PENDAMPINGAN KAUM MUDA

Posted: Oktober 28, 2008 in kajian metodologi

1. Melihat situasi kaum muda dewasa ini

Pendampingan kaum muda dewasa ini penting dan mendesak. Kaum muda dewasa ini dihadapkan pada tantangan sosiologis, psikologis dan ruang hidup yang begitu kompleks. Kompleksitas kaum muda ini, terletak tidak sekedar pada segi perkembangan masa transisi secara psikologis, melainkan juga proses kecenderungan

peta budaya dan tata kehidupan yang begitu sarat dengan sekularisme, pragmatisme dan materialisme. Putaran arus budaya menyebabkan ajang kaum muda mempunyai keterpecahan peta yang sungguh deskriminatif. Mereka yang menengah keatas, akan bergulat dengan segala kecenderungan gaya hidup jet set yang bergelimangan dengan keglamaouran alam pikir party dan mall . Sedangkan mereka yang menengah kebawah, harus dihadapkan pada tantangan kapitalisasi di segala sektor yang akan mempersempit ruang hidup mereka, termasuk studi, dan berbagai ancaman serius tantangan kerja.
Kebimbangan kaum muda semakin terasa menggila, ketika ruang hidup yang mengawali mereka dari keluarga pun tercabut. Narkoba dan psikotropika menjadi proses pelarian akan kegamangan mereka yang tak terjawab, atau mungkin terjadinya maladative group yang membawa mereka pada gerak gank dan kriminalitas. Ruang komunitas dekat mereka, dari wilayah studi, kampung hingga gereja tak dapat menjawab dengan baik kegamangan mereka. Mereka yang menengah keatas menyalurkan dengan party dan nongkrong, tetapi mereka yang terbelit ekonomi hanya bisa berkutat dengan rasa frustasi. Namun disadari bersama, bahwa ruang studi (masa perkuliahan dan sekolah) menjadi ruang aman kaum muda untuk selalu berkutat dengan kebimbangan mereka. Positifnya, mereka dapat mentranformasikan kegamangan persoalan masa depan dan tantangan global dengan studi, idealisasi, diskusi, dan berbagai kegiatan akademis, atau berbagai kegiatan ekspresi yang disediakan lembaga studi. Begitu juga, kegiatan gereja dapat menjadi ruang aman mereka untuk berekspresi, berkegiatan, berdoa, mentransforamsi berbagai kegamangan mereka persoalan tantangan global dewasa ini, atau membuat coping untuk kepentingan rasa religius atas berbagai permasalaha hidup kaum muda dewasa ini.
Masa kaum muda merupakan masa dimana mereka dihadapkan pada segala pembalikan orientasi berpikir mereka. Pembalikan dari berakhirnya masa anak-anak dan awal mereka melangkah kepada sebuah realitas hidup. Biasanya dalam masa muda ini terjadi pembalikan struktur berpikir , mereka mulai terlibat dalam kehidupan orang lain, dalam diri kaum muda berkembang suatu kemampuan yang semakin besar untuk menghargai pandangan orang lain. Persahabatan dan loyalitas menjadi faktor yang penting dalam berhubungan dengan orang lain. Relasi persahabatan yang mesra(chumrelationship), yaitu pengalaman intim pertama kaum muda di luar lingkungan keluarga. Hal ini dapat membebaskan kaum muda dari segala tekanan dan ketidakmampuan mengungkapkan diri. Sebagai konsekuensinya kaum muda mulai menyadari hal-hal lain di luar kelompok umur kaum muda, tetapi kesadaran ini masih terbatas karena kesan-kesan dari luar seringkali diwarnai gambaran stereotipe. Jadi dapat menyadari adanya ketidakadilan dimana ras atau suku tertentu ditindas, tetapi dalam membicarakan hal tersebut kaum muda masih ikut-ikutan pendapat-pendapat yang ada. Begitu juga pada kaum muda ini otoritas yang berhubungan dengan kaum muda perlu tampil secara ‘tulus’, ‘asli’, dan ‘bisa dipercaya’. Hal ini karena kaum muda terutama di sekolah menengah, biasanya bersikap responsif terhadap pembimbing yang hangat dan terbuka. Meskipun sudah ada daya refleksi kritis dan mulai dapat membentuk sistem nilai sendiri, kaum muda masih membutuhkan orang dewasa untuk bimbingan dan nasihat terutama dalam hal mencari arti dan makna hidup.
Kaum muda yang sudah memasuki masa perkuliahan biasanya menapaki kesadaran tentang identitas diri yang khas dan pembetukan otonomi tersendiri. Relasi sosial yang mulai menyeluruh, walaupun masih ada prasangka kesamaaan ideologi dan minat, namun telah dapat menerima berbagai tradisi diluar dirinya dalam kerangka proses pembentukan identitas diri. Hubungan atau relasi telah dipandang murni dan utuh. Begitu juga terjadi demitologisasi kritis terhadap segala macam simbol-simbol agama) sebagai suatu organisasi yang dipandang konvensional (religious doubt).
Segala kecenderungan kaum muda tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pendampingan wadah kaum muda Katolik di dalam gereja. Gereja melalui pendampingannya hendaknya mampu memberikan kerinduan dan kegamangan mereka atas tantangan budaya dan proses pembentukan identitas diri mereka. Memang, disadari awalnya adalah “ruang aman” akan kegamanangan mereka, tetapi selanjutnya akan menjadi wadah proses pembetukan identitas diri mereka. Wadah pendampingan kaum muda gereja, hendaknya menjadi tempat relasi persahabatan yang mesra (chumrelationship) bagi mereka, menjadi wadah mereka mencari idealisasi dan berbagai ekspresi pemikiran, begitu juga mengajak mereka memahami religious doubt mereka secara baik, untuk sampai kepada kesadaran berpikir dan proses pembentukan diri menghadapi pergeseran budaya yang sarat dengan tantangan yang berat.

2. Tantangan pendampingan kaum muda yang integratif dan berkesinabungan

Pendampingan kaum muda Katolik dewasa ini yang terjadi biasanya bersifat parsial (sebagian) dan kurang di dalam pengelolaan secara berkelanjutan. Pendampingan hanya memikirkan aspek momet, atau aspek gebyar, maka seakan terkesan seperti sebuah panggung pertunjukan yang hanya memikirkan prosesnya secara sesaat. Proses yang sudah dimulai dengan training para pendamping untuk mengembangkan sebenarnya cukup positif, tetapi hal ini terasa tidak dapat bergerak di tingkat basis terkecil dimana kaum muda itu hidup, baik teritori atau dispora akan minat (kategori) . Hal ini dapat diistilahkan, bahwa pendampingan kaum muda post class memang dirasakan kurang . Pendampingan hanya bersifat tersentral tanpa ada kekuatan penggerak di tingkat basis. Sampai saat ini, berbagai pertanyaan dan refleksi dicoba untuk diwacanakan, mengenai pendampingan yang berkelanjutan di tingkat basis, namun belum ada formula yang tepat untuk menjawabnya.
Ketika melihat tantangan budaya dan ruang hidup kaum muda yang sudah kompleks ini, pendampingan tidak dapat hanya sebatas parsial untuk membidik suatu keprihatinan saja. Pendampingan tidak hanya sebatas pada kegiatan liturgi, politik atau seni, melainkan haruslah dapat menjadi satu kesatuan yang utuh atau integratif. Pendampingan juga tidak sekedar memikirkan bagaimana membetuk kader semata, tetapi memproses sampai kepada upaya pengelolaan yang bersifat berkesinambugan dan dihidupi di tingkat basis.
Begitu juga hendaknya pendampingan menjadi peluang yang cukup besar untuk mengenalkan kaum muda kepada proses penemuan makna yang terkait suatu sintesis yang progresif dan koheren antara pengalaman akan Allah (fides qua) dan isi pesan kristiani (fides quae) melalui proses kegiatan yang terus menerus. Kegiatan pendampingan tidak sekedar Katolisitas tetapi terintegrasi dengan pemahaman realitas sosial, aspek-aspek rasa religiositas, keakraban, dan kemandirian. Pendampingan juga harus mampu menjawab kerinduan psikologis dan sosilogis mereka di dalam kancah budaya dewasa ini. Kerinduan tataran psikologis; diri (identitas), relasi dan nilai-nilai hidup. Kerinduan sosiologis; kelompok (komunitas), jaringan dan pusat nilai hidup.

3. Tripolaritas sebagai model pendampingan kaum muda

Relasi atau hubungan manusia selalu terkait dengan hubungan yang bersifat tripolar. Pertama, hubungan dengan diri sendiri (identitas dan otonomi). Kedua, hubungan diri dengan orang lain (sosial) dan ketiga adalah hubungan dengan pusat nilai (religius, ideologi, paradigma) yang mempengaruhi dan merangkai keseluruhan hubungan menjadi lingkaran dalam satu kesatuan. Dalam pendampingan kaum muda, tripolaritas ini dapat menjadi model pendampingan.
Pertama, tripolaritas pada proses pendampingan. Pendampingan dimulai dari dimensi personal kaum muda, membidik secara serius kerinduan psikologis meliputi ; identitas diri, perkembangan diri, tacit system, lingkungan basis diri dan pilihan dasar (optio fundamentalis). Kemudian, pendampingan bergerak kepada lingkup relasional, meliputi ; relasional dengan orang lain (chumrelationship) , relasional dengan lingkup realitas sosial (politik, budaya), relasional dengan lingkungan (alam). Bidikan pada dua hal tersebut haruslah menjadi kesatuan proses untuk pusat nilai, yang meliputi; Katolisitas, wawasan kebangsaan (ideologi), demokratisasi, religiositas terbuka, Visi Kristianitas, Teologi, dan berbagai Visi tentang kemanusiaan dan Injil Kehidupan.
Kedua, tripolaritas pada proses pengorganisasian pendampingan. Pengorganisasian awal, yang meliputi ; proses pengorganisasian pendampingan secara sederhana, dengan waktu yang singkat, kapasitas ruang yang sederhana, kuantitas yang sederhana, kualitas seadanya, ruang kegiatan segala waktu. Kemudian adanya pengorganisasian tengah, yang meliputi; proses kaderisasi dan rekrutmen aktivis, pembekalan, pemantapan, evaluasi, refleksi, analisa. Pengorganisasian puncak, merupakan pengorganisasian yang bergerak untuk mengulirkan keseluruhan pengorganisasian pendampingan, meliputi ; pemberdayaan terpadu, pembentukan jaringan, pembentukan kelompok-komunitas, pembentukan ruang-ruang gerak sebagai bagian dari keseluruhan pendampingan.
Ketiga, tripolaritas pada ruang kegiatan pendampingan hidup menggereja. Pengembangan ruang kegiatan sacerdotium yang meliputi ruang liturgis-kultis. Pengembangan ruang pelayanan, ruang gerak dalam realitas dan keprihatinan sosial dan pengembangan ruang berkomunitas sebagai daya gerak keseluruhan proses.

purwono nugroho adhi

NYANYIAN BUKIT

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian katekese

Nabi dilahirkan untuk melawan raja, tetapi lebih dari itu, ia dilahirkan untuk melawan sejarah

Martin Buber

  1. Kotbah di Bukit (Mat 5-7) merupakan rangkaian kisah Kitab Suci Perjanjian Baru yang berisikan pesan-pesan kateketis mengenai keutamaan-keutamaan kristiani. Isi pesannya mengungkap berbagai paradoks yang menarik dan bermakna. Paradoks tersebut akan semakin menarik dan bermakna revolusioner ketika ditempatkan dalam konteks zaman dewasa ini. Isi pesan Kotbah di Bukit menyiratkan suatu bentuk pemahaman paradigmatis perlawanan-perlawanan atas berbagai hegemoni-hegemoni materialisme, kekuasaan, dan kekerasan. Tentu saja, membaca Kotbah di Bukit harus dikaitkan perlawanan Yesus atas sistem politik, kultural Yudaisme saat itu. Namun, tidak hanya membaca dalam konteks semata, tetapi dalam kajian yang lebih progresif untuk kepentingan pemaknaan yang tidak hanya politis melainkan juga spiritual.
  2. Kotbah di Bukit yang terdiri dari tiga Bab dalam Matius, yaitu Bab 5 sampai 7 merupakan rangkaian  tutur Kotbah Yesus yang merupakan inti dan rangkuman berbagai pandangan-pandangan Yesus yang meliputi ajaran, himbauan, perlawanan/kritik sistem, dan sentuhan-sentuhan spiritualitas dari gerakan non-violance, doa Bapa Kami, dan cara pandang mengenai dunia. Membaca Kotbah di Bukit tidak hanya membaca bentuk-bentuk naratif, melainkan suatu bentuk pandangan-pandangan mengenai dunia. Pandangan-pandangan tersebut bersifat universal dan menjadi perjuangan orang dalam membuat suatu pilihan-pilihan (optio) gerakan di masa dewasa ini. Kotbah di Bukit tersebut layaknya oratorial yang gegap gempita dan lantang menyerukan bentuk-bentuk pandangan yang esensial atas dunia.
  3. Pandangan Kotbah di Bukit menjadi bentuk  alternatif  perlawanan yang populer, memberikan pemaknaan dan motivasi. Pada Mat 5: 1-12, ungkapan ” berbahagialah…..     ” merupakan bentuk oratio yang memberikan pemaknaan yang dalam, layaknya suatu bentuk perlawanan politis, sikap hidup dan cara berpikir bagi mereka yang tertindas. Bentuk paradoksalnya bukalah suatu yang sekedar “dibalik” atau “berlawanan”, melainkan bentuk-bentuk alternatif sikap hidup. Sikap hidup itu menjadi alternatif, ketika apa yang diungkap merupakan bentuk-bentuk penyangkalan dan perlawanan dari apa yang  menjadi kecenderungan dan pergeseran kehidupan dewasa ini. Mat 5: 1-12 yang dikenal sebagai Sabda Bahagia ini menjadi titik tolak suatu keutamaan sikap hidup. Kotbah di Bukit tidak hanya merangkai Sabda Bahagia saja, tetapi juga pandangan-pandangan alternatif lain seperti aktif non violance (bdk Mat 5: 38-39. 43-44), dimana pandangan ini menjadi inspirasi bagi Gandhi, dan menurut bebeberapa kalangan, bahwa pandangan ini merupakan pandangan paham Budhisme yang sudah ada sebelum masa Kristianitas. Pandangan ini ingin melawan sikap kultural Semitis mengenai vendetta (balas dendam) untuk memutus rantai kekerasan. Begitu juga, Kotbah di Bukit ini memberikan berbagai pandangan mengenai kedewasaan sikap beragama (bdk. Mat 6: 1-6.16), perlawanan terhadap materialisme, moneytheisme dan kapitalisme (bdk. Mat 6: 19-23), bentuk-bentuk sikap hidup mistik/penyerahan total kepada Tuhan (bdk. Mat 6:23-34), spiritualitas dan cara pandang akan Tuhan (bdk. Mat 6: 9-14; 7: 9-21) dan sikap adil serta murah hati (bdk. Mat 7:1; 6: 2).
  4. Kotbah di Bukit kaya akan inspirasi dan makna. Tentu saja, cara menggali makna berpengaruh dalam mencari ispirasi tersebut. Cara itu tidak dengan tekstual, namun harus dengan lateral, kaya apresiasi, imaginatif dan kontekstual, mampu menyapa hati. Kontekstualitas Khotbah di Bukit amat tepat jika dibidikkan dalam bingkai  modernitas dan berbagai pergeseran nilai-nilai, postmodernitas, serta budaya dan sosial-politik.

ANIMASI RELIGIOSITAS

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian metodologi
  1. Kata animasi berasal dari “animate”, dalam bahasa Latin disebut “anima” dan ”animus”, yang artinya jiwa. Dalam An English-Indonesian Dictionary “animate”, berarti “bernyawa”; “yang hidup” ; sesuatu yang menghidupkan, menjiwai, menggelorakan, menyemarakkan, dan hal yang mengasyikkan.
  2. Seorang ahli psikologi Gustav Jung, mengartikan anima sebagai sesuatu yang tidak disadari secara kolektif oleh manusia, tetapi keberadaannya terintegrasi dengan diri, dimiliki dan berdaya untuk muncul seperti adanya unsur feminitas pada wanita dan maskulinitas pada laki-laki.
  3. Berdasarkan apa yang dinyatakan Jung, animasi dalam hal ini diartikan sebagai proses dimana sesuatu yang ada dan tidak disadari di dalam batin, dicoba untuk diungkapkan dan disadari. Jung mengkaitkannya dengan proses yang disebut individuasi. Individuasi merupakan proses bahwa setiap sistem kepribadian diusahakan untuk dapat mencapai tingkat diferensiasi, perkembangan dan pengungkapannya yang paling penuh untuk sampai pada pemekaran dan pengintegrasian kepribadian manusia. Proses ini merupakan proses panjang yang membuat kemampuan dalam diri manusia diwujudkan dan diintegrasikan ke dalam keutuhan dan kebulatan kehidupan yang dewasa.
  4. Animasi dalam arti itu, seperti yang dimaksud Karl Rogers. Animasi adalah proses pembentukan konsep berdasarkan pengalaman personal setiap individu. Pembentukan konsep itu dilakukan oleh setiap individu dengan memahami secara langsung. Pemahaman itu akan membentuk suatu medan fenomenal yang akan membuat frame of reference dari individu. Pemahaman itu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri, dan individu tersebut akan bertingkah laku tergantung pada medan fenomenal tersebut. Rogers sendiri memberikan tekanan kuat, bahwa dalam pembetukan konsep itu terdapat unsur pengalaman-pengalaman pribadi yang berhubungan dengan perasaan-perasaan, nilai-nilai yang diinternalisasi sebagai ekspresi kehidupan batin.
  5. Animasi sebagai proses dalam bentuknya yang terbatas, khususnya pendidikan merupakan upaya “pembiasaan” pada diri seseorang. Dengan sejumlah bentuk-bentuk pembiasaan tersebut, maka dapat menimbulkan kumpulan kebiasaan. Kebiasaan memuat keterlibatan respon-respon internal yang pada gilirannya membangkitkan stimulus-stimulus internal yang memiliki sifat-sifat dorongan. Maka animasi lebih dimengerti sebagai prinsip reinforcement tingkah laku melalui retropeksi hidup batin. Skinner berasumsi bahwa seluruh tingkah laku berjalan menurut hukum. Artinya, ada implikasi kemungkinan mengontrol tingkah laku seseorang. Maka dari asumsi tersebut dapat disimpulkan tentang upaya memanipulasi kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi perubahan tingkah laku seseorang. Ia menyakini bahwa tingkah laku dapat dikontrol semata-mata dengan memanipulasi lingkungan dimana seseorang berada. Dalam arti sempit ini, animasi dapat berarti proses “manipulasi” lingkungan untuk mengajak seseorang sampai kepada perkembangan dan kedewasaan diri.
  6. Intinya, animasi merupakan pendekatan untuk mengajak seseorang sampai menemukan sendiri, berpartisipasi dan terlibat secara langsung melalui pengalaman dan menyentuh kesadaran yang bersifat konasi. Konasi berarti tindakan manusia yang telah dipikirkan, dipertimbangkan, disadari dan diyakini. Konasi sendir merupakan wujud daru kinesis. Kinesis berarti gerakan di dalam diri manusia di mana yang pada awalnya berupa potensi menjadi aktus. Kinesis berarti tindakan manusia untuk mewujudkan dirinya secara penuh, menjadi diri yang sesuai dengan hakikatnya dan memperkembangkan inti hidupnya yang terdalam. Tindakan ini jelas bernilai etis; manusia memilih yang baik dan melakukan yang benar dan yang bermoral. Tindakan manusia tersebut digerakkan secara bersama oleh akal (sungguh telah dipertimbang¬kan), kehendak (disadari), rasa dan karya ciptanya (diperjuangkan dengan sepenuh hati).
  7. Animasi ini dipolakan sebagai sebuah pendekatan yang ditujukan untuk mencoba mengolah, menggali kembali berbagai segi yang terkait dengan religiositas seseorang. Religiositas sendiri adalah “kompleksitas” segi-segi emosional yang berkaitan erat dengan segala macam kebutuhan-kebutuhan afeksi dan kognitif. Kebutuhan ini bersifat spesifik ke arah kondisi eksistensi manusia. Erik Fromm mengatakan dengan lima hal mengenai kondisi eksistensi tersebut yaitu: keterhubungan, transedensi, keterberakaran, identitas dan orientasi.
  8. Animasi Religiositas lebih sebuah pendekatan untuk mengajak orang  sampai kepada “pengalaman puncak”. Menurut Maslow bahwa pengalaman puncak ini akan mengarahkan seseorang kepada aktulisasi diri. Animasi Religiositas menjadi salah satu cara untuk membantu orang-orang ke jalan aktualisasi diri. Hal itu bukan sesuatu yang terkait dengan pengalaman batin akan supra-empiris dan sekedar menjadi “magi” semata. Seperti apa yang sudah dikatakan,  bahwa religiositas sendiri adalah pencarian akan makna hidup.
  9. Animasi Religiositas ini mengkaitkan secara mendasar peran penting manusia mencari makna hidupnya. Makna hidup menurut Victor Frankl tidak selalu merupakan persoalan pengalaman keagamaan saja. Makna hidup bisa ditemukan juga didalam realisasi nilai-nilai manusiawi yang mencakup nilai kreatifitas, nilai estetika, nilai etika dan nilai pengalaman. Makna hidup ditemukan tidak sekedar didalam agama melainkan juga didalam kerja, pertemuan dengan keindahan, melalui pertemuan-perjumpaan komplementer dan hubungan cinta kepada sesama. Secara sederhana hal-hal tersebut selalu ada dan hadir secara alami setiap hari.
  10. Animasi Religiositas lebih melihat aspek pendampingan yang bersifat “di dalam lubuk hati” menggali inti rasa-perasaan religiositas seseorang. Religiositas ini merupakan riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, du Coeur dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawinya) kedalaman isi pribadi manusia. Oleh karena itu, pada dasarnya religiositas mengatasi, atau lebih dalam dari agama yang tampak formal, resmi.
  11. Animasi Religiositas merupakan bentuk pendampingan yang mengkaitkan bentuk-bentuk pertemuan kelompok dengan pengolahan batin yang dikemas dengan berbagai metode yang bersifat multidemesional. Intinya, bertujuan mengajak seseorang  memahami makna hidupnya. Seringkali seseorang butuh proses perjuangan dalam menghadapi bermacam-macam konflik dan ketegangan, karena individu harus merefleksikan sendiri pengalaman religius yang terkadang bentuknya masih spontan, dan penuh tanda tanya.  Manusia, meskipun mempunyai keyakinan dalam setiap kehidupannya, tetap membutuhkan manusia lain sebagai partner untuk membantu merefleksikan pengalaman religiusnya. Sikap religius ini, biasanya baru timbul secara berangsur-angsur  dari pemecahan terhadap bermacam-macam konflik dan ketegangan, sehingga berkat proses perjuangan itu muncullah suatu bentuk pandangan yang penuh diferensiasi dan yang betul-betul personal dalam arti sudah dijadikan milik individu sendiri.
  12. Kebutuhan untuk  merefleksikan pengalaman religius bersama dengan manusia lain, dapat diatasi dengan baik melalui situasi kelompok. Hal ini,  karena manusia mempunyai kebutuhan untuk berkumpul, pengakuan, penerimaan, kasih, dorongan dan pengungkapan emosi atau perasaan orang lain. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan di atas adalah dengan terlibat dalam suatu bentuk-bentuk pertemuan informal yang dapat membuat individu merasa tidak sendirian dalam menghadapi persoalannya. Animasi Religiositas mencoba mempolakan berbagai pendekatan tersebut. Tentu saja, kaitannya tidak hanya dengan masalah-masalah pribadi, melainkan juga sebagai bentuk pendampingan pengembangan diri. Polannya  lebih untuk menciptakan yang sekaligus diharapkan dapat membangun rasa religiositas atau membentuk sikap dan cara pandang yang dewasa mengenai kehidupan bagi masing-masing individu. Bentuk-bentuk pemikiran tersebut antara lain dengan pengimaginasian melalui “musical codes” yang bernuansa lembut dan gembira, dengan perlambangan melalui retorika “ikon-ikon” (kata-kata simbolis yang mempunyai tanda-tanda tertentu yang saling berhubungan) mengenai hidup dan cinta, dengan berapresiasi melalui bentuk-bentuk estetika visual baik teater, film, dan puisi dan pengekspresiannya. Hal ini dapat pula melalui aktifitas keseharian yang direfleksikan secara sederhana melalui gambar, doa, lamunan-imaginatif, puisi, tari-gerak tubuh dan sharing. 

      [purwono nugroho adhi]

PENILAIAN KUALITATIF

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian metodologi

A. Dasar-dasar kajian

1.    Aspek Kepercayaan Beragama (eksistensial) menyangkut strukturisasi organisasi antara kemampuan aspek afeksi – konasi dan kognisi.
Aspek kepercayaan beragama di dalamnya menyiratkan berbagai kemampuan yang sungguh kompleks. Hal itu dikarenakan bahwa di dalam aspek beragama (beriman)  ini, subyek didik mengkontruksi dan mengkonsitusi segala pemahaman akan nilai agama dan berbagai proses pemahaman akan hidupnya. Maka terjadi pengintegrasian yang komprehensif antara orientasi kognitif dengan maksud-maksud mendasar yang bersifat afeksional. Hal itu tampak di dalam relevansi semiotis antara apa yang tertuang sebagai bagian ungkapan kognitif, misalnya sistematisasi cara berpikir, menulis, berpendapat dengan kecenderungan aspek afeksional yang meliputi cita rasa, keindahan, kekaguman, harapan, cita-cita, keprihatinan dan lain sebagainya. Di dalam Pendidikan Religiositas ini, subyek didik tidak sekedar mengungkapkan kemampuan kognitifnya melainkan juga mengintegrasikan apa yang dirasakan, diharapkan mengenai berbagai pemahaman akan hidup dan nilai-nilai yang ultim bagi diri subyek didik.
Maka betapa sebuah formula penilaian yang tidak sekedar mewakili kemapuan kognitifnya melainkan juga apa yang menjadi bagian dari afeksinya menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Penilaian kualitatif mencoba untuk memungkinkan menggali segala kecenderungan afeksional dan kontruksi kognitif tergali. Hal ini menjadi penting untuk upaya formatif dan diagnotif subyek didik di dalam menjalani proses belajarnya. Kita dihadapkan pada realita, bahwa kecenderungan afeksional sulit untuk dikontruksikan secara kuantitatif, melainkan perlu dikotruksikan secara kualitatif. Setidak-tidaknya tidak untuk mengukur melainkan memberikan gambaran-gambaran apa yang dirasakan, di cita-citakan oleh subyek didik.
Di dalam ruang beragama, ada dimensi kepastian rasional tetapi ada dimensi keyakinan. Dimensi kepastian rasional merepresentasikan cara berpikir dan kontrukis berpikir yang bersifat logis, analitis dan obyektif mengenai konsep teologi dan filsafatnya, tetapi di balik semua itu ada yang paling penting, yaitu dimensi keyakinan. Dimensi keyakinan menyiratkan sebuah proses berpikir subyek didik yang paling ultim, menyangkut tata nilai, cara pandang yang tak sekedar analitis dan logis melainkan menyangkut pembetukan identitas diri dan perkembangan hidupnya.  Maka sebuah penilaian kualitatif dapat memberikan gambaran sejauh mana sebuah nilai diyakini, dikontruksi sebagai bagian hidup subyek didik menjadi sesuatu yang perlu dianalisa sebagai bagian kompetensi di dalam Pendidikan Religiositas ini. Sebagai sebuah tata nilai yang diyakini dalam hidup, tak dapat semudah itu dilihat dalam bentuk kuantitatif, tetapi harus dilihat dalam sebuah pendalaman orientasi yang bersifat kualitatif dan personal.

2.    Aspek Kepercayaan Beragama (eksistensial) menyangkut kualitas perkembangan pribadi yang menghubungkan kompetensi Interpersonal, Intrapersonal dan Eksistensial.
Hidup dan cara pandang beragama, tidak dapat dipetakan dalam kompetensi-kompetensi yang terbatas pada segi kognitif semata. Tetapi perlu menjadi kajian mendalam bahwa aspek kepercayaan beragama ini menyangkut kompetensi interpersonal, yaitu kemampuan subyek didik berelasi dengan orang lain, lingkungan dan berbagai tata nilai. Begitu pun juga menyangkut kompetensi intrapersonal, yaitu bagaimana subyek didik memahami pusat nilainya yang paling ultim, yaitu apa yang transenden. Kedua kompetensi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena ketika subyek didik berelasi dengan orang lain selalu didasari pula oleh berbagai tata nilai yang bersifat transenden. Relasi itu bersifat antara diri dengan orang lain, diri dengan tata nilai, serta dengan dirinya sendiri (self assessment). Seluruh jalinan relasi tersebut dikontruksikan ke dalam lingkugan dan cara pandang yang bersifat ultim (akhir). Maka relasi tersebut memungkinkan juga pada akhirnya mengenai kompetensi eksistensial, bagaimana subyek didik memandang hidupnya, mengenai titik kritis, penderitaan, kebahagiaan, kerinduan, cinta, dan lain sebagainya yang bersifat paling mendalam dan bararti. Proses beragama menyangkut bagaimana subyek didik mengkontruksi sebuah kepercayan eksistensialnya. Kepercayaan menyeluruh yang menyangkut gambaran paling akhir di dalam hidupnya. Sebuah persepektif mendalam hidupnya yang paling fundamental. Maka proses beragama  menyangkut proses pembentukan identitas diri. Pembetukan diri yang didasari oleh tata nilai, orientasi yang mendasar pada harapan, daya upaya, pikiran dan tindakan akan yang transenden dan lingkungan hidupnya.
Berdasarkan hal diatas, jelas sekali terlihat bahwa kompetensi penilaian tidak dapat sekedar diwakili dengan hanya satu kompetensi kognitif semata. Tetapi perlu integrasi seluruh aspek pemahaman subyek didik akan tata nilai yang di internalisasinya. Aspeknya tidak sekedar menghafal, melainkan mendasar pada sejauh mana subyek didik menghidupi suatu tata nilai di dalam relasi hidupnya baik personal maupun sosial. Penilaian kualitatif mencoba melihat apa yang diamati, dirasakan, diimajinasikan, dipertimbangkan secara rasional, dinilai, dibuat komitment dan dilaksanakan subyek didik melalui metode sederhana semi-klinis melalui transkrip dan portofolio keseluruhan proses pembelajaran.

B.    Aspek-Aspek Penilaian Kualitatif

1.    Aspek kemapuan refleksi
Kepercayaan beragama (eksistensial) menyangkut pola yang bersifat bipolar dan tripolar. Artinya, bahwa subyek didik di dalam menginternalisasi dan berproses di dalam sikap beragama didasari hubungan antara dirinya dan orang lain dan pusat nilai yang dianggap paling ultim bagi subyek didik. Maka proses kepercayaan beragama (eksistensial) menyangkut tiga pokok sebagai berikut , yaitu ;
a.    Cara individu atau kelompok secara pribadi melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa individu merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan arti yang dimiliki bersama.
b.    Cara tertentu individu dalam menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam kehidupannya yang majemuk dan kompleks.
c.    Cara individu melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesama yang dapat menjadi acuan hidup individu tersebut, seperti kesehatan, kekuasaan, karier, sukses, kreativitas, penyerahan diri pada Tuhan, dan sebagainya yang semuanya bisa menjadi nilai inti dan daya gerak hidup seseorang.
Untuk itu tiga hal diatas jika dikaitkan dengan kompetensi belajar, sungguh terkait erat dengan apa yang disebut dengan kompetensi interpersonal, intrapersonal dan eksistensial.

2.    Aspek Kompetensi Interpersonal
Aspek Interpersonal, adalah aspek kemampuan subyek didik terkait dengan bagaimana cara pandang subyek didik terhadap sebuah relasi dengan orang lain, dirinya (self assessment) dan berbagai tata nilai. Bagaimana subyek didik mengkontruksi dan menilai sebuah relasi atau hubungan tersebut. Hal tersebut menyangkut segi-segi pokok sebagai berikut ;
a.    Pengambilan peran, yaitu kemampuan individu untuk mengambil perspektif sosial yang berbeda dengan perspektif pribadi. Hal ini meliputi sejauh mana seorang mampu mengidentifikasi diri dengan kelompok lain dan mengambil peran dan perspektif kelompok itu, misalnya kelompok keluarga, teman sebaya, dan sebagainya.
b.    Batas-batas kesadaran sosial yang menopang rasa identitas diri dan tanggungjawab sosial. Misalnya batasan kelompok-kelompok atau orang lain yang dipilih dalam membentuk dan memelihara identitas diri.
c.    Pusat autoritas, menyangkut soal apa dan siapa yang diakui dan diterima sebagai sebagai instansi autoritas individu. Misalnya pribadi-pribadi, gagasan, dan lembaga yang menjadi tempat andalan bagi seseorang dalam pembentukan arti dan makna.

3.    Aspek Kompetensi Intrapersonal dan Eksistensial
Aspek Intrapersonal dan Eksistensial, yaitu kemampuan subyek didik terkait dengan bagaimana subyek didik memahami mengenai berbagai hal yang ia temui dalam kehidupan. Bagaimana subyek didik memandang dunia dan lingkungan sekitarnya, realitas sosial, pengalaman-pengalaman yang menyangkut kehidupannya. Hal tersebut meyangkut segi-segi pokok sebagai berikut ;
a.    Koherensi dunia, yaitu cara berpikir menurut aspek keseluruhan, seperti gambaran komprehensif tentang  dunia, hidup dan lingkungan akhir yang memberikan koherensi dan rasa berarti yang menyeluruh. Misalnya pandangan subyek didik tentang tujuan hidup manusia.
b.    Fungsi simbol, yaitu daya afektif-kognitif dari imajinasi yang mengintegrasikan seluruh aspek pengenalan iman. Merupakan kemampuan menggunakan dan memahami simbol. Misalnya arti penderitaan  bagi subyek didik.
c.    Tacit System, yaitu kerinduan-kerinduan subyek didik menyangkut cita-cita, keprihatinan, harapan yang mendalam dan berpengaruh dalam hidupnya.

4.    Simpul  Analisa Kualitatif
Berdasarkan dari berbagai analisa teks refleksi, analisa berbagi pengalaman beragama (sharing), analisa doa, puisi dan performance sebagai ungkapan dan ekspresi lambang akan nilai dan analisa terhadap aktivitas di dalam tugas kelompok, ada upaya analisa yang mencangkup tiga proses penting di dalam setiap individu subyek didik bergulat akan nilai religi, yaitu ;
a.    Proses Pemberian Arti, yaitu proses dimana setiap manusia membutuhkan arti dan makna, dan selalu orientasi hidupnya mengacu kepada makna nilai tersebut. Proses subyek didik menginternalisasi kepercayaan beragama (eksitensial) merupakan dinamika proses seseorang untuk memberikan arti dan makna pada hidupnya, dimana subyek didik menyingkapkan arti hidupnya. Arti dan makna tersebut adalah hasil upaya kreatif di dalam proses menemukan dan menciptakan, baik yang bersifat aktif maupun pasif.
b.    Proses menjalin relasi atau hubungan. Proses kepercayaan beragama (eksistensial) selalu terkait dengan relasi yang menyangkut relasi diri dengan orang lain, kebergantungan  diri kepada orang lain. Hal itu merupakan proses rasa terikat dan dekat, rasa komitmen dan setia. Semua ini tampak di dalam setiap proses religius, dimana terjalin suatu interaksi kelompok, bahasa, upacara, dan tradisi rohani yang membentuk kepribadian religius setiap subyek didik.
c.    Proses pengertian. Proses kepercayaan beragama (eksistensial) merupakan kegiatan mengenal , yaitu sebagai suatu cara khas pengertian dan pengkonstruksian mental, dan terutama sebagai suatu bagian dari seluruh kegiatan konstitutif dari ego. Maka kepercayaan beragama (eksistensial) ini merupakan bagian dari subyek didik untuk mengenal dan mengerti apa yang menjadi bagian di dalam proses hidupnya. Proses pengertian ini meliputi berbagai konstruksi tentang diri, pemahaman, cara berpikir yang mengintegrasikan komponen utuh atas afeksi dan kognisi dalam hal pengambilan perspektif, analisis, dan pertimbangan moral

purwono nugroho adhi
dasar-dasar kajian ini disarikan dan dikembangkan dari
Agus Cremers. (1995). Tahap-Tahap Perkembangan Kepercayaan  menurut James W. Fowler. Kanisius: Yogyakarta
Fransisca Sandra Palupi. (2002). Penelitian Kualitatif Perkembangan Kepercayaan Eksistensial Remaja, di SMU BOPKRI I Yogyakarta. Skripsi, Unika Soegijapranata Fakultas Psikologi: Semarang

KONSEP CARA BERPIKIR

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian metodologi

Cara berpikir dan cara pandang tidak bisa dilepaskan dari diri seseorang secara utuh, karena ketika seseorang dihadapkan pada sebuah realitas, orang akan bersikap-bertindak dengan mekanisme stimulus-respon dengan apa yang ia pikirkan dan ia pandang. Seseorang selalu mempunyai frame of reference atau paradigma. Setiap frame of reference atau paradigma seseorang selalu terintegrasi dengan latarbelakang, pengalaman, lingkungan serta budaya yang membingkainya.
Faktor pendidikan sebagai sebuah treatment eksternal menjadi salah satu pengaruh penting bagaimana kondisi internal mengkompulasi, mengkonfrontasi, serta mensintesakan sebuah frame of reference tersebut terjadi. Tentu saja, pendidikan itu harus selalu diintegrasikan dengan sikap dasar yang diambil seseorang. Sikap dasar ini merupakan bagian penting seseorang membingkai semua persoalan, realitas sosial yang ada dihadapannya.

Menurut kajian psikologi, sikap dasar itu mempunyai unsur sebagai berikut:

  • Arah; sikap pastilah mempunyai arah, artinya sikap akan menunjukkan apakah individu menyetujui atau tidak menyetujui, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap suatu obyek sikap atau pemahaman tertentu.
  • Derajat perasaan atau intensitas. Derajat perasaan atau intensitas pada setiap individu belum tentu sama. Dua individu yang sama-sama mempunyai sikap positif terhadap suatu obyek sikap, mungkin tidak sama intensitasnya, dalam arti yang satu lebih bersikap positif tetapi yang lain lebih bersikap positif dari yang pertama. Demikian juga sikap negatif mempunyai derajat kekuatan yang bertingkat-tingkat.
  • Konsistensi; konsistensi sikap ditunjukkan oleh kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan oleh individu dengan responnya terhadap obyek sikap. Konsistensi sikap juga ditunjukkan oleh tidak adanya kebimbangan dalam bersikap. Seorang individu dapat saja mempunyai sikap yang tidak konsisten apabila ia menyatakan setuju tetapi sekaligus menyatakan tidak mendukung obyek sikap. Perlu dibedakan antara sikap yang tidak konsisten, dalam arti bahwa tidak ada kesesuaian respon sikap dalam diri individu dengan sikap yang netral.

Cara berpikir dan cara pandang mengidentifikasikan kedewasaan seseorang. Kedewasaan seseorang terukur dari arah, derajat perasaan serta konsistensi dalam menanggapi sesuatu yang terjadi dalam realitas sosial tersebut. Untuk itu, betapa penting memikirkan sebuah pendampingan yang memformulasikan pengembangan kemampuan cara berpikir dan cara pandang ini. Formulasinya tentu saja mengkaitkan bagaimana cara pikir dan cara pandang seseorang menilai, menginternalisasi sebuah realitas sosial disekelilingnya. Formulasinya tentu saja tidak semata-mata jatuh kepada konsep-konsep filosofis melainkan harus sampai kepada upaya kenosis dan keterlibatan. Diharapkan dari proses itu, pendampingan tidak hanya pengembangan kemampuan cara berpikir, melainkan juga penyadaran proses berpikir itu sendiri. Harapannya, seseorang memahami bagaimana ia berpikir akan sesuatu, bagaimana ia mengkontruksinya kemudian ia jadikan habit/kebiasaan yang terus-menerus sehingga akhirnya menjadi sikap. Dewasa ini yang sangat penting disadarkan adalah, pertama, bagaimana berpikir menilai realitas sosial dengan cara berpikir yang jernih, dengan analisis masalah, data dan peta metopen (metode penelitian dasar) dengan berbagai cara-cara pendekatan yang progresif dan mudah dilakukan dalam keseharian. Kedua, bagaimana berpikir menilai segala perubahan sosial yang cepat, sehingga dibutuhkan segala pemikiran yang kreatif, imaginatif serta antisipatif. Untuk itu, penyadaran lebih berpusat kepada proses berpikir, yaitu berpikir mendasar akan segala inti masalah dan berpikir mengenai spirit perubahan itu sendiri. Untuk itu, sebuah analisis sosial sebenarnya sangat terkait erat dengan proses dan cara berpikir itu sendiri. Proses berpikir hendaknya harus bersifat analitik, membingkai secara utuh berbagai cara pandang akan nilai, pemahaman serta penilaian akan realitas sosial itu. Sifat analisis sosial yang mengajak seseorang kepada kesadaran kritis, peka, mengerti dan menilai sesuatu, harus membingkai cara berpikir itu sendiri. Analisis sosial harus menjadi bagian yang terintegrasi, sehingga cara berpikir seseorang secara otomatis selalu memfungsikan analisis sosial sebagai kerangka berpikirnya. Bentuknya, tentu saja bukan konsep dan metodologi analisis sosial, melainkan bagaimana seseorang berpikir dalam kerangka dasar-dasar analisis sosial, yaitu :
a. Pertama, adalah melihat segala fenomena-realitas sosial tersebut dalam hubungan-hubungan yang bersifat logis (logical reasoning). Pada tahap pertama mencoba mem-persepsi segala apa yang ada dengan saling mengkaitkan, menghubungkan, sebab-akibat, mengkorelasikan. (positivis-heteruistik)
b. Kedua,berdasarkan apa yang logis dalam kaitan sebab-akibat tersebut, perlu melihat bahwa hubungan-hubungan tersebut bersifat sistemik. Artinya, ada kaitan antar hubungan dan ada hubungannya antar kaitan tersebut. Kaitan tersebut merupakan keutuhan, saling berhubungan, saling berkorelasi, saling mempengaruhi. (strukturalis)
c. Ketiga, berdasarkan hubungan dan pemikiran sistemik tersebut, pasti ada sesuatu yang bersifat lateral, menyentuh aspek-aspek “lain” yang berbeda, kontras, dan sensasional, menciptakan sesuatu yang “konfrontatif”. Keberbedaaan tersebut muncul dengan ciri yang “khas”, fenomenal, dan menyentuh perasaan-perasaan psikologis, dari kagum, penasaran, indah, menambah rasa ingin tahu, mencipta ruang keterlibatan dan gerakan. (fenomologis)
Simpul-simpul gagasan berpikir perubahan dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Memberi penyadaran, bahwa perubahan itu selalu terjadi, dan tidak bisa dihindari, selalu harus dihadapi.
b. Dalam menghadapi perubahan, pertama-tama harus bersedia terbuka kepada segala sesuatu perubahan yang terjadi. Keterbukaan itu membutuhkan kemauan, sekaligus kepekaan terhadap segala tanda-tanda perubahan. Agar mampu “melihat” dengan maju, maka dua sisi atau segi , yaitu melihat apa yang KONTRAS, dan melihat apa yang KONFONTRATIF perlu disadari sebagai pola berpikir. Kontras dan konfrontatif tidak selalu bersifat pemberontakan, namun bersifat pembaruan.
c. Pengalaman kontras, mengajak berpikir lain, kreatif dan imajinatif. Orang diajak tidak hanya melihat dari apa yang biasannya, melainkan dari apa yang tak biasa. Dengan “melihat” yang tak biasa, maka orang diajak untuk berpikir, bahwa ada banyak pilihan, ada banyak ragam, ada banyak jalan, dan masih banyak yang lainnya.
d. Melihat secara “berbeda”, kontras dan konfrontatif, terjadi jika orang selalu melihat fenomena dari yang 20% dari yang 100%. Artinya orang perlu melihat fenomena bukan apa yang kebanyakan, melainkan apa yang “disingkirkan”,berusaha melihat segi-segi “lain” dari apa yang tidak kebanyakan muncul.

Pola berpikir kreatif dimulai dengan berpikir strategis mengantisipasi segala perubahan. Di dalamnya ada unsur manajemen diri dari gambaran diri (self image) dan konsep diri (self concept) hingga penilaian diri (self evaluation). Ketiga hal itu diintegrasikan dengan manajemen perubahan itu sendiri, yaitu pemetaan situasi, pemetaaan potensi, serta signifikasi diri, baik signed of maupun signed for (bermakna ataupun memaknai).

purwono nugroho adhi

PENDEKATAN NARATIF

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian metodologi

Pendekatan naratif lebih-lebih merelativir pendekatan pragmatis dalam pendidikan, pendekatan naratif ini menjadi salah satu pendekatan yang cukup baik. Hal itu didasari, bahwa narasi atau kisah mudah menggerakan untuk bertindak dan mengembangkan proses imajinatif subyek didik. Kisah mampu mendorong ke arah tindakan karena melalui mimetisme (peniruan), kisah berperan menjadi jembatan antara yang dipikirkan dan pengalaman praktis. Dalam hal moral, pendekatan naratif tidak menyodorkan norma-norma yang bersifat hipotesis (menggurui), melainkan bersifat kinousis (menyapa hati) dan narasi atau kisah lebih bersifat menyapa atau mengadaptasi pluralitas. Melalui cerita atau narasi ini subyek didik dapat menginternalisasi nilai-nilai budaya dalam konteks hidupnya. Makna yang dapat diambil dari kisah-cerita amat kaya, tergantung bagaimana cerita tersebut dapat menjadi frame of refence atas pemahaman dan intrepetasi kita. Cerita yang bergulir akhirnya menjadi representasi yang dapat diintrepetasi sebagaimana adanya. Cerita mempunyai jiwanya sendiri, cerita mempunyai kisahnya sendiri untuk bebas diintrepetasi. Sang pencerita hanyalah menjadikanya kisah terajut, namun nilai dan makna lepas dari rajutan, sesuai dengan frame yang ada di dalam diri sang penikmatnya. Refleksi akan semakin kaya jika cerita memuat banyak representasi nyata tentang kisah-kisah dan potret kehidupan manusia, karena cerita yang menyuguhkan berbagai kisah kehidupan dapat mampu menjadi dialog obyektif tentang kehidupan yang sebenarnya. Cerita pun kadang menjadi medan katarsis manusia, menjadikannya medan untuk menghibur dan menyemangati. Namun jelas, cerita kadang menjadi representasi kritis atas kehidupan dan nilai-nilai moral. Cerita akan kaya makna, jika cerita sungguh menjadi representasi yang mampu menimbulkan intrepetasi dan pemahaman serta internalisasi yang membangun (edukatif), dan kita pun akan kaya juga dengan pemahaman dan intepretasi yang dapat mengajak kita kritis dan cinta akan makna kehidupan.
Dalam pendekatan narasi ini, cerita rakyat atau cerita yang berlatar belakang budaya, cerita bijak atau cerita sufi, cerita religius tidak lah sekedar bersifat tekstual, melainkan dapat berbentuk film, cergam, cerbung, komik atau hasil olahan dramatisasi.  Adapun apa yang dapat diambil dari proses internalisasi suatu cerita, yaitu sebagai berikut:

A.    Cerita dan pernyataan moral

Kisah atau cerita mengungkap banyak hal berkisar kehidupan, maka betapa banyak nilai yang ingin dicoba diungkap. Melalui kisah yang dirajut dan direpresentasikan, kita dapat  mengapresiasinya dengan demikian rupa, sehingga kita dapat menemukan suatu pernyataan moral. Namun tidak semua cerita dapat mengungkapkan hal tersebut, kadang tergantung kekayaan kita untuk mengintrepetasinya. Pernyataan moral biasanya timbul melalui dialog-dialog tokoh atau sebuah representasi visual kisah, baik secara langsung maupun yang bersifat hanya tersurat. Maka jika cerita banyak menyuguhkan pernyataan moral, cerita bukanlah sekedar cerita melainkan menjadi alat penyampai nilai. Cerita  pun dapat berdampak sangat edukatif.
Pernyataan moral di dalam cerita tidaklah gampang ditangkap, melainkan haruslah memuat acuan yang representatif pada diri subyek didik. Jika subyek didik menemukan suatu pernyataan moral, belum tentu hal tersebut menjadi pernyataan moral atas dirinya, karena subyek didik mempunyai latar belakang tersendiri yang tidak dapat diandaikan oleh sang pengkisah. Cerita  menjadi medan dialog yang sungguh partisipatif, namun juga menjadi medan dialog yang pasif tergantung bagaimana pernyataan moral menjadi bagian representasi nyata dari kehidupan subyek didik. Melalui kaca mata cerita sebagai sarana yang cukup baik untuk upaya refleksi, suatu pernyataan moral di dalam cerita merupakan wahana yang tepat dan kaya akan intrepetasi dan pemahaman. Refleksi pun dapat bergulir dari analisa film mengenai pertanyaan-pertanyaan moral, dan sejauh mana cerita mampu menjawab ataupun semakin kritis memperkembangkan wacana.

B.    Cerita dan potret kehidupan manusia

Cerita menyuguhkan kisah yang mampu menjadi medan dialog batin tentang kehidupan. Namun betapa cerita yang mampu mengajak subyek didik untuk sampai kepada kesadaran akan kehidupan tidak banyak kita temukan. Tetapi jika kita menemukan cerita yang mampu mengajak psubyek didik untuk sampai kepada kesadaran kehidupan pastilah cerita tersebut akan kaya dengan citra dan gambaran tentang potret kehidupan yang sungguh menyentuh hati manusia. Karena, betapa kita sadari cerita mampu berbicara di dalam kesadaran kehidupan kita, jika cerita tersebut memuat representasi nyata dan dialog kehidupan sang penikmatnya. Cerita memang kaya, karena di dalamnya memuat kisah kehidupan manusia, kisah untuk dituturkan kembali sebagai cermin kehidupan kita. Tutur kisah dalam cerita dapat dijadikan sebagai media batin betapa kehidupan memuat makna yang kaya. Cerita dalam hal ini dapat menjadi sebuah pernyataan tentang kehidupan, pernyataan tentang kebenaran kehidupan manusia.
Hal itu didasarkan jika subyek didik menangkap sebuah pernyataan kehidupan dari tutur kisah yang ada, baik melalui sang tokoh atau tema yang digulirkan, dan tutur kisah tersebut menjadi dialog batin atas kehidupannya.

C.    Cerita  dan potret  sifat  manusia

Penokohan dalam cerita merupakan sebuah gagasan reflektif, karena dari hal tersebut dapat menjadi gambaran apresiasi tetang sifat manusia. Penokohan dalam cerita biasanya tergambarkan di dalam penokohan antara yang baik dan yang jahat atau protagonis dan antagonis. Tetapi kadang kali cerita tidak begitu menyuguhkan tentang protagonis dan antagonis, melainkan sebuah potret  kelam manusia, atau potret biografi kehidupan tertentu. Dari potret tentang sifat manusia melalui penokohan cerita ini dapat  ditangkap tentang kebenaran-kebenaran umum bagaimana sifat manusia menghadapi jaman dan kehidupannya. Dari tutur kisah dalam cerita biasanya ditampakkan bagaimana sang tokoh menghadapi masalah dan kemudian menyelesaikannya, dari sanalah terlihat sifat-sifat manusia yang terwakili oleh sang tokoh, sebagai gambaran umum sifat manusia.
Sifat-sifat manusia yang dimunculkan dalam cerita dapat menjadi dialektika kreatif para penikmat, betapa tergambarkan sifat manusia ketika mengahadapi masalah, antara kesedihan, kegembiraan, pertentangan, kegilaan, kekerasan, kegalauan, ketabahan, ketegaran dan lain sebagainya. Gambaran atau potret tersebut akan semakin berdialektika ketika sifat-sifat yang dimunculkan merupakan gambaran keadaan faktual subyek didik.

D.    Cerita dan kritik sosial-ideologis

Cerita merupakan media yang strategis untuk menyampaikan kritik sosial. Maka berdasarkan hal tersebut, memang cerita dapat mempunyai nuansa kritik sosial dan ideologis. Melalui kisah, tokoh, setting dan alur dapatlah sebuah kritik sosial tercipta. Kritik dapat bersifat tergambarkan melalui tampilan-tampilan visual baik langsung (dalam film) maupun tidak langsung ataupun di dalam dialog-dialog tokoh. Kritik kadang dapat bersifat sangat lugas dan transparan, namun kadang begitu halus dengan mempergunakan banyak lambang intrepetasi yang beragam. Tetapi yang terpenting dalam hal ini adalah, bagaimana kritik dapat sampai kepada subyek didik. Kritik sosial tersebut akan sampai jikalau subyek didik sungguh dekat dengan kehidupan sosial yang menjadi bagian dari kritik tersebut. Dari hal ini cerita dapat diamati oleh subyek didik baik melalui kaca mata ideologi atau pemahaman subyek didik sendiri ataupun buah dialog antara subyek didik dengan tutur kisah cerita yang akhirnya dapat melahirkan intrepetasi yang bersifat ideologis. Maka hal tersebut menandakan bahwa cerita sungguh dapat bersifat reflektif mengangkat masalah-masalah sosial.
Biasanya di dalam mengangkat masalah-masalah sosial,  cerita  lebih memberikan upaya reflektif secara umum dan jarang sekali mengangkat akar permasalahan. Cerita  lebih mengatakan dan menggambarkan bagaimana pentingnya upaya pembaharuan dan perubahan sosial, tetapi jarang mengangkat cara-cara yang bersifat menuju kepada perubahan sosial tersebut. Maka keterbatasan ini haruslah diangkat oleh subyek didik atau sang apresiator untuk menjadikannya sebuah kajian analisa untuk sampai kepada cara-cara taktis perubahan sosial, dan cerita menjadi dokumen atau media untuk memperdalam masalah.

E.    Cerita dan pertanyaan-pertanyaan filsafati kehidupan

Cerita sering kali mampu membuat subyek didik untuk semakin bertanya lebih tentang hidupnya. Hal itu terjadi karena cerita melalui tutur kisahnya menyajikan sebuah gambaran kehidupan, dimana tokoh dengan dialognya ataupun dari alur kisahnya terdapat sebuah pertanyaan-pertanyaan filsafati kehidupan, yang akhirnya tidak dijawab oleh tokoh cerita melainkan hendaknya dijawab oleh para penikmatnya. Dalam hal ini cerita sungguh dapat bersifat reflektif, mengantar penikmat untuk bertanya tentang kehidupannya.
Pertanyaan-pertanyaan filsafati yang muncul kadang kali bukanlah muncul dari alur cerita atau dialog tokoh, namun muncul dari upaya dialektika antara cerita dengan penikmatnya melalui apa yang disebut intrepetasi. Intrepetasi akan semakin kaya ketika gambar visual (semisal dalam film) menjadi medan dialog pertanyaan-pertanyaan filsafatii kehidupan.  Cerita kadang mewakili kehidupan manusia, sebuah citra atau gambaran kehidupan manusia. Citra tersebut akan membawa subyek didik untuk menemukan sebuah pesan atau bahkan sebuah pertanyaan yang sungguh bersifat filsafati.

purwono nugroho adhi

Dikembangkan dari makalah penulis mengenai Apresiasi Film, dan didasari dari Joseph M. Boggs. (1986). Cara Menilai Sebuah Film (terjemahan dar i The Art of Watching Film oleh Asrul Sani). Jakarta: Yayasan Citra

SEKOLAH

Posted: Oktober 24, 2008 in kajian seni

…….di sudut rumah petak

Suatu ketika seorang anak bertanya pada ibunya, “Mbok, kenapa aku harus sekolah ya “?. Sang Ibu itu menjawab, “Ya biar pinter tho le, biar kamu bisa jadi dokter, pilot, atau presiden”. Kemudian anak itu berdiam, matanya sendu melamunkan sesuatu yang baru saja terucap dari Ibunya. Anak itu kemudian tersenyum simpul, lalu bertanya kembali pada Ibunya, “Lha simbok tidak sekolah “?, Ibunya menjawab dengan senyum pula, “Ya makanya simbok tidak dapat jadi dokter, hanya jadi ibu yang jual dagangan saja di pasar”. Anak langsung menyahut, “tapi kan simbok dapat cari uang dengan bakulan di pasar, buktinya simbok tidak sekolah”. Ibu tersenyum simpul, “Ya kalau jualan di pasar tidak perlu sekolah, tapi kalau mau seperti yang ada di TV itu, berjas, berdasi, pandai bicara, ya harus sekolah , uangnya banyak, bisa kaya….tidak seperti simbok ini”.

……sementara di sudut Joho dua orang sedang berdialog

Bang Is, menuturkan kepada ku dengan nada suara yang cukup meninggi. Pendidikan itu adalah wahana yang paling efektif untuk menunjang keberlanjutan sebuah bangsa, generasi demi generasi. Pendidikan itu sebagai alat pembentukan watak, alat pelatih ketrampilan, investasi, konsumsi dan yang jelas alat pembentuk kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, yang pasti alat mengurangi kemiskinan. Dialog pun berlanjut, dengan berapi-api Bang Is menuturkan apa yang dikajinya dari Wahono. Pendidikan dihadapkan pada sebuah perseteruan antara pendidikan yang berorientasi kompetisi ekonomi atau pendidikan yang berkeadilan sosial. Pendidikan yang berorientasi kompetisi ekonomi bakal menciptakan korban, yakni mereka yang kalah berkompetisi, tapi di lain sisi cepat menghasilkan keuntungan financial bagi yang menang. Pendidikan yang seperti ini bakal merugikan mereka yang miskin, karena tiada mampu bersaing dalam kancah produktifitas. Berbeda dengan pendidikan yang berkeadilan sosial, walaupun tidak memberikan keuntungan financial yang berarti tetapi lebih mengangkat harkat sebanyak orang. Mereka yang rentan secara ekonomi mampu ikut dalam produktifitas sistem. Pendidikan yang berkeadilan sosial mampu mendatangkan pembebasan dan mendorong pemberdayaan. Bang Is, dengan dahi berkerut dan tangan mengepal, mengkaitkan pemikiran tentang pendidikan berkeadilan sosial tersebut sampai kepada ranah kebijakan publik pemerintah. Aku terdiam, termenung memikirkan sebait kata akhir dari Bang Is, bagaimana pendidikan berkeadilan sosial tersebut menjadi kebijaksanaan publik pemerintah.

…di ujung jalan kota

Sebuah media massa memampangkan tulisan headline “Sekolah bebas biaya” (Walikota Sutarip yang mengusulkan Red), sedangkan di sudut bangku gedung balai kota beberapa orang sedang asyik mendiskusikan Raperda tentang pajak pendidikan. Lobi hotel ramai dengan orang-orang yang bercengkerama mengenai pajak pendidikan lagi. Ya …akhirnya pajak pendidikan menjadi istilah yang kurang pas dan diganti dengan iuran pendidikan.

…kembali ke Joho

Aku mulai mengerti apa yang diprihatinkan Bang Is, bahwa masalah pendidikan yang berkeadilan sosial ini bukanlah barang yang mudah seperti orang membalik telapak tangan. Masalah ini mengkaitkan dengan banyak pihak. Maka Bang Is berharap dapat mengkaitkan masalah biaya pendidikan bagi kaum miskin dengan Participatory legislative Drafting. Ya…mengkaitkan dengan keterlibatan masyarakat untuk terlibat aktif di dalam setiap kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah. Bagaimana masyarakat diajak untuk melihat tujuan dari setiap Perda yang dikeluarkan, penerimaa manfaatnya dari Perda tersebut, sumber pendanaan, mekanisme panggalangan dana perda, mekanisme seleksi dan verifikasi kelompok sasaran, mekanisme kontrol dan evaluasi, mekanisme transparasi dan pertanggung jawaban dan konsekuensi administrasi dan legalitas. Belajar dari apa yang dipikirkan persoalan iuran pendidikan itu, masyarakat hendaknya ikut terlibat aktif agar Perda yang dikeluarkan tepat sasaran pada masyarakat yang rentan dan membutuhkan. Aku semakin tergelitik betapa hal ini menarik, karena masalah pendidikan adalah masalah yang menyangkut manusia sebagai subyek. Ya, karena pendidikan merupakan hak bagi setiap insan untuk mendapatkannya. Bang Is mulai menghela nafas, seakan ingin bertutur kepedihannya akan permasalahan kota dengan berjuben kebijakan publik pemerintah yang kurang aspiratif. Cukup lama Bang Is berdiam. Aku pun terdiam juga seakan waktu dan tutur kata terhenti.

………sebentar di ruang kelas

Tiba-tiba suara seorang guru berkumandang, “Amri, apakah kamu sudah mengerjakan PR mu !”, Amri menjawab dengan perlahan, “baru sedikit bu”. “Bagaimana kok baru sedikit, kan sudah cukup lama waktunya !” Amri terdiam tak menjawab. Guru kembali bertanya, dengan nada suara yang sudah menurun, “kamu tidak punya buku ya ? “. Amri menjawab perlahan., “ iya bu”. “Kenapa kamu tidak membeli di Koperasi sekolah ?”  Amri pun menjawab kembali, “maaf bu, simbok saya tidak punya uang untuk buku itu”. Guru berbalik bertanya, “kenapa tidak pinjam di perpustakaan”. Amri dengan menunduk menjawab, “buku sudah habis dipinjam, jumlahnya terbatas”. Guru itu menghela nafas, kemudian melanjutkan pertanyaannya, “kamu kan bisa mengerjakannya bersama teman mu, bukunya dipakai bersama”, Amri diam tak menjawab. Guru mendekat, dan bertanya, “kenapa kamu tidak lakukan Amri ?”. Amri tertunduk, dan mengucapkan sepatah kata dengan lirih, “maaf bu, saya harus bantu simbok di pasar, saya tidak punya waktu untuk mengerjakannya, setiap malam saya sudah lelah.”

…..waktu mulai bergulir kembali di Joho

Aku terhenyak dari diamku, suara Bang Is membangunkan dari waktu dan tutur yang terhenti. Bang Is mengomentari mengenai berbagai problem yang dihadapi di dunia pendidikan. Bang Is mengatakan bahwa problem pendidikan berkisar paling tidak diantara kenaikan biaya pendidikan untuk siswa baru dan tahun ajaran baru, dan keterbatasan anggaran pendidikan APBD kota. Masalah-masalah kependidikan begitu terkait dengan sektor lain, ya seperti masalah kemiskinan, politik, kepemerintahan, anggaran publik dan lain sebagainya. Maka kebijakan haruslah menyentuh secara tepat apa dan siapa yang dijadikan sasaran.
Waktu mulai berjalan sedetik, semenit, seakan mengiringi dialog ku dengan Bang Is. Pikiran ku melayang menapaki serambi pemikiran-pemikiran persoalan biaya pendidikan. Pendidikan yang mulai menapaki sebuah abad baru industrialisasi dan kapitalisasi. Pendidikan saat ini hanya menyisakan tangis ibu dan rengkuhan rapuh seorang bapak yang harus membiayai putranya untuk duduk di bangku sekolah. Biaya pendidikan yang amat mahal membuat sekolah bukanlah tempat setiap insan belajar, namun menjadi tempat beban seorang putra dari seorang bapak dan ibu yang tak tahu harus mencari uang dari mana untuk membiayai setiap detik putranya bertahan untuk belajar. Hanya merekalah yang mampu untuk membayar dapat membawa sang putra untuk menjadi siapa dia dari sekolah itu. Saat ini orang untuk belajar pun membutuhkan biaya yang amat tinggi. Padahal belajar adalah hak setiap orang, dan hak setiap generasi untuk berkembang. Kaum miskin semakin tersudutkan, hak mereka untuk berkembang sama, dipangkas oleh sistem. Pendidikan hanyalah tempat harapan bagi mereka yang miskin untuk berkembang, tetapi saat ini pun harapan itu mulai sirna dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi. Tiada yang tersisa bagi kaum miskin, hak belajar saja direnggut. Aku termenung memikirkan kompetisi yang tak sebanding ini.

….sepulang sekolah

Amri berjalan menyusuri pertokoan-pertokoan yang rame dengan orang berlalu lalang. PR nya yang belum selesai menyisakan tangis hati betapa untuk belajar pun Amri sulit karena beban biaya yang ikut dipikulnya. Perjalanan pulang  sore itu dari sekolah menyisakan suatu renungan bagiannya. Ia saksikan orang memakai dasi, berjas dan bermobil mewah, sedangkan disampingnya gelandangan yang matanya menerawang tanpa harapan. Mereka yang berdasi karena bersekolah pikirnya, sedangkan gelandangan tanpa sekolah pastinya. Ironis bukan pikir Amri, mau jadi siapa ia jika bersekolah. Pasti berdasi dan bermobil mewah, tapi jika tak sekolah. Pikirnya lebih baik jadi preman saja. Tapi ia ingat simboknya, sekolah ya..jadi presiden. Sekolah pikirnya menjadi dokter, presiden, orang kaya…..sekolah untuk menjadi kaya. Semuannya sama jika bersekolah..ya jadi presiden. Padahal untuk sekolah ya…hanya yang kaya saja pikirnya. Maka tidak semua orang bersekolah..karena sekolah hanya untuk yang kaya saja..pikirnya.

….Joho lagi..

Bang Is kelihatan mulai lelah diskusi soal biaya pendidikan murah, lalu diteguknya air putih di sudut meja. Aku pun juga mulai lelah memikirkan itu. Kusudahi diskusi itu, Bang Is pun mengangguk setuju.  Mungkin lelahnya kami, bukanlah lamanya kami berdiskusi, tetapi tak jelasnya kebijakan publik sudah berorientasi kepada persoalan pendidikan ini. Aku mengemasi barangku, dan bersiap untuk pulang.
..depan pintu rumah petak..
Amri pulang dengan menyisakan banyak pertanyaan. PR nya tidak hanya mengerjakan tugas sekolah, tetapi  mau jadi apakah dia dengan bersekolah ……

purwono nugroho adhi
Medio November 2003, di sudut bangku harapan