt="peoplewalking" title="peoplewalking" width="300" height="300" class="alignleft size-full wp-image-303" />Secara etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poesis yang berarti penciptaan. Puisi adalah penciptaan rasa dan imaji yang hadir dalam wujudnya, dalam hal ini, ada banyak hal yang dapat diungkapkan, terutama melalui kata. Puisi menghadirkan kembali keindahan, peristiwa, kegelisahan, pertanyaan, dan lain sebagainnya. Puisi menjadi medan yang paling dinamis, ketika didalamnya terjadi ruang dialog antara kehidupan dengan daya pikat seni. Puisi menjadi kerja seni yang kolaboratif sekaligus emansipatif, ketika kata tak hanya terlontar begitu saja, tetapi mewakili sebuah ”tanya” kehidupan yang dipadu dengan tipografis, diksi, figuratif dan versifikasi.</p>
<p>Kekayaan dan kompleksitas ruang puisi ini membawa kreatifitas untuk mencoba menyusun ulang dan mengelaborasinya dengan tehnik lintas seni lainnya, salah satunya dengan film. Ruang puisi dapat dikembangkan dan diperkaya dengan pendekatan apresiasi terhadap film, atau sebaliknya, dari film apresiasi diwujudkan dalam sebuah puisi. Tentu dalam hal ini, kerja seni puitika seakan dikembangkan dalam bentuknya yang lebih luas, karena mengandung daya-daya imajinasi kata dengan naratif turn yang disampaikan oleh film.</p>
<p>Pertama, yang perlu disoroti, daya figuratif atau majas, menjadi komponen penggerak kreatifitas puitika dengan film. Figuratif yang antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, antiklimaks, paradoks, pars pro toto, totem pro parte, hingga satire atau yang lainnya, menjadi medan permainan kata yang dipadu dengan simbol-simbol makna atau tema yang hendak ditafsirkan dari film. Majas, bisa saja dari perbandingan, perulangan hingga sindirian menjadi dialog interaktif yang seakan merangkum padu sebuah tema atau plot yang mau disajikan dalam sebuah film. Disinilah, letak sebuah karya seni puisi diletakkan dalam bingkai mediasi sastra yang lebih luas, yaitu apresiasi film.</p>
<p>Kedua, adalah segi diksi atau pemilihan kata, menjadi permainan menawan antara tema atau plot film, atau hiruk pikuk dinamika penokohan dengan kata yang dipilih. Pilihan terletak pada konsep kata-kata yang dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih pendek dan ringkas, namun mampu menghubungkan seluruh plot atau alur tematis film yang muncul, baik penokohan, himbauan moral atau nilai-nilai tertentu.</p>
<p>Ketiga, adalah segi versifikasi, dimana rima dan ritme dipergunakan untuk memperindah makna, namun menjadi komposisi yang tak meninggalkan diksi dan figuratifnya atas alur, plot dan pesan moral dari film.</p>
<p>Keempat, adalah segi yang paling puncak, yaitu segi batin puisi. Segi ini merupakan ajang pergulatan antara mata, rasa dan logika. Proses antara logika apresiatif terhadap film dengan rasa dan aktualita kehidupan. Detak-detak filsafati terasa dalam pergulatan ini, dari eksistensial hingga ontologis. Nuansa moral, nilai dan cara pandang menjadi permainan kata dan keindahan. Berfilsafat tentu tidak harus berangkat dari pijakan term tertentu, tetapi cukup melalui sebuah parabel dari apa yang ditemukan atas plot cerita atau naratif turn film. Disinilaih letak sebuah tripolaritas gagasan yang bernuansa hermeneutik, antara kata dalam figuratif puisi dengan film dan rasa yang berjiwa filsafat</p>
<p>selengkapnya mengenai pemaparan-pemaparan puisi atas film ini bisa dilihat pada <a href='http://www.facebook.com/notes.php?id=1032763878'>apresiasi film dengan puisi</a></p>
<br />Posted in kajian seni  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/purwonomedia.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/purwonomedia.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=301&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/08/03/dari-puisi-film-hingga-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7129ce3646420c78a746328a191525a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">purwonomedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/08/peoplewalking.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">peoplewalking</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Ruang Urban</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/02/02/catatan-ruan-urban/</link>
		<comments>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/02/02/catatan-ruan-urban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 06:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>purwonomedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwonomedia.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Antara Angkringan, Klithikan dan Kos-kosan Kuratorial Mass Room Project: snapshot kehidupan mahasiswa 1. Yogyakarta, adalah kota yang kompleks. Kekompleksannya bukan karena rajutan dan hiruk pikuk tata kota dan ruang urban, namun karena interaksi budaya, kemajemukan, pluralitas dan pusat studi. Itulah, yang akhirnya membuat Yogyakarta dinobatkan menjadi city of tolerance, kota budaya dan kota pelajar. Yogyakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=292&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Antara Angkringan, Klithikan dan Kos-kosan<br />
</strong></h3>
<h3><strong> Kuratorial Mass Room Project:  snapshot kehidupan mahasiswa</strong></h3>
<h3></h3>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-293" title="dscn7445" src="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/02/dscn7445.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dscn7445" width="300" height="225" />1.	Yogyakarta, adalah kota yang kompleks. Kekompleksannya bukan karena rajutan dan hiruk pikuk tata kota dan ruang urban, namun karena interaksi budaya, kemajemukan, pluralitas dan pusat studi. Itulah, yang akhirnya membuat Yogyakarta dinobatkan menjadi city of tolerance, kota budaya dan kota pelajar. Yogyakarta  merajut nostalgia dan harapan, ketika ribuan mahasiswa menggantungkan secarik cita-citannya untuk mencari masa depan. Kedua interes tersebut membawa Yogyakarta menjadi kota persimpangan dan penantian antara kegelisahan dan dinamika menyangkut masa depan. Diantara kegelisahan dan pencarian akan masa depan ini, hadir ruang-ruang yang selalu merajut setiap saat langkah mereka. Rajutan itu terjadi di angkringan, klithikan dan kos-kosan.<br />
2.	Angkringan, menjadi tempat perjumpaan mereka yang paling nyata. Angkringan menjadi perjumpaan antara kenyataan dan harapan, ketika mereka bercerengkama dan membicarakan sesuatu yang beragam dari diskusi politik hingga life style. Tentu, mereka mampir  di angkringan dengan kepentingan yang beragam, dari gaya hidup hingga pilihan ekonomis. Angkringan menjadi terminal untuk merekam jejak langkah mereka, dari kebertahanan akan kiriman bulanan, kebutuhan makan-minum, ngobrol, hingga  kegelisahan serta kegembiraan akan hidup keseharian.<br />
3. 	Klithikan, menjadi tempat ketika senandung ekonomis menjadi nada yang paling utama. Klithikan menjadi tempat favorit bagi mereka yang  membutuhkan dana dan barang yang cepat dan murah ketika barang bekas menjadi masih berlabel harga. Klithikan menjadi pilihan, ketika detak ekonomi berdering kencang, untuk sesuap nasi dan  seonggok barang praktis yang dibutuhkan.<br />
4.	Kos-kosan, menjadi perhentian yang paling akhir, ketika mereka sudah lelah dengan segala kepenatan teori-teori dan hiruk pikuknya hidup. Kos-kosan menjadi tempat yang paling ultim bagi hidup mereka, dari yang kultis hingga penyimpangan-penyimpangan yang absurd. Kata sewa menjadi ikon yang tak pernah lepas dan lapuk tertempel di setiap sudut ruang kos itu.  Walaupun sementara, namun seringkali kos-kosan ini menjadi tempat yang paling  menyita seluruh nostalgia dan anamnese hidup mereka, karena ada cerita, ada kisah bahkan ada skandal yang terjadi atas hidup mereka. Namun, di kos-kosan ini, bisa menjadi awal yang paling berharga dalam penentuan masa depan hidup mereka dari menjadi tukang sapu, hingga menjadi presiden.<br />
5.	Angkringan, klithikan dan kos-kosan menjadi sama sekaligus menjadi absurd, ketika dikaitkan dengan cerita dan kisahnya.  Cerita soal rutinitas, kegalauan, kegelisahan serta harapan. Angkringan, klithikan dan kos-kosan menjadi ruang yang jauh dari kegemilangan, namun sering kali juga menjadi titik pijak suatu harapan. Angkringan tentu saja berbeda dengan cafe yang menyuguhkan rave party-nya.Tetapi  keduannya sama menempa kegelisahan dan kegundahan akan rutinitas urban. Klithikan juga berbeda dengan hypermart , tetapi keduannya mempunyai titik pijak yang sama akan nilai ekomomis. Angkringan dan klithikan berpangkal pada ujungnya, yaitu kos-kosan. Ketika mereka semua mulai pulang dan letih untuk membaringkan sebait doa atau makian atas hidup mereka, atau obrolan yang tak kenal ujung atau mungkin menemukan kesejatiannya untuk menjadi orang yang dewasa. Kos-kosan tak mengenal kata kaya dan miskin, yang ada hanya ”bayar” untuk meyewa.<br />
6.	Semua tersadarkan, bahwa hiduppun ini hanya ”menyewa”. Semua berujung pada hal yang sama, antara angkringan, klithikan dan kos-kosan hanya ada kata ”membayar”. Membayar untuk apa, membayar untuk makan, membayar untuk senggok barang bekas dan melepas lelah. Tentu tidak hanya itu, karena  antara angkringan, klithikan dan kos-kosan ada harapan. Harapan untuk hidup lebih baik, dari hari sebelumnya. (purwono nugroho adhi)</p>
<br />Posted in kajian seni  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/purwonomedia.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/purwonomedia.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=292&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwonomedia.wordpress.com/2009/02/02/catatan-ruan-urban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7129ce3646420c78a746328a191525a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">purwonomedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2009/02/dscn7445.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscn7445</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN RELIGIOSITAS</title>
		<link>http://purwonomedia.wordpress.com/2008/11/03/pendidikan-religiositas/</link>
		<comments>http://purwonomedia.wordpress.com/2008/11/03/pendidikan-religiositas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 09:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>purwonomedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian metodologi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwonomedia.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Pembaharuan pendidikan yang bersifat lebih partisipatif dan lebih mengembangkan citra pendidikan agama sebagai salah satu pendidikan nilai kehidupan, dan bukanlah pendidikan agama yang sarat dengan beban antara penilaian dan nilai norma sosial yang membingungkan menjadi bagian pergulatan dewasa ini. Pendidikan agama pun haruslah menanggung sebuah formasi kepribadian yang berat, namun dengan Pendidikan Religiositas diharapkan sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=227&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2008/11/kerukunan-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-228" title="kerukunan-2" src="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2008/11/kerukunan-2.jpg?w=300&#038;h=216" alt="kerukunan-2" width="300" height="216" /></a>Pembaharuan pendidikan yang bersifat lebih partisipatif dan lebih mengembangkan citra pendidikan agama sebagai salah satu pendidikan nilai kehidupan, dan bukanlah pendidikan agama yang sarat dengan beban antara penilaian dan nilai norma sosial yang membingungkan menjadi bagian pergulatan dewasa ini. Pendidikan agama pun haruslah menanggung sebuah formasi kepribadian yang berat, namun dengan Pendidikan Religiositas diharapkan sebuah citra tentang keutuhan pendidikan akan nilai kehidupan yang tidak terukur secara kuantitatif semata, melainkan menjadi medan atau wahana subyek didik memperkembangkan rasa kepedulian dan refleksi terhadap kehidupan.</p>
<ol style="text-align:left;">
<li>Pendidikan Religiositas merupakan suatu pendidikan yang mengajak subyek didik sampai kepada sikap batin yang mendalam mengenai Tuhan dan keterkaitannya tentang kehidupan. Pendidikan Religiositas merupakan pendidikan yang bermaksud mengkontruksi aspek belajar subyek didik untuk sampai kepada nilai-nilai universal kehidupan. Pendidikan Religiositas juga merupakan pendidikan yang bermaksud mengajak subyek didik kepada makna kehidupan sebagai salah satu kontruksi di dalam proses belajar. Kontruksi belajarnya mengangkat keberagaman latar belakang religi subyek didik untuk dijadikan sebuah dialog nilai kehidupan.  Dari dialog nilai tersebut, latar belakang religi dapat saling memperkaya dan meneguhkan, sehingga diharapkan dapat terjadi transformasi nilai bagi subyek didik. Kontruksi belajar dalam keberagaman ini merupakan sesuatu yang diangkat sebagai prosesnya, agar internalisasi nilai menjadi semakin bersifat membangun nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian.</li>
<li>Pendidikan Religiositas sendiri mempergunakan Pendekatan Pedagogi Refleksi (PPR) sebagai proses pembelajarannya, dimana  refleksi siswa menjadi muara yang penting untuk kompetensi dan evaluasi belajar. Melalui PPR siswa berupaya memberikan refleksinya dalam penerapan model pendekatan apapun, baik tertulis, dalam bentuk berbagi pengalaman, pengolahan pengalaman langsung dengan keterlibatan, pendekatan ekspresi pengungkapan refleksi melalui seni, dan masih banyak  hal yang dapat dimungkinkan.</li>
<li>Pendidikan Religiositas menjadi media bagi pengembangan pendidikan nilai yang lebih progresif. Dalam Pendidikan Religiositas ini, subyek didik diajak sampai kepada proses eksplorasi yang signifikan dengan pola-pola yang bersifat tidak terbatas pada ruang lingkup ruang kelas, melainkan dimungkinkan sampai pengalaman subyek didik untuk mengenal hidupnya yang dengan sosio religius dan sosio kultural yang konkret dan nyata. Pola pendekatan yang berbagai macam dapat dicoba diterapkan dalam kesatuan pembelajaran. Pendampingan subyek didik tidak hanya terbatas kepada aspek pengetahuan, tetapi sampai kepada upaya pemahaman yang bersifat kenousis (menyapa batin)  dan mengembangkan nilai-nilai etis dan moral. Maka dalam hal ini ruang kelas tidak menjadi satu-satunya ruang belajar, melainkan dimungkinkan seluas-luasnya menjangkau hidup pengalaman sosio religius subyek didik.</li>
<li>Pendidikan Religiositas merupakan upaya pendidikan yang mengangkat formasi subyek didik kepada inklusifitas antar tradisi religi. Hal itu dimungkinkan karena di dalam Pendidikan Religiositas ada upaya untuk saling berdialog dan memperkaya pengalaman sesuai dengan tradisi religi atau agamanya masing-masing. Dialog pun tidak lah bersifat apologi melainkan menjadi dialog yang saling memperteguh dan memperkaya untuk memasuki ruang universalitas pandangan. Pendekatan di dalam dialog melalui Pendidikan Religiositas merupakan dialog yang membawa subyek didik kepada dialog inter-subyektif, yaitu dialog antar pemahaman, penghayatan dan pengalaman atau pengamalan dalam keberagaman. Dialog agama yang bersifat inter-subyektif mengajak subyek didik untuk memahami realitas kemajemukan dan menjadikannya sebagai being religious. Pendidikan Religiositas mengajak dialog inter-subyektif tersebut semakin nyata di dalam diri para subyek didik melalui refleksi dan upaya untuk menindak lajutinya dalam sebuah perumusan aksi baru.</li>
<li>Melalui Pendidikan Religiositas ini, kontruksi cara berpikir seorang subyek didik diajak kepada pemahaman akan pluralitas dan kemanusian yang mendalam. Hal ini membawa kepada sebuah tretament positif bagi perkembangan kepercayaan eksistensial subyek didik, bahwa subyek didik dihadapkan pada banyak pilihan dan kemajemukan autoritas nilai yang harus ia pahami bukan tertutup, melainkan menyentuh aspeknya yang paling hakiki. Kehakikian nilai yang nantinya dianut oleh setiap subyek didik memang berjalan bertahap, dan tak pernah instan. Tetapi jika sesuatu yang hakiki telah mengatasi berbagai pandangan sempit dan diinternalisasi sebagai ultimate concern, maka nilai tersebut akan dianut oleh subyek didik secara menetap dan berlangsung sampai kepada perkembangan yang paling akhir. Proses untuk menemukan ultimate concern pada jenjang perkembangan masa transisi (mis, remaja) memang membutuhkan perhatian yang mendalam dan sangat krusial. Hal itu mengingat bahwa pada masa transisi ini seseorang akan dihadapkan pada religious doubt (keragu-raguan dan kritis untuk mempertanyakan) apa yang ia pakai sebagai nilai autoritas. Maka ketika Pendidikan Religiositas menjadi treatment pada usia transisi ini diharapkan akan membawa kepada pemahaman yang lebih dewasa ketika pemahaman mulai bersifat menetap. Pemahaman itu adalah pemahaman yang utuh dan dewasa mengenai berbagai nilai-nilai kemanusiaan untuk menjadi nilai yang paling ultim, sehingga seseorang akan sampai kepada perkembagan kepercayaan eksistensial yang dewasa.</li>
<li>Dalam pengembangan pembelajaran Pendidikan Religiositas, guru diberi kebebasan dan kreatifitas untuk mempergunakan berbagai pendekatan dalam mengoptimalkan proses PPR. Pendekatan PPR ini mempunyai tiga komponen pokok yang menjadi jiwa utama dari seluruh proses pembelajaran, yaitu  pengalaman, refleksi dan aksi. Pendekatan yang digunakan dalam Pendidikan Religiositas ditujukkan untuk mendukung proses komunikasi iman yang bertitik tolak pada pengalaman hidup dan iman siswa, bukan indoktrinasi. Komunikasi iman tersebut meliputi pribadi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan teks, siswa dengan suasana, dan siswa dengan Tuhan. Komunikasi ini hendaknya terjadi dalam proses yang terarah dan berkesinambungan untuk merefleksikan, menginterpretasikan, dan mengaplikasikan ajaran iman dari agama dan kepercayaannya dalam hidup nyata sehingga semakin menjadi orang beriman. Agar pendekatan yang dipergunakan mampu mendukung proses PPR tersebut, maka pendekatannya bersifat: variatif, dinamis (kreatif), partisipatif menyenangkan dan eksploratif: mencari, mengembangkan, memperkaya informasi terus-menerus.</li>
<li>Pendekatan kontekstual dapat menjadi pendekatan yang memperkaya keseluruhan proses PPR. Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dan dipelajari dengan  situasi hidup siswa, baik lingkungan dimana siswa tinggal, hingga konteks masyarakat yang lebih luas. Diharapkan, dengan konsep itu, siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pada prinsipnya,  pendekatan kontekstual ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran hendaknya memuat berbagai unsur dan kegiatan sebagai berikut:
<ul>
<li>Pengetahuan atau konsep yang dipelajari dibangun melalui kegiatan observasi, bertanya-wawancara, investigasi, menganalisa, kemudian berdasarkan kegiatan tersebut dibangun sebuah konsep gagasan baru.</li>
<li>Memperkaya kegiatan tanya-jawab, saling berdiskusi memperdalam pengetahuan, baik oleh guru, siswa, antar siswa, dengan oranglain atau nara sumber lain.</li>
<li>Menyusun dan membangun makna dan pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu sehingga bermakna sesuai dengan pemikiran dan konteks hidup siswa.</li>
<li>Membentuk kelompok belajar atau wadah komunitas dimana didalamnya ada usaha untuk selalu berkomunikasi, berbagi pengalaman dan gagasan.</li>
<li>Mencari penilaian yang utuh (meliputi proses koginitif, afektif dan psikomotorik)</li>
<li>Kegiatan pembelajaran diarahkan agar mampu membawa siswa terinspirasi sehingga ada keinginan untuk selalu mengembangkannya.</li>
<li>Di akhir setiap kegiatan pembelajaran, guru mengajak siswa untuk melihat kembali atau merespon berbagai kejadian, peristiwa, dan pengalaman yang tujuannya untuk mengidentifikasi hal-hal yang sudah diketahui, dan hal-hal yang belum diketahui agar mendapatkan pemahaman baru. Hal ini dapat dilakukan dengan bentuk tanggapan langsung, membuat catatan, jurnal, diary, kesan, diskusi pendalaman dan bentuk-betuk hasil karya.</li>
<li>Salah satu model yang dapat digunakan dalam pendekatan kontekstual ini adalah model Belajar dari  Kehidupan. Ada beberapa hal yang dikembangkan, yaitu:</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p style="padding-left:90px;">1)    Para siswa diberi tugas untuk membuat observasi pada salah satu realitas sosial di sekelilingnya.  Para siswa diajak mengenal realitas sosial dengan melakukan wawancara kepada seseorang saksi mata, pelaku, pekerja atau siapa pun yang menjadi subyek realitas sosial tersebut. Kemudian, secara kelompok mereka mencoba mengalami apa yang dilakukan oleh para pelaku tersebut dengan membantu apa yang sedang dikerjakan, misalnya berjualan, berkarya, bekerja, dan lain sebagainya. Proses tersebut terbilang memerlukan waktu yang cukup, biasanya mereka melakukan observasi ini bisa lebih dari  beberapa pertemuan.<br />
2)    Para siswa diminta untuk mendokumentasikan hasil observasi tersebut. Dokumentasi tersebut dapat berupa foto atau video. Dokumentasi tersebut dapat diolah sesuai dengan kreatifitas dan pemikiran para siswa. Tentu saja, pendokumentasian melalui video ini terbilang bukan sesuatu hal yang murah, namun untuk ukuran sekolah di pusat kota dan di zaman sekarang, hal itu bukan sesuatu yang sulit. Dokumentasi yang diperoleh dapat menjadi dokumentasi portofolio performance. Dokumentasi ini bersifat: Pertama, sebagai data yang bersifat visualistik yang mengungkapkan dokumen observasi. Kedua, dengan data yang berifat visualistik tersebut, maka data dapat didalami, direfleksikan kembali oleh para pelaku observasi atau oleh kelompok-kelompok lain dengan berbagai pendekatan apresiatif. Ketiga, dengan kelengkapan pendokumentasian tersebut, maka akan memicu kerja kelompok secara kreatif, baik segi analisis sosial, refleksi, maupun pengembangan sense of art.<br />
3)    Hasil dokumentasi observasi itu kemudian digunakan untuk kegiatan refleksi dan evaluasi bersama antara para siswa dan guru. Dalam kegiatan ini, guru dan siswa berproses untuk merumuskan masalah, menganalisis dan menyajikan hasil dengan bentuk yang beraneka ragam, serta mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karyanya.<br />
4)    Mengadakan pameran foto atau pemutaran hasil video observasi dan menerbitkan (press release) hasil refleksi ke media massa atau webblog. Hal itu agar hasil dokumentasi observasi  menjadi  portofolio performance yang sungguh-sungguh berguna bagi kepentingan banyak orang dan ada uji mutu (benchmarking) atas hasil pembelajaran. <!-- Start code --></p>
<p><!-- End code -->
</p>
<p style="padding-left:90px;">purwono nugroho adhi</p>
<br />Posted in kajian metodologi Tagged: pendidikan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/purwonomedia.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/purwonomedia.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=purwonomedia.wordpress.com&amp;blog=3169188&amp;post=227&amp;subd=purwonomedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwonomedia.wordpress.com/2008/11/03/pendidikan-religiositas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7129ce3646420c78a746328a191525a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">purwonomedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purwonomedia.files.wordpress.com/2008/11/kerukunan-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kerukunan-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
