“What Madonna has given to American culture, and culture throughout the world, is not a collection of songs; rather, it is a collection of images”.
Annalee Newitz
Berbicara tentang Madonna, sebagian orang lebih cenderung “mengolok-olok” daripada menyanjung. Tipikal citranya yang “nakal” dan “menggoda” membawa dirinya dalam balutan subversif bagi budaya patrialkal. Madonna mungkin hanya salah satu ikon “perempuan” yang dianggap sedikit berani menawarkan sebentuk fetish dengan pendobrakan terhadap tradisionalisme dan puritanisme. Namun, karena itulah, ia dianggap cemerlang untuk menghacurkan dari dalam dan meredevinisi segala kekuatan-kekuatan yang cenderung menganggap “tubuh perempuan” dalam balutan fetish, terutama sexual fetishism.
Beberapa kalangan industri seni, mengatakan, Madonna dianggap berhasil membawa a crossing-over in the entertainment industry. Ia dianggap mampu membawa “pencitraannya” dalam industri, baik fashion dan images pop culture yang mempunyai ciri subversif, subculture, dan melintas batas, membawa apa yang dinilai oleh proyek moralitas untuk diredevinisi, diperdebatkan dan dipertanyakan. Kalangan tradisional dan agamamawan dibuatnya kalang kabut, dan tentu miliaran uang diraupnya dari proyek subversif ini. Namun, saya rasa bukan soal uang dan keuntungan industri yang lebih penting, tetapi sebuah refleksi culture studies yang membawa sebuah pencerahan-penceran baru, khususnya pencitraan perempuan. Bagi kalangan akademis, Madonna menjadi salah satu The idiosyncratic female icon of a ‘post-gender’, ia menjadi ikon “post gender”, karena melalui lontaran citra tubuhnya, ia telah mengangkat perlawanan minoritas-lesbian, homoseksual dan perlawanan terhadap kekuasaan budaya mainstreem tradisional. Ia mencoba untuk chose to repeat it ironically, membingkai kembali “citra tubuhnya” yang dianggap “sundal-kepelacuran” , yang tadinya untuk diolok-olok, tetapi sekarang dikemas kembali menjadi medan perlawanan paling strategis (layaknya satire dan parodi-carricatura), baik dalam hal fashion dan citra tubuh perempuan yang merombak segala kekuasaan. Merobak kembali ikon Marlyn Monroe menjadi penggoda yang cantik, menggairahkan, namun menghancurkan siapa saja yang mendekatinya, bahkan kekuasaan fasis laki-laki (baca tradisionalisme). Bahkan, dari namanya pun, Madonna, menelisik sebuah orientasi tentang “perempuan suci”. Membaliknya, layaknya seseorang yang ingin balas dendam dengan kekuasaan patrialkal yang selalu memanfaatkan tubuh perempuan. Tentu, ini bukan persoalan tubuh perempuan, tetapi sebuah pencitraan akan ekspresi diri dan kemampuan untuk menyatakan. Dalam lagunya “Material Girl”, ia dengan jujur dan tanpa segan-segan merayakan kapitalisme tubuh perempuan dengan satire nan parodi, bahkan dalam Like A Virgin dan Like A Prayer, ia cenderung membuat upaya politically correct dalam fetish yang memanfaatkan kemolekan tubuhnya. Sahkah ?, tentu sah bagi dunia industri yang katanya cenderung patrialkal ini. Apakah merendahkan tubuh perempuan ? tentu saja, bagi yang melihatnya dari sisi feminisme filosofis, tetapi penegasannya, Madonna tidak ingin ditiru, ia hanya ingin menantang. Bahkan, ia ingin dirinya sebagai yang “tersalib”, berkurban atas tubuhnya untuk dinikmati, untuk dirasakan dan diraba bagi budaya “hidung belang” yang puritan dan munafik.
Berapa kali Madonna harus dihujat oleh kaum agamawan, khususnya Gereja Katolik, ketika ia menggunakan lambang atau ikon kekatolikan dalam balutan sensual. Namun tak bisa dihindari, Madonna menjadi salah satu ikon generasi X-er , satu sisi dihujat oleh Gereja Katolik, karena membawa bentuk-bentuk subversif atas lambang/ikon gereja Katolik, tetapi di lain pihak memberikan kesadaran dan refleksi, menghubungkan spiritualitas dan seksualitas, menghubungkan dan mengkonfrontasinya dalam gambaran religius. Dalam video Clipsnya Like A Prayer ditampakkan Madonna mencium St. Martin de Porres (mengingatkan tradisi Jumat paskah tentang cium Salib dan intimasi spiritualitas), seorang Santo yang berdarah kulit hitam. Video klip ini ingin memprotes gerakan klux-klux klan, memprotes ketidakdilan kepada orang negro, membawa pembebasan dan keadilan dalam wujud ikonografi kekatolikan dan tentu pergeseran ruang liturgi Katolik yang kuno kepada gerak penthakostalisme yang mulai meraung di seantero jagat.
Madonna tentu fenomenal bagi pencitraan budaya patrialkal. Media tubuhnya selayaknya fetish yang ingin dinikmati, tetapi semakin lama menikmati, semakin orang menyadari “keberdosannya” akan tubuh. Tubuhnya sepertinya menjadi tanda “sin against light”, menyadarkan kembali budaya yang mulai jenuh dengan erotisme dan sensualitas yang tak senonoh. Mungkin Madonna tidak harus dijadikan daftar “Santa” seperti keinginannya yang satire melalui namanya “Madonna” sang perawan suci, tetapi dari tubuhnya itu, ada kesadaran “post-gender” dan ironically, bahkan politically correct layaknya Maria Magdalena membasuh kaki Sang Isa.
Purwono nugroho adhi
Penikmat kerja budaya

