Madonna dan idiosyncratic Subversif

“What Madonna has given to American culture, and culture throughout the world, is not a collection of songs; rather, it is a collection of images”.

Annalee Newitz

Berbicara tentang Madonna, sebagian orang lebih cenderung  “mengolok-olok” daripada menyanjung. Tipikal citranya yang “nakal” dan “menggoda” membawa dirinya dalam balutan subversif bagi budaya patrialkal. Madonna mungkin hanya salah satu  ikon “perempuan” yang dianggap sedikit berani menawarkan sebentuk fetish dengan pendobrakan terhadap tradisionalisme dan puritanisme. Namun, karena itulah, ia dianggap cemerlang untuk menghacurkan dari dalam dan meredevinisi segala kekuatan-kekuatan yang cenderung menganggap “tubuh perempuan” dalam balutan fetish, terutama sexual fetishism.

Beberapa kalangan industri seni, mengatakan, Madonna dianggap berhasil membawa a crossing-over in the entertainment industry. Ia dianggap mampu membawa “pencitraannya” dalam industri, baik fashion dan images pop culture  yang mempunyai ciri subversif, subculture, dan melintas batas, membawa apa yang dinilai oleh proyek moralitas untuk diredevinisi, diperdebatkan dan dipertanyakan. Kalangan tradisional dan agamamawan dibuatnya kalang kabut, dan tentu miliaran uang diraupnya dari proyek subversif ini. Namun, saya rasa bukan soal uang dan keuntungan industri yang lebih penting, tetapi sebuah refleksi culture studies yang membawa sebuah pencerahan-penceran baru, khususnya pencitraan perempuan. Bagi kalangan akademis, Madonna menjadi salah satu The idiosyncratic female icon of a ‘post-gender’, ia menjadi ikon “post gender”, karena melalui lontaran citra tubuhnya, ia telah mengangkat perlawanan minoritas-lesbian, homoseksual dan perlawanan terhadap kekuasaan budaya mainstreem tradisional.  Ia mencoba untuk chose to repeat it ironically, membingkai kembali “citra tubuhnya” yang dianggap “sundal-kepelacuran” , yang tadinya untuk diolok-olok, tetapi sekarang dikemas kembali menjadi medan perlawanan paling strategis (layaknya satire dan parodi-carricatura), baik dalam hal fashion dan citra tubuh perempuan yang merombak segala kekuasaan. Merobak kembali ikon Marlyn Monroe menjadi penggoda yang cantik, menggairahkan, namun menghancurkan siapa saja yang mendekatinya, bahkan kekuasaan fasis laki-laki (baca tradisionalisme). Bahkan, dari namanya pun, Madonna, menelisik sebuah orientasi tentang “perempuan suci”. Membaliknya, layaknya seseorang yang ingin balas dendam dengan kekuasaan patrialkal yang selalu memanfaatkan tubuh perempuan. Tentu, ini bukan persoalan tubuh perempuan, tetapi sebuah pencitraan akan ekspresi diri dan kemampuan untuk menyatakan. Dalam lagunya “Material Girl”, ia dengan jujur dan tanpa segan-segan merayakan kapitalisme tubuh perempuan dengan satire nan parodi, bahkan dalam Like A Virgin dan Like A Prayer, ia cenderung membuat upaya politically correct dalam fetish yang memanfaatkan kemolekan tubuhnya. Sahkah ?, tentu sah bagi dunia industri yang katanya cenderung patrialkal ini. Apakah merendahkan tubuh perempuan ? tentu saja, bagi yang melihatnya dari sisi feminisme filosofis, tetapi penegasannya, Madonna tidak ingin ditiru, ia hanya ingin menantang. Bahkan, ia ingin dirinya sebagai yang “tersalib”, berkurban atas tubuhnya untuk dinikmati, untuk dirasakan dan diraba bagi budaya “hidung belang” yang puritan dan munafik.

Berapa kali Madonna harus dihujat oleh kaum agamawan, khususnya Gereja Katolik, ketika ia menggunakan lambang atau ikon kekatolikan dalam balutan sensual. Namun tak bisa dihindari, Madonna menjadi salah satu ikon generasi X-er , satu sisi dihujat oleh Gereja Katolik, karena membawa bentuk-bentuk subversif atas lambang/ikon gereja Katolik, tetapi di lain pihak memberikan kesadaran dan refleksi, menghubungkan spiritualitas dan seksualitas, menghubungkan dan mengkonfrontasinya dalam gambaran religius. Dalam video Clipsnya Like A Prayer ditampakkan Madonna mencium St. Martin de Porres (mengingatkan tradisi Jumat paskah tentang cium Salib dan intimasi spiritualitas), seorang Santo yang berdarah kulit hitam.  Video klip ini ingin memprotes gerakan klux-klux klan, memprotes ketidakdilan kepada orang negro, membawa pembebasan dan keadilan dalam wujud ikonografi kekatolikan dan tentu pergeseran ruang liturgi Katolik yang kuno kepada gerak penthakostalisme yang mulai meraung di seantero jagat.

Madonna tentu fenomenal bagi  pencitraan budaya patrialkal. Media tubuhnya selayaknya fetish yang ingin dinikmati, tetapi semakin lama menikmati, semakin orang menyadari “keberdosannya” akan tubuh. Tubuhnya sepertinya menjadi tanda “sin against light”, menyadarkan kembali budaya yang mulai jenuh dengan erotisme dan sensualitas yang tak senonoh. Mungkin Madonna tidak harus dijadikan daftar “Santa” seperti keinginannya yang satire melalui namanya “Madonna” sang perawan suci, tetapi dari tubuhnya itu, ada kesadaran “post-gender” dan ironically, bahkan politically correct layaknya Maria Magdalena membasuh kaki Sang Isa.

Purwono nugroho adhi

Penikmat kerja budaya

Belajar menulis secara “mendalam”

Catatan ringkas belajar dari penulis novel In Cold Blood, Truman Capote

Saya pernah menyampaikan usulan kepada teman-teman , jikalau kita mau menulis esai tentang seorang penyair atau sastrawan, apalagi penyair atau sastrawan itu masih hidup, alangkah baiknya jika kita menulisnya dengan esai yang “mendalam” atau immersion. Artinya, kita perlu bertemu dengan penyair itu, berbincang secara langsung, dan melakukan semacam wawancara, kajian dan telaah sehingga harapannya, tulisan esai kita tentang penyair itu menjadi semakin “dalam”. Apakah proses semacam ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan? Saya rasa bukan keharusan, namun bagi saya secara pribadi itu menjadi “keharusan”. Apalagi ketika kita ingin mengenal seorang yang akan menjadi subyek tulisan kita.

Saya terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh Truman Capote. Ia adalah seorang penulis Amerika yang dikenal menggiatkan sebuah genre baru dalam penulisan sastra dan jurnalistik melalui pendekatan yang sering dikenal dengan jurnalisme sastra. Salah satu yang fenomenal adalah “novel nonfiksi” In Cold Blood. In Cold Blood adalah sebuah novel yang menceritakan mengenai pembunuhan empat anggota keluarga petani di daerah Kansas. Capote pergi ke Kansas untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan di kota kecil itu. Ia berusaha merekam apa saja yang terjadi di kota kecil itu, khususnya menyangkut peristiwa yang paling menggemparkan akan tragedi pembunuhan itu.

Ia mencoba untuk menggali lebih dalam mengenai apa yang dirasakan oleh para penduduk sekitarnya, ketakutan, kehilangan dan  berbagai macam perasaan tentang peristiwa mencekam itu. Selama ia tinggal di Kansas, dua pembunuh itu akhirnya tertangkap. Capote kemudian mulai melakukan wawancara dengan kedua pembunuh itu. Selama enam tahun, ia menjadi “terjerat” dan  semakin terlibat dalam kehidupan kedua pembunuh serta warga kota Kansas itu. Ia menulis dalam ribuan lembar catatan mengenai pelbagai hal yang ia rasakan, ia kaji dan perdalam.

Capote pun dalam pengalamannya menulis In Cold Blood  mengatakan, “berkas-berkas yang saya kumpulkan hampir mengisi seluruh ruangan kecil saya, hingga hampir sampai langit-langit.” Ia menulis berdasarkan beribu-ribu lembar penelitian, ratusan surat, kliping koran, catatan pengadilan, wawancara hingga surat-surat yang diambil dari para pembunuh itu selama kurun waktu enam tahun. Bayangkan saja, Capote mengkaji itu semua dalam waktu dan telaah yang begitu panjang, yaitu enam tahun. In Cold Blood bagi Capote merupakan sebuah kerja nyata bagaimana ia menulis secara begitu immersion. Ia bahkan mengatakan bahwa In Cold Blood  merupakan buku yang menjadi penting bagi hidupnya. Saat menulis itu, ia menyadari untuk menghasilkan sebuah novel jurnalistik dalam skala yang “mendalam” dan bahkan memiliki kredibilitas kajian yang tidak sembarangan. Ia ingin bertujuan, bahwa apa yang ia tulis bukan sekedar “hackwork,” atau “karangan picisan.”

Truman Capote memberikan pelajaran berharga kepada kita. Melalui survey dan observasinya yang begitu panjang itu, ia membuat sebuah kisah menjadi begitu “mendalam”, jelas sekali setiap detailnya, pengalaman dan sudut pandang yang begitu jelas. Capote berhasil memberikan potret kota kecil Kansas begitu detail. Bagaimana persahabatan, budaya, kehidupan keluarga, sikap yang acuh tak acuh, letupan-paradoks, antara kehidupan para kriminalnya dengan orang-orang sekitarnya dengan akurasi yang optimal. George Steiner mengatakannya dengan “rigorously documentary material”, telah-kajian melalui bahan-bahan yang bersifat dokumenter.

Telah dan observasi yang detail, membuat In Cold Blood diperkaya dengan karakter dan motif yang begitu mendalam, bahkan telaah-telaah psikologis para pelakunya. Bagaimana  masa kecil para pelaku pembunuhan, mimpi-mimpinya, ketakutan, kecemasan, yang mampu memberikan sentimentalitas dan latar belakang yang begitu memukau. Hal itu tentu saja tak mungkin muncul, tanpa sebuah kajian dan riset yang mendalam.

Namun, tentu saja, apa yang telah dilakukan Truman Capote dengan begitu luar biasanya itu, tetap menuai kritik, terutama ada beberapa bagian novelnya itu yang terkesan “immaculately factual” atau yang sering disebut sebagai “fakta yang terkesan rapi (naif).” Artinya, ada beberapa fakta yang sedikit “dibelokkan” kemudian lebih “dibesar-besarkan” atau sedikit “dimanipulasi” untuk memberikan cerita yang lebih menegangkan dan heroik. Tentu sekali lagi, jika menyangkut “novel nonfiksi” kadang hal-hal itu masih dimungkinkan.

Hal yang paling pokok bagi saya, betapa pentingnya sebuah riset dan kajian ketika harus menulis mengenai sesuatu hal. Saya menjadi bertanya-tanya, jika saya akan menulis mengenai seorang penyair atau sastrawan yang saat ini masih hidup, tentu saya harus bertemu dengan orangnya, bercengkerama dan berdialog bersamannya, dan berusaha mempelajari segala dokumen, serta hasil karyanya. Saya belajar dari apa yang dilakukan Truman Capote melalui In Cold Blood, betapa pentingnya tindak immersion. Bayangkan, jika itu tak kita lakukan, apa jadinya jika kita menulis mengenai seorang penyair atau sastrawan apalagi memenuhi kriteria “paling” berpengaruh, tanpa tindak immersion, apalagi tidak pernah bertemu dan bercengkerama, padahal sang penyair atau sastrawannya itu masih hidup. Wuadaalaaaaaah!

Purwono Nugroho Adhi

Penikmat Kerja Budaya

Legenda Para Majus

Musim dingin begitu menusuk raga. Ketika beberapa orang tertatih berjalan ke timur menuju jalan setapak yang kian gersang dan mencekam. Kaki mereka terseok gersangnya padang tandus tak berujung. Hanya sebuah pengharapan akan bintang timur yang kian memudar di ujung bumi.

Pandangan mereka tidak lagi terang, hanya temaram berselimutkan pekatnya musim dingin yang tak ada habisnya. Kemanakah mereka akan mencari bintang timur yang kian memudar itu. Sudah mereka lalui puluhan dusun yang kian gelap, sepi, miskin di gunung dan lembah tandus. Sudah mereka lalui, sungai yang membeku dan sendu itu. Namun tidak juga mereka menemukan tempat singgah untuk sedikit menghangatkan badan. Tubuh mereka mulai lelah tanpa ada kepastian.

Mereka mulai risau, akan apa yang telah mereka tinggalkan beberapa bulan sebelumnya. Sebuah kehangatan perapian dengan kemewahan dan kebersahajaanya. Meninggalkan tembok-tembok megah dengan segala perabot mewah. Begitu mempesonanya apa yang sebelumnya mereka miliki. Sekarang, mereka berjalan dalam relung kesepian dan dinginnya udara.Terikat pada sebuah janji dan tekad untuk mencari bintang timur. Bintang yang nyalanya paling terang diantara bintang lainnya.

Bintang yang mereka harapkan sebagai sebuah epiphany. Bagi mereka epiphany adalah segalanya. Sebuah “Eureka!”, ketika mereka tidak pernah menemukan apa yang mereka pikirkan sebelumnya. Pengalaman luar biasa yang menjadikan mereka menyadari apa artinya hidup manusia. Ketika mereka mulai memahami kebijaksanaan, pencerahan selayaknya apa yang mereka telah pelajari sebagai seorang Zoroastrian, dengan ilmu falak, perbintangan dan alkemisnya. Ataupun, seorang Zarathustra yang berusaha menemukan Ahura Mazda, yaitu Sang Terang.

Merekalah Melchior seorang terpelajar dari tanah jauh Persia, Caspar dari semanjung luas India dan Balthazar dari  padang luas Arab. Mereka juga dikenal dengan nama Larvandad, Gushnasaph, dan Hormisdas, atau juga Hor, Karsudan, dan Basanater, mungkin juga Kagpha, Badadakharida dan Badadilma. Mereka menyeberangi lautan dan benua untuk mencari epiphany. Mencari layaknya “Mundus Novus”, sebuah dunia baru yang akan memberikan mereka kebenaran. Namun, apa yang  terjadi, mereka harus berhadapan dengan dinginnya musim yang mencekam, padang tandus penuh belantara semak dan belukar yang kian beku.  Dan, akhirnya mereka harus menghadapi kejamnya “pembantaian bayi-bayi tak berdosa” oleh seorang raja lalim bernama Herodes. Betapa kejamnya ketika tanah gersang itu harus dilumuri oleh darah para bayi-bayi yang baru dilahirkan tak berdosa karena kabar tentang lahirnya Ahura Mazda, yaitu Sang Terang.

Seorang pujangga Macrobius menulis dalam suratnya Saturnalia, menggambarkan kekejaman raja yang dinamai Herodes dengan begitu luar biasa, bahkan anaknya sendiri dibungkam habis,

“Kami mendengar bahwa semua anak laki-laki di Suriah, di bawah dua tahun telah diperintahkan untuk dibunuh bahkan kami mendengar, anaknya sendiri juga tewas, katanya, lebih baik menjadi babi Herodes, daripada menjadi anaknya. “

Akhirnya karena berita itu pun, mereka harus memutar melalui pegunungan terjal yang angker dan berliku. Langkah mereka gontai. Unta-unta yang menemani perjalanan mereka terlunta, hanya sebersit bintang timur yang masih temaram dan mulai pudar menghilang disapu oleh musim yang kian dingin dan merajam.

***

Tiba-tiba, mata mereka terbelalak, antara mimpi dan halusinasi yang tak jelas, ketika dihadapan mereka terpampang sosok seperti  farohar. Farohar adalah laki-laki bertubuh tegap, berjenggot, memakai jubah dengan sepasang sayap, ekor, dan sepasang kaki dengan memegang sebuah cincin di tangan kirinya. Sosok itu menunjukan kemana mereka harus mencari jalan menuju epiphany. Sebuah petunjuk dengan teka-teki yang membuat mereka bertanya sekaligus mengaguminya,

“apa yang kalian sebut sebagai bintang petunjuk adalah apa yang kalian ciptakan terlebih dahulu mengenai nalar kalian, rupa kalian, kehendak kalian, untuk menjadi cinta kalian sendiri! Dan sebenarnya, untuk kesucian kalian, wahai kalian makhluk yang mengetahui !”

Peristiwa itu membuat mereka bergegas, bangkit dan memulaiperjalanan panjang mereka untuk tetap mencari epiphany. Tiada lagi unta yang mampu menemani mereka. Mereka sekarang harus berjalan kaki menyusuri pegunungan terjal dan berliku.  Perjalanan mereka menempuh rintangan terjal yang kian keras, bahkan  sosok  Angra Mainyu membayangi mereka. Sosok jahat yang sering disebut sebagai “perusak jiwa”. Kedengkian, angkara murka, kesombongan, kemalasan.  Sekarang mereka tak hanya berjuang melawan dinginnya musim, terjal dan curamnya tebing, melainkan melawan Angra Mainyu  di dalam sanubari mereka. Mereka harus senantiasa waspada, bahkan mata hati mereka bisa buta karena kekuatan Angra Mainyu  yang mampu merusak jiwa.

Dalam serangan pekat Angra Mainyu itu, mereka mengingat kembali pendarasan kidung yang sering disebut sebagai Ahuna Vairya, sebuah kidung untuk mengusir kekuatan jahat, untuk mengembalikan nurani mereka. Sebuah kidung mengenai “prinsip latihan rohani” untuk memilih jalan kesucian.

“kehendak MU adalah hukum kebenaran.

karuniailah aku dengan pikiran yang baik, supaya perbuatan yang aku lakukan di dunia ini untuk jalan kebaikan dan terang, kehedak MU yang meringankan orang terlunta agar membuat kebenaran dan kesucian tetap meraja”.

Akhirnya mereka sampai di ujung jalan berliku.  Bintang timur  yang menuntun mereka tidak hanya memudar melainkan telah sirna tergantikan oleh terang yang tak terperikan. Mereka melihat Sang Terang itu. Sosok bayi mungil dibungkus kain lampin tertidur di alas jerami ditemani oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki. Lalu mereka melakukan sujud, semacam koutou yang mereka lakukan untuk sūrya namaskāra, sebuah penghormatan untuk Sang Terang.

 

Salam, selamat hari epiphany,

Tulisan singkat ini terinspirasi The Journey of the Magi karya T. S. Eliot dan pernak-pernik mengenai Zoroaster.

 

Purwono Nugroho Adhi

Penikmat Kerja Budaya

 

 

 

 

 

 

 

Suspense ala Hitchcock

Tak dapat dipungkiri bahwa Alfred Hitchcock merupakan “bapak” dalam genre film-film suspense (meramu aroma ketegangan). Kepiawaian Hitchcock dalam mengemas ketegangan begitu mempesona, cerdas dan orisinil. Maka, formula dari Hitchcock sering digunakan oleh film-film bergenre suspense hingga saat ini.

Sebenarnya apa saja formula yang dilakukan Hitchcock dalam film-filmnya.

Pertama, ia mengembangkan cerita mempergunakan rumus “MacGuffin.” Yaitu, ia mencoba mengeksplorasi segala sesuatu yang membuat seseorang mempunyai “motif-motif” tertentu. Entah itu masa lalu, berhubungan dengan tempat, orang, kejiwaan, dan lain sebagainya. Pada intinya, ia berusaha meramu dan mengutarakan kepada para penontonnya mengenai kepentingan terselubung yang ada pada di tiap tokohnya, entah itu nanti bentuknya sebagai twist atau memang menjadi semacam petunjuk atau bahkan clue.

Kedua, biasanya ia memulai dengan “the ordinary person.” Orang biasa saja yang sepertinya baik, naif, namun menyimpan segala kompleksitas yang mengerikan. Biasanya digambarkan dengan tenang, ramah, atau biasa saja seperti orang pada umumnya, tetapi pada akhirnya menyimpan motif-motif terselubung yang begitu psikopatik. Atau sebaliknya, sebagai “the double”, artinya sang tokoh mempunyai peran ganda yang misterius, sebagai tersangka, namun pada akhirnya keliru karena bukan siapa-siapa. Atau peran ganda yang membuat penonton menjadi tersentuh karena motif yang dapat dimaklumi.

Ketiga, biasanya ketegangan yang ada diramu dengan “the wrong man”. Sebuah kesialan yang terjadi tak terduga pada orang-orang yang salah tempat. Orang yang sebenarnya ingin aman, tetapi malah bertemu dengan prahara. Orang yang pada awalnya merasa aman, tetapi pada akhirnya, mereka salah tempat, karena didalamnya ada sang psikopat, atau sebuah pembunuhan berencana dibaliknya.

Keempat, setting-nya biasanya mengandung unsur “food and death”. Pembunuhan dan kejar-kejaran terjadi di area dapur, rumah tangga, di sekitar ruang tamu, atau kamar mandi atau sebenarnya di tempat yang nyaman, ruang tidur, ruang makan dan lain sebagainya. Begitu juga, sang psikopat melakukan pembunuhannya dengan perangkat dapur yang ada, bahkan barang-barang rumah tangga seadanya.

Kelima, nah, ini yang pada zaman Hitchcock begitu terasa orisinil, yaitu dengan model “audience as voyeur”, dimana penonton diajak mengamati adegan-demi-adegan pembunuhan tanpa sang tokoh yang akan dibunuh mengetahuinya. Penonton diajak menjadi mata pembunuh, atau menjadi pengamat yang lebih tahu dari pada sang tokoh. Tentu, adegan “audience as voyeur”  yang hingga saat ini masih dikenang dan monumental adalah adegan kamar mandi dalam film  Psycho. Bagaimana, sang pembunuh membawa pisau, dari balik tirai menghunuskan kepada kurbannya yang sedang mandi.

Itulah beberapa hal yang biasa dimunculkan dalam film suspense hingga saat ini. Tergantung sebarapa fresh formulanya dikembangkan.

Purwono nugroho adhi

Penikmat kerja budaya

Legenda Para Penjaga

Kisah Pemberontakan Para Malaikat, sebuah kisah epik legendaris

Kisah epik Sumerian dari “Epic of Creation” hingga “Epic of Gilgamesh” sangat mempengaruhi karya-karya sastra berikutnya yang dikembangkan dalam sastra Semit-Babilonia. Karya-karya ini tentunya disepakati oleh para ahli menjadi “kanon” bagi perkembangan sastra-sastra Semitis selanjutnya, seperti “Fall of Man” (Kisah Kejatuhan Manusia) hingga “Fallen Angels” (Kisah Kejatuhan Para Malaikat). Kisah kejatuhan Para Malaikat merupakan salah satu kisah yang menarik ditelaah selain kisah kejatuhan manusia.

Tentu kisah panjang dari kejatuhan Para Malaikat ini tidak dapat ditemukan dalam sastra “kanon” yang ada di Old Testament (Perjanjian Lama), tetapi dapat ditemukan di pseudo sastra atau apokrif  di dalam The book of Enoch yang dikenal sebagai “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga). Di Old Testament hanya ditemukan secara sepintas mengenai legenda asal-usul “Iblis” (Lucifer) saja. Legenda ini diperkirakan ditulis kurang lebih 165 tahun sebelum Masehi, sebagai sastra yang ingin membingkai ulang atau me-relecture kisah-kisah “Fall of Man” sebelumnya. Maka, para ahli sering menyebutnya sebagai “reintrepetasi” kisah kejatuhan “para bala tentara surgawi” yang ada di Old Testament mengenai awal mula kejahatan terjadi. “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) merupakan kisah yang menarik, karena ada pendapat bahwa kisah legenda ini dipengaruhi oleh situasi Semit di tahun 200-60 sebelum Masehi ketika sebuah dinasti Seleukus di Siria berkuasa. Karya sastra ini ingin memberikan kritik terhadap para penguasa Helenis (Yunani) yang merasa dirinya sebagai keturunan para dewa. Pemaksaan budaya Helenis dengan berbagai hegemoni filsafatnya dan peristiwa kekerasan politik saat itulah yang membingkai bagaimana penggambaran sebuah epik skandal mengenai “kejatuhan” para penjaga ini.

Kisah diawali dari seorang penjaga yang paling kuat bernama Semyaza atau Semihazah. Ia adalah “penjaga” surgawi yang dipercaya oleh Tuhan. Ia adalah pemimpin dari kurang lebih 200 penjaga lainnya. Tugasnya, jelas, Semyaza adalah penjaga manusia dari kecederungan jatuh dan membelot dari Tuhan. Ia selalu mengawasi manusia, dimanapun manusia berada, menjaga agar mereka tidak keluar dari “takut” akan Tuhan. Pada suatu ketika, Semyaza “jatuh hati” kepada seorang perempuan. Ia tertarik kepada perempuan, yang kemudian ia ambil sebagai istri. Hal ini tentu menjadi “skandal” paling berat. Maka,  Semyaza memutuskan melakukan pemberontakan kepada Tuhan. Ia kemudian memimpin para penjaga lainnya untuk memberontak juga, karena para penjaga lainnya juga mengikuti apa yang dilakukan Semyaza untuk mengambil istri manusia dari bumi. Perkawinan para penjaga dengan para perempuan bumi ini telah melahirkan raksasa-raksasa yang disebut sebagai “nephilim” (mereka yang terbuang). Dari sinilah, kekacauan di bumi bermula, maka bermunculah para “monster” yang menganggu dan menghancurkan manusia, menghancurkan bumi.

Tidak hanya itu, seorang penjaga lainnya yang kuat bernama Asa’el juga memberontak. Ia memberitahukan tentang rahasia surgawi mengenai pembuatan senjata perang, perhiasan (logam mulia) dan kosmetik. Maka, terjadilah kekacauan yang dasyat di bumi, dari peperangan, perebutan harta benda hingga seksual. Bumi dan manusia semakin merana. Kekacauan di bumi yang disebabkan pemberotakan para penjaga ini, membuat Tuhan memerintahkan bala pasukan penjaga lainnya yang masih setia, seperti Michael, Uriel, Raphael dan Gabriel untuk menumpas habis. Mereka diminta untuk bertempur dan mengikat para penjaga pemberontak di hukuman abadi. Sedangkan, para raksasa yang menghancurkan bumi, kemudian oleh Tuhan, melalui pemberitahuan Uriel dihancurkan dengan “air bah”.

                “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) merupakan kisah legenda epik yang oleh beberapa kalangan dikatakan sebagai kisah adaptasi dari berbagai karya sastra besar sebelumnya. Misalnya saja, tokoh Asa’el ini mempunyai ”relecture” atau ketertautan dengan berbagai tokoh dalam epik-epik sastra sebelumnya seperti di dalam mitologi Yunani yang disebut Prometus, seorang dewa yang mencuri api di Olympus. Tidak hanya itu, seorang ahli “naskah-naskah Laut Mati” (Dead Scrolls), J.T. Milik mengatakan mengenai kaitan naskah “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) dengan komunitas Qumran. Sebuah komunitas sinkretik di daerah Palestina yang diperkirakan menjadi pertemuan budaya antara China, Tibet, dengan Yunani dan Semit. Hal itu tampak dari kisah mengenai “nephilim”, kisah raksasa-raksasa yang mengganggu manusia. Kisah ini sepertinya merupakan ”relecture” dari kisah “The Book of The Giant” (Legenda para raksasa), yang sudah terurai dari kisah “Ragnarok” (peperangan para raksasa) Babilonia, Hinduisme, Yunani hingga Nordik.

Berbicara mengenai “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) memang tidak dapat dilepaskan dengan perkembangan soal “legenda” malaikat. Legenda mengenai “malaikat” oleh banyak ahli mempunyai kisah dan tautan yang panjang di berbagai budaya. Ada yang mengatakan bahwa legenda ini berasal dari legenda mengenai “The  first Farmers” (Para Peladang) di daerah pegunungan Kurdistan kuno. Sebuah cerita legenda yang membaca sebuah generasi budaya cocok tanam dimana ada peralihan dari masa berburu. “Orang-orang” itulah yang akhirnya menjadi dipercaya sebagai peramu sebuah peradaban yang berkembang di Mesir. Tidak hanya itu, legenda para penjaga ini juga tampak-tampaknya sudah berkembang begitu rupa dalam kepercayaan Mesophotamia tua, dari “The Bodies of Bird” (manusia bersayap) hingga Sphinx Mesir yang dapat ditemukan rujukannya di The Egyptian Book of the Dead (semacam primbon di Mesir kuno, yang menyebut hampir 500 macam panduan dewa-dewi). Dan, tentu yang paling dekat “The Book of The Watchers”(Legenda para Pyaenjaga) merupakan “relecture” terhadap kisah-kisah epik Yunani yang sering dikenal dengan “Class of The Titans”, pemberontakan terhadap Titan, oleh para dewa, dengan underworld nya.

                “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) menjadi salah satu rujukan bagi kisah legenda “malaikat” yang paling detail dibadingkan dengan Old Testament. Di dalam kisah legenda inilah, dikenal berbagai jenis nama-nama “Seven Archangels” (7 malaikat setia pengawal Tuhan) dan para “malaikat” pembelot antara lain “Samyaza (Shemyazaz), Araqiel, Râmêêl, Kokabiel, Tamiel, Ramiel, Dânêl, Chazaqiel, Baraqiel, Asael, Armaros, Batariel, Bezaliel, Ananiel, Zaqiel, Shamsiel, Satariel, Turiel, Yomiel, Sariel, dll. Di dalam kisah inipun, digambarkan secara jelas “pertarungan surgawi” yang mengingatkan “pertarungan” perebutan “olympus” dan kemunculan “underworld”, dunia neraka. Apakah ini juga bisa dikaitkan dalam sastra-sastra Vedas atau Sanskirt mengenai pertarungan “Bratayudha”, entahlah. Namun, “The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) merupakan sebagian kecil saja dari The book of Enoch yang merupakan karya sastra legendaris dan misterius bagi kalangan pertapa-sastrawan yang berkembang di tanah Ethiopia, karena sifat alegoris yang penuh dengan kode, apocaliptic dan ilmu astronomi ini. Ditemukannya naskah ini di daerah Qumran, tentu saja para ahli sepakat, bahwa sastra ini pastinya dikembangkan dari berbagai sastra tua sebelumnya seperti Sumerian literature, Akkadian literature, Ancient Egyptian literature, dan Vedic Sanskrit.  

Tampaknya juga, The Book of The Watchers”(Legenda para Penjaga) ini menjadi inspirasi paling gemilang dalam sastra maupun epik modern dewasa ini. Tengok saja, Paradise Lost dari John Milton, Final Fantasy XII, Storm Constantine’s dalam Grigori Trilogy, Children of the Serpent karya Mark Ellis, legenda “para orang-orang langitan” (highlander) di kebudayaan Scotlandia (Celtic legends), atau yang paling menarik dewasa ini dalam DC Comics dengan “The Watchmen.  The Watchmen merupakan comik 12 seri yang ditulis oleh Alan Moore, dilukis oleh Dave Gibbons, dan diwarnai oleh John Higgins. Kisahnya mengenai beberapa “superhero”antara lain The Comedian (yang nama aslinya Edward Morgan Blake), Doctor Manhattan (yang nama aslinya Dr. Jonathan Osterman), Nite Owl (yang nama aslinya Daniel Dreiberg), Ozymandias (yang nama aslinya Adrian Veidt), Rorschach (yang nama aslinya Walter Joseph Kovacs), dan Silk Spectre (yang nama aslinya Laurie Juspeczyk). Mereka merupakan “superhero” yang bertugas “menjaga” (Watchers) dan membela kedamaian di Amerika selama berperang dengan Uni Soviet. Mereka ditunjuk sebagai “in a credible, real world”, orang-orang yang mempunyai kekuatan atau kelebihan untuk membantu Amerika berperang. Tetapi di tengah jalan, akhirnya mereka “dibekukan” dan operasi mereka ditutup karena berbagai perseteruan dan memanasnya situasi politik Amerika dan Uni Soviet. Akhirnya, para “superhero” itu tumbuh tidak populer di kalangan polisi dan masyarakat, yang kemudian membawa implikasi pengesahan undang-undang untuk melarang mereka. Sementara banyak dari pensiunan “superhero” itu, si Dokter Manhattan dan Komedian tetap beroperasi sebagai agen rahasia pemerintah, namun Rorschach terus beroperasi di luar hukum dan memberontak.

purwono nugroho adhi,

penikmat kerja budaya

Referensi

Andrew Collins, From the Ashes of Angels

http://www.bibliotecapleyades.net

www.hermetics.org dan www.wikipedia.org

Apocalypse

Sebuah kajian sederhana puisi facebook

Catatan Awal

Saya tergelitik dengan istri saya, ketika beberapa bulan yang lalu berdiskusi soal puisi Apocalypse yang sempat di posting di FB-nya. Intinya, apa to, sebenarnya yang dimaksud dengan Apocalypse itu. Apakah Apocalypse ini selalu dihubungkan dengan “neraka” , “kiamat” atau “akhir zaman”. Tentu secara pemahaman umum selalu dipahami dalam terminologi tersebut.

Tetapi, saya ingin “sedikit” berpikir berbeda. Saya ingin mengkaji Apocalypse dalam dekontruksi-nya, yang menyentuh gaya tuturnya yang “realis”, bukan sekedar “absurd” dan menyangkut yang “akhir zaman” semata, tetapi lebih kepada gaya tutur dari sebuah “kedalaman” (deep level) atas pembacaan realitas dan relecture atas sebuah kontruksi “budaya” mengenai “akhir zaman” dalam semangat puisi populer.

Agar mempermudah apresiasi, sekali lagi saya minta maaf kepada teman-teman semua, saya memilih tiga penyair facebook yang jelas saya kenal, dekat dan pahami dan mengetahui apa yang digelisahkan. Dan, tentu mudah untuk ijin “menggarapinya” tanpa harus sungkan.

Apa itu sastra Apocalypse

Apocalypse berasal dari bahasa Yunani (αποκαλυψις -transliterasi: “Apokalypsis”), secara harafiahnya berarti menyingkap kain penutup atau cadar. Intinya dapat dimengerti sebagai bentuk peristiwa penyingkapan kepada orang-orang tertentu (terpilih) yang mendapatkan hak istimewa (wahyu) tentang sesuatu yang masih tersembunyi. Pada perkembangnnya, istilah ini sering digunakan untuk merujuk kepada paham-paham soal Armageddon atau akhir dunia.

Maka sastra Apocalypse sering dihubungkan dengan karya tulisan yang bersifat atau berciri pengungkapan peristiwa-peristiwa masa depan yang dibuat berdasarkan mimpi atau peng-lihatan khusus tentang akhir dunia, atau dalam bahasa religius lebih luas kepada akhir zaman. Untuk itu sastra ini lebih bersifat layaknya visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal. Cirinya yang eskaton (melampaui-akhir dari segala sesuatu) membuat gaya tuturnya cenderung “ngeri”, seakan memberikan ikatan luar biasa yang akut.

Sastra ini banyak menjadi ciri penanda di berbagai sastra kitab suci. Dalam berbagai penulisan kitab suci, sastra ini sering menggambarkan bagaimana para nabi menyatakan keadilan Tuhan atas yang apa yang terjadi di masa depan. Hal itu tentu sering menyangkut dimensi religius moral sebagai dimaksudkan untuk menunjukkan cara Tuhan berurusan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia. Unsur misterius, jelas tampak dalam setiap penggal kata dengan kegeriannya dan berbagai simbol-simbolnya, antara lain tampak paling jelas dalam penggunaan citra fantastis, sosok makhluk hidup yang berupa “binatang” aneh atau citra supra manusia atau simbol angka-angka.

Tetapi, jangan gegabah hanya mengecap sastra Apocalypse sebagai hal-hal yang menyangkut “eskaton” saja. Ada berbagai pemikiran yang lebih menghubungkan dimensi moral sosial kritis sebagai bentuk daya dorong sastra Apocalypse ini, yaitu sebagai kritik sosial atas kekuasaan dan daya “pengeling” atau pengingat, agar orang kembali kepada jalannya yang benar. Lihat saja, misalnya Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Rangga Warsita yang berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait, yang berisi kata-kata yang bertutur soal “zaman gila” atau zaman édan. Ada yang mengatakan, bahwa Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan, lalu ia menggeneralisir situasi itu sebagai zaman gila di mana terjadi krisis. Hal itu sebagai penegasannya atas kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi oleh para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi, perlakuan dan sikap moral yang tak senonoh serta berbagai perkembangan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan. Begitu juga misalnya, Ramalan Jayabaya, yang hingga saat ini belum diketahui siapa penulisnya, karena bersifat anonim. Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya ditulis pada masa Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal secara khusus di kalangan masyarakat Jawa, yang tertera dalam surat Centhini pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44 yang dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman Kalabendu. Ramalan ini pun disinyalir juga sebagai bentuk kriitik atas ketidak adilan yang terjadi dan sinyalemen-sinyalemen kolonial yang mulai merasuki tanah jawa saat itu.

Membaca sastra Apocalypse dalam dekontruksinya, apalagi populer, memang menarik, misalnya pada puisi tiga teman kita, sandra palupi, kuniawan yunianto dan jeppe indra. Ketigannya mempunyai relecture (pembacaan kembali) ikon Apocalypse yang berbeda-beda, sandra palupi dengan “personal Apocalypse” –nya dan setia melantun pada kekuatan yang menjadi ciri dan penanda sastra Apocalypse ini, sedangkan kurniawan yunianto dengan “mistis Apocalypse”, yang seakan merajut untaian oriental dan paduan magis, sedangkan jeppe indra memadukkan dalam gaya realis kritis, seakan menjadikan sebuah “realis Apocalypse”.

“Personal Apocalypse” puisi sandra palupi

Dalam puisinya “Apocalypse” karya sandra palupi, bait awal dituliskan seperti ini:

“Binatangbinatang itu ‘kan peluk para bunga berapi, anakku
serta hujan, dan asap, dan angin, dan debu bersekutu jadi batuan beku
tak berhati nurani
dalam gempurannya, semuamua manusia mati lenyap mencari pelukan petir
lalu langit perkasa itu mematung, tersapu badai gelap tak bermata”

Sebuah “penggambaran” muram yang bersifat “eskaton” terasa mengingatkan soal “hari penghakiman”. Gambaran ciri Apocalypse menjadi kuat dalam ungkapan-ungkapan alam dan kehancurannya. Namun pada bait selanjutnya,

“…tepat tengah malam nanti
Dia bisikkan itu padaku
tentang nasib kita,anakku
tunggulah sesaat lagi…”

Terasa setting dikembalikkannya dalam dimensi yang yang lebih personal (dialog seseorang dengan anaknya) sebagai refren, karena akan diulang dengan penuturan yang berbeda, tetapi tak kehilangan akar “eskaton”, sebuah visi, atau penyingkapan misteri yang hadir. Kata “Dia bisikkan” menjadi tanda dramatis akan Apocalypse sebagai sebuah pengalaman batin personal akan ciri visi dan pengalaman pribadi yang cenderung meramal, sebagai penguat “orang-orang pilihan” (peng-lihatan supra).

“baiknya semuamua manusia percaya berlindung dalam perahu kudus
tinggal pergi derita pilu, kemunafikan dan ketidakadilan yang melangit
lagi dan lagi siksa kerongkongan
segala isi kantong duniamu tak ada guna kini, juga pekerjaan
kian buatmu tertindas. Bawa lekas anak istri keluarga buyut,
semuamua
karna seonggok nyawa lebih berarti dari serakan harta. Segeralah anakku,
jangan tunggu hingga segala air laut kesepian itu selimuti bumi
dan melumatnya dengan birahi.”

Sebuah seruan moral seakan ditekankan sebagai pengingat. Hal ini menjadi cirinya, sebagai bentuk dispensasionalisme atau seruan moral akan penghakiman atas dosa-dosa, sebuah seruan “eskaton” tentang kebijakan Tuhan dan tujuan Tuhan yang terakhir atas kekuasaan-Nya terhadap manusia.

“…bergegaslah, sebelum tegah malam nanti
Dia serukan kuat padaku
tentang nasib kita, anakku
teguhkan hati karna itu pasti…”

Bait-bait jenis diatas pun diulang dalam sentuhan yang berbeda, untuk memperkuat kekuatan “ramalan” atau visi. Bait-bait selanjutnya digiring pada untaian frase-frase yang bertutur, berdialog seakan mengingatkan jenis Apocalypse gaya konvensional. Gambaranya layaknya akhir zaman sebagai mana disebut dalam kitab-kitab Perjanjian Lama (Ke-Kristenan, pada Kitab Daniel dan Wahyu) mengenai penilaian orang-orang yang tak percaya, serta kebangkitan dan pemuliaan dari orang-orang yang diberi kebenaran di hadapan Tuhan dan mengenai nasib orang-orang benar. Namun, semua itu seakan dibaca ulang dalam bingkainya yang populer, yaitu dimensi personal realis, hubungan antara seseorang dengan anaknya, serta pembacaan yang dramatis akan sikap moral, perilaku dan “pangeling”. Hal itu terlihat dalam ungkapan-ungkapan yang seakan “diperlambat” dalam plot tuturnya.

bertekurlah pada lantai berpantul dosamu
tlah Dia tebus habis keegoisan manusia bumi. Kini gilirannya
aku, kau, semuamua ‘tuk serahkan tubuh berbalur jiwa.
Demi Dia.
Demi dunia.
Sebagai ganti Dia akan datang dan bertahta
dalam sinar berkilau-kilau cahaya,
bukankah kita ’kan ikut bersukacita kelak ?

…Hening. Tengah malam tadi lewat hari pagi
Dia membisu padaku
belum terjadi , anakku
belum ada tanda lagi…

tapi orangorang tak percaya itu keburu mencibir kaku, keburu berbuah resah
lalu para penjaga keburuburu mengepung kita, anakku…dengan perlengkapan
yang seharusnya ditanggalkan
mereka tak tahu, bumi sedang bersekutu dengan bulan-matahari-bintang,
berbisikbisik tentang perilaku mereka, lalu menunggu saat tepat untuk mengerjai mereka

…mengapa bukan tengah malam tadi kita binasa
atau Dia uji iman kita, anakku
nasib kita jelas pada torehan tanganNya
harus. Kita bersabar dan menunggu…

keyakinanku sekeras batu karang, tak ‘kan mengembun oleh kuatnya debur jantung
ini nubuatNya, dalam tali suara surgawi berbentuk aku
telah tertulis rapih korban raga kita dalam setiap helai bening rambutNya
kita akan berbahagia bersama, anakku. Aku dapat lihat dan rasakan sangat.
Tidakkah kalian juga ?!

…Lihat. Kini Dia datang dalam senyumNya
taburi warnawarni ribuan cahaya
datang selamatkan kita
tertawa menari karna kita cinta…

Mari berbaring rebah dalam senyum seluas langit, hingga harapan dan damai
berangkulan nyanyikan bait-bait kebebasan yang pelangi
hingga sayap-sayap tangan terulur menggapai jubahNya yang seputih angin
jangan peduli korban darah-tangis-raga kita yang berseberangan dengan keindahanNya

…Anakku,
lihat tanda itu…”

Akhir dari puisi ini pun ditarik oleh sang penulis dalam konteks kekinian yang realis dan dalam ujud metaforis yang lazim, yaitu tentang “akhir hayat”, sebuah gagasan Apocalypse personal.

“semua akan terjadi saat Dia menjemput kita
mari semuamua kita bersamasama terpejam
kelak jumpa lagi di suaka mega langit berumput hijau kemilau

rest in peace,
beristirahatlah dalam damai.”

Inilah gaya Apocalypse konvensional sandra palupi. Gaya seperti ini tentu “tak laku” dan “tak populer” jika dibingkai dengan “apa adanya” saja, tetapi sandra palupi mencoba dan memberanikan dirinya dengan menyusun “relecture” (pembacaan kembali) dengan konteks personal, pribadi, serta bertutur kekinian dalam gayanya yang sederhana, ngepop tanpa meninggalkan koridor konvensional Apocalypse.

“mistis Apocalypse” puisi kurniawan yunianto

Gaya puisi kurniawan yunianto yang berjudul “musim Panen Ke sekian” seperti tak ber- Apocalypse , tetapi jika dilihat secara seksama, gaya Apocalypse dikemasnya dalam sebuah pandangan oriental soal “reinkarnasi”.

“kau bakal memetik rembulan
yang bukankah buah dari perbincangan
di sebuah tempat yang hingga kini
masih saja kau rindukan sejuknya
taburan bulubulu gerimis itu
saat menyambut kita datang

Kata “kau bakal…” dan “di sebuah tempat…” membawa pada permenungan mistik yang mendalam. Gaya tutur visioner akan sebuah “ramalan”, atau mungkin peristiwa layaknya “de javu”.

sekarang biarlah kehidupan dan kematian
sengit berpilinan saling meniadakan
agar nanti kebenaran menjelma sebagai benih
yang layak dan memang seharusnya kutanamkan
pada tanah basah yang menghampar
di luas kesuburanmu

Kata “sekarang biarlah kehidupan dan kematian …sengit berpilinan saling meniadakan” menjadikan puisi ini menguat di nuansannya yang Apocalypse.

meski mungkin sedikit berlebihan
saat kutunjukkan sebuah kesungguhan
tapi tak ada yang marah kepada kita bukan
seperti kau bilang tuhanpun telah berkenan

maka kubiarkan kain putih menyelimuti
bagian tubuhmu yang rimbun yang subur
yang kelak melahirkan prajurit naga
sebelum akhirnya kuantar kau ke sebuah tempat
terjanjikan saat kau berkebaya ungu
saat aku menjadi petanimu

jauh berabad lalu”

Gaya tutur yang di balut kurniawan, membawa sebuah pemaknaan akan “masa depan” , soal “akhir dari zaman”, dalam hal ini akhir dari sebuah kehidupan seseorang. Walau tak bernada “eskaton” konvensional seperti puisi gaya sandra palupi diatas, namun ada dimensi yang bernada menyoal “hidup setelah kematian”. Kata “jauh berabad lalu” seakan menilik soal reinkarnasi. Jika dilihat dari bait sebelumnya yang mengatakan “maka kubiarkan kain putih menyelimuti………hinga bait …..terjanjikan saat kau berkebaya ungu…saat aku menjadi petanimu” , menjadi penegas sebuah dimensi selepas kematian dalam ungkapan “ sebuah tempat…… “, walau sepertinya ini bisa dihubungkan dalam tutur dramatis sang penulis mengenai “perkawinan”.

Tentu gaya kurniawan ini bisa saya katakan sebagai mistis Apocalypse, dimana ada dimensi kedalaman akan penyibakkan misteri dalam sebuah “peng-lihatan” apakah itu sang penulis alami atau memang itu menjadi gaya tutur bahasa saja. Pernah pada suatu kesempatan, puisi itu dihubungkan oleh kurniawan dengan peristiwa nyata hidupnya, pertemuan dengan seseorang yang “misterius” menyatakan dan menyoal “pertemuan sebelum kehidupan ini” (reinkarnasi), atau perjumpaannya dengan seorang sahabat yang sepertinya pernah dialami sebelumnya (de javu).

“realis Apocalypse” puisi jeppe indra

Puisi jeppe indra yang berjudul “desember”, mencoba menyusun relecture Apocalypse dalam bingkainya yang “realis”, jika kita tengok bait pertamannya,

“Tunggu sebentar di sini. Tunggu,
sampai kita benar-benar melihat mereka
mengendarai waktu
dalam gulita cahaya.”

Kata-kata yang dirangkai sepertinya mengajak pembacanya selayaknya seorang “vision”, ada unsur “ramalan”, yang bersifat “antisipatif – futuristik”, bahwa akan ada kejadian peristiwa.

Semestinya, kau tahu
kita pun tak di sini
semestinya kita di sana bersama mereka
nentukan waktu.

Lihat. Lihat!

Bait diatas, layaknya ada himbauan dari “sang vision”, untuk terlibat dan mengantisipasi kejadian itu. Seruan kata “lihat.Lihat!..” menjadi titik, bagaimana “sang vision” seakan mengajak memberikan “pembuktian” atas “penglihatannya”, pada bait selanjutnya ,

Dari lorong-lorong pabrik mereka datang
dari kampus-kampus bisu mereka nentang
dari pasar-pasar becek mereka lantang
dari kampung-kampung miskin mereka nyerang.

Jadi gelombang. Jadi gelombang!

Ramalan “sang vision” terjadi, peristiwa terasa disajikan terurai begitu rupa. Sebuah gerakan “massa” yang begitu masif digambarkan. Tentu ini bukan gambaran seperti sajak Apocalypse konvensional dengan mencekam seperti “hari penghakiman” atau “eskaton”, tetapi, mungkin dengan “nada dasar” yang sama oleh penulis diletakkan dalam kerangka realisasi gerakan massa saat itu (peringatan hari anti korupsi). Atau, jika dibaca ulang, mungkin diletakan untuk menyindir (satire) pernyataan presiden saat itu yang merasa ada “ketakutan” terhadap gerakan massa yang lebih besar. Bait-bait selanjutnya, menjadi sesuatu yang berbeda

Seharusnya kita tak di sini
ngumpet di gorong-gorong kemapanan
pembeli waktu lalu lupa.
Lupa pada waktu –

Seruan moral kembali dilontarkan, terasa menjadi “pengeling”. Inilah ciri dari sastra Apocalypse yang selalu memberikan himbauan moral melalui pola-pola antisipasi akan “bahaya” masa depan. Bait kemudian, bertutur berbeda

ada yang diculik belum kembali
ada yang sakit tak terobati
ada yang korupsi tak ditangkapi
ada tikus got – lintah darat di demokrasi!

Dan kita masih di sini?

Penulis merangkai ciri Apocalypse dalam kaitan sejarah masa lalu. Memang dalam kerangka sastra Apocalypse, sering sejarah masa lalu dimasukkan dalam visi, untuk memberikan konteks sejarah yang tepat untuk prediksi (ramalan) atau penguat pesan, atau bahkan untuk menyindir kepentingan “kekuasaan” tertentu. Pertanyaan,.. “ Dan kita masih di sini?..” menjadi “pangeling” moral. Tentu, akhirnya gaya Apocalypse dalam puisi jeppe indra ini menjadi sangat berbeda dan dekontruktif, terasa ada bentuk kolaboratif sekaligus pemaknaan akan realitas sosial ke dalam bentuk-betuk sanggahan “eskaton” yang tak harus untuk “kiamat” tetapi untuk memberikan “pengeling”, seperti layaknya kritik Rangga Warsita dan Jangka Jayabaya dalam konteksnya.

purwono nugroho adhi,
Penikmat kerja budaya

Fisafati Kill Bill

sebuah catatan lepas apresiatif film “Kill Bill”, karya Quentin Tarantino


Ambil pisaumu !
tembakan senapanmu !
ketika ada tangis dibaliknya,
ada satu lara yang tak tertahan,
dibalik kisah tragis semua itu bermula,
walaupun sirna semua,
percayalah ada yang tak sirna,
sakitmu !!!

Jika kita sadari, kehidupan dan interaksi sosial selalu dipandang begitu kompleks dan rumit. Sering kali dalam struktur sosial lahir berbagai pengalaman individu yang mengalami ketersingkiran, ketertidasan, kekecewaan dan perendahan (low-sefl esteem). Konflik atas kekuasaan ini akan melahirkan luka-luka narsistis yang begitu mendalam. Maka ketika seseorang mengalami ketertekanan yang begitu panjang, ia akan merekontruksi pengalamannya tersebut dalam upaya penyesuaian diri untuk meraih harga dirinya dengan berbagai kecenderungan pembetukan maladaptive group, yaitu organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok garis keras. Hal itu didasari adanya akumulasi kekecewaan kolektif yang sudah menjadi bagian dari hidup sosial suatu kelompok masyarakat, baik bersifat kebutuhan hidup (basic need) atau kontruksi pandangan. Kekecewaan ini biasanya akan memicu sebuah kontruksi cara berpikir kolektif, sebagai rangkaian common atau perasaan senasib yang akan melahirkan rangkaian efek domino secara terus menerus.

Kekerasan pun lahir dari pribadi dan komunitas yang mengalami narsistis personal dan terakumulasi secara sosial menjadi sebuah kerangka pikir mengenai mekanisme korban (victim). Maka kekerasan yang terjadi dikaitkan secara mendasar pengalaman sebagai korban yang harus merekontruksi upaya-upaya vendeta atau pembalas dendaman secara habis-habisan (zero sum) . Upaya ini menjadi roda yang tak henti-hentinya untuk berputar membuat ritus-ritus kekerasan tanpa akhir. Pilihan politis menjadi bersifat sangat narsistis sebagai representasi kekecewaan. Pilihan politis pun lahir dari berbagai sikap frustasi yang berkepanjangan, yang akan melahirkan agresi-agresi dan pemberontakan-pemberontakan yang tak mendasar.

Implikasi dari hal ini akan melahirkan sebuah simbol-simbol perlawanan politis yang terkait dengan pilihan untuk mengupayakan banalitas dan penghancuran habis-habisan (zero sum). Maka kepentingan politisnya hanya mengenal satu bahasa, yaitu bahasa banalitas, perlawanan yang hanya mementingkan kontruksi narsitis sebagai korban. Pilihan politis pun berubah menjadi egoisme pengorbanan, dimana tiada lagi empati terhadap kelompok lain, selain kepentingan untuk menghancurkannya. Kontruksinya menjadi daya pembenaran-pembenaran sebagai korban, untuk melegitimasi gerakan dan pilihan politis yang dilakukan

dikembangkan dari berbagai sumber